Matahari mulai bergeser ke barat, menandakan sore akan segera tiba. Bima masih berdiri di tepi pantai, tangannya terangkat ke depan sambil berkonsentrasi mengontrol pusaran angin kecil yang melayang di atas telapak tangannya.
"Lebih besar... sedikit lagi..."
Pusaran angin itu perlahan membesar, dari ukuran bola tenis menjadi sebesar bola voli. Keringat mulai mengucur di pelipisnya. Ternyata mempertahankan kontrol tidak semudah yang ia bayangkan. Setiap kali ia kehilangan fokus sedikit saja, pusaran angin itu akan bergetar tidak stabil dan akhirnya buyar.
"Sial... kenapa susah sekali?"
Bima menurunkan tangannya, napasnya tersengal. Tubuhnya terasa lemas. Ternyata menggunakan kekuatan Buah Iblis ini menguras tenaga lebih banyak dari yang ia kira. Padahal ia baru membuatnya selama beberapa menit.
Ia duduk di atas bebatuan karang, menatap laut yang membentang luas di hadapannya. Ombak bergulung-gulung dengan ritme yang menenangkan. Angin laut menerpa wajahnya, dan kali ini ia bisa merasakannya dengan cara yang berbeda.
Ada koneksi. Seperti ia bisa 'mendengar' angin itu berbicara. Merasakan arah alirannya, kecepatan, bahkan temperaturnya. Sensasi yang sama sekali baru dan... menakjubkan.
"Buah Iblis Angin," gumam Bima sambil menatap tangannya sendiri. "Di dunia One Piece, ada Logia, Paramecia, dan Zoan. Yang mana ini?"
Ia mencoba mengingat fragmen-fragmen pengetahuan yang muncul di kepalanya. Kabut ingatan tentang kehidupan sebelumnya masih sangat tebal, tapi beberapa hal tentang One Piece terasa familiar. Seperti informasi yang tersimpan jauh di dalam alam bawah sadarnya.
"Jika aku bisa mengontrol angin... bukan mengubah tubuh menjadi angin... berarti ini Paramecia?"
Bima mengangkat tangan kanannya, menatapnya dengan intens. Ia membayangkan tangannya berubah menjadi angin, menghilang menjadi udara tak terlihat. Tapi tidak ada yang terjadi. Tangannya tetap solid, tetap berbentuk daging dan tulang.
"Bukan Logia kalau begitu. Paramecia yang memungkinkan manipulasi angin."
Ia bangkit berdiri lagi. Kali ini dengan tekad yang lebih bulat. Jika ini benar-benar dunia One Piece, maka ia harus belajar menggunakan kekuatan ini. Dunia ini berbahaya. Penuh dengan bajak laut, monster laut, dan orang-orang dengan kekuatan luar biasa. Tanpa kemampuan untuk melindungi diri, ia tidak akan bertahan lama.
Bima merentangkan kedua tangannya ke samping, menutup mata, dan berkonsentrasi lagi. Kali ini ia tidak mencoba membuat pusaran angin. Ia mencoba merasakan aliran udara di sekitarnya. Setiap hembusan. Setiap pergerakan molekul udara.
Perlahan, ia mulai merasakan sesuatu. Seperti ada jaringan tak terlihat yang menghubungkannya dengan atmosfer di sekitarnya. Ia bisa 'melihat' pola aliran angin, meski matanya tertutup. Angin yang bertiup dari laut ke darat. Angin yang berputar di sekitar batu-batu karang. Angin yang melewati celah-celah pepohonan.
"Luar biasa..."
Ia membuka mata perlahan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Dengan gerakan tangan yang halus, ia mencoba mengarahkan aliran angin. Seperti seorang konduktor yang memimpin orkestra, tangannya bergerak dengan anggun, dan angin mengikuti arahannya.
Hembusan angin berubah arah, bertiup dari kiri ke kanan sesuai dengan gerakan tangannya. Kemudian berputar, membentuk lingkaran kecil. Naik ke atas, turun ke bawah, menyebar, berkumpul.
"Ini... ini menakjubkan!"
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Bima merasa ada tujuan. Ada sesuatu yang bisa ia kejar. Kekuatan ini... ia harus menguasainya.
Tapi perutnya kembali berbunyi. Kali ini lebih keras.
"Kruyuuuuk!"
Efek kenyang dari Buah Iblis tadi sudah habis. Rasa lapar menyerang kembali, kali ini lebih brutal. Bima hampir terjatuh, lututnya lemas.
"Harus... mencari makanan... yang betulan..."
Ia menatap ke arah hutan lebat di belakangnya. Jika ini pulau, pasti ada sumber makanan di sana. Buah-buahan, air, mungkin hewan buruan. Ia harus masuk ke dalam dan mencari.