"Lama bangat kalian berdua!" bentak kecil Lusia pada dua adiknya terus ditarik berjalan susuri jalan setapak.
"Tapi tadi benaran, Kak. Aku melihat ada orang dibelakang , Kakak," sahut Soga perhatikan sekitar.
Norah, wanita pemilik rumah berdiri dibelakang samar terbalut gelap berdiri sambil, tangan kanannya mengepal erat gagang kapak berbilah tajam.
"Kak, itu dibelakang." ujar Danu sempat menoleh kebelakang sambil menarik tangan kirinya Lusia terhenti langkah jalannya.
"Danu!" sahut Lusia kesal.
"Itu, Kak." sahut Danu berbalik belakang hanya sepi didepan rumah hanya samar cahaya bercampur gelap mencekam.
"Tadi aku lihat, seperti ada orang berdiri disitu." jawab Danu ketakutan dimarahi lagi oleh Lusia, Danu kesal berjalan duluan cepat dikejar Soga.
Lusia kembali berjalan, keluar Norah dari balik gelap malam. Tangan kanannya mengarahkan ujung kapak pada Lusia merasakan seperti suara derap langkah.
Diam-diam dari belakang mobil, sudah berdiri lelaki yang mungkin saja dia tadi sudah sengaja meletakan kayu besar ditengah jalan untuk menghalangi jalannya mobil.
Lirikan mata sinis dari balik gelap, tidak tampak jelas wajah lelaki itu perhatikan kedalam mobil. Bimo dan Dinar terlelap tidur sebentar, kepalanya disandarkan pada headrest jok mobil.
Tatapan dua mata sinis, makin tidak jelas wajahnya tapi kelihatan sangat marah sekali lelaki itu. Ujung parang lancip tanjam sontak diarahkan pada ban mobil bagian kanan belakang. "Brubssss" terdengar kecil suara angin ban mobil keluar.
Lirikan dua mata lelaki itu melihat kedatangan Soga dan Danu yang membuka pintu bagian sisi kanan, lalu pelan-pelan lelaki itu mundur dan pergi ditelan gelap malam.
"Ayah ... Bunda ..." teriak Danu buka pintu dan naik kedalamn mobii diikuti Soga.
"Kakak kalian mana?" terjaga bangun Bimo menyolek bahu kanan Dinar terjaga bangun juga.
Ujung kapak hampir mendarat pada bahu kanannya Lusia cepat berbalik tapi hanya sepi gelap dibelakangnya. "Hihhh! Aneh deh! Tadi gua kayak dengar suara derap langkah orang berjalan," guman Lusia berbalik jalan lagi.