One Scary Night

Herman Siem
Chapter #5

Terjebak Dalam Mobil

"Brug" pintu ditutup Bimo, lalu dirinya berjalan pelan kesamping kanan mobil. Langkah Bimo terhenti belum sempat membungkuk melihat ban mobil yang kempes.

"Kresek" suara patahan ranting terinjak. Pandangan Bimo tertujuh pada sisi kanan semak belukar hanya kelihatan gelap saja. Dibalik semak berdiri Norah dengan tatapan dua matanya sangat marah sekali, mungkin dirinya hanya ingin minta kembali cincin berlian yang dicuri Lusia.

Semakin dekat langkah Bimo makin penasaran ada apa dibalik semak belukar itu, makin tinggi ujung kapak tajam akan mengarah pada kepalanya Bimo. Ayunan dua tangan Norah kebawah, ujung kapak hampir mengenai kepala Bimo berbalik cepat.

"Ayah ..." panggil Lusia sudah berdiri disamping sisi kanan ban belakang mobil yang memang sudah kempes sekali. Ayunan ujung kapak terhenti tidak jadi membela kepala Bimo cepat berbalik menghampiri Lusia duduk jongkok berapa kali tangannya menekan-nekan bagian ban memang sudah habis anginnya.

"Bannya kempes, Yah." ucap Lusia beranjak bangun perhatikan sekitar gelap mencekam. Sementara Dinar masih duduk disisi jok kiri, wajahnya makin dipengaruhi rasa takut berusaha tenangkan Soga dan Danu.

"Bunda?" teriak kecil Soga ketakutan.

"Bunda, aku takut." sambung Danu ketakutan perhatikan samar-samar keluar mobil Bimo dan Lusia berdiri disamping mobil.

"Kalian berdua tenang dan tidak usah takut ya. Kalian lebih baik tidur saja," sambil menoleh kebelakang Dinar berusaha hilangkan rasa takut pada Soga dan Danu ingin tidur tetap saja tidak bisa.

Dinar ingin tidur tapi rasanya tidak bisa, karena sejak dari tadi perasaannya tidak enak makin banyak cemasnya.

"Ban serapnya juga kempes, Yah," sambil setengah masuk tubuhnya Lusia kekolong mobil, tangan kanannnya menekan-nekan ban serep yang kempes juga.

"Kok bisa kempes juga? Padahal sebelum berangkat, semuanya sudah Ayah cek, Lus." bingung juga Bimo perhatikan kebelakang jalan hanya sepi saja, sementara sinar bulan makin tidak mau lagi menyinari sinar cahaya karena makin banyak ditutupi segumpalan awan hitam.

Makin tercekam, makin ketakutan semuanya, rasanya mereka terjebak yang tidak bisa kemana-mana. Padahal jarak rumah Tari, mungkin tidak terlalu jauh bila dengan mobil, tapi bila berjalan kaki tidak mungkin. Karena sudah malam, pastinya sangat berbahaya sekali dan baru kali ini Bimo juga melintasi jalan yang tidak tahu sekarang berada dimana.

"Itu gara-gara batang pohon itu, Yah yang melintang dijalan tadi. Kalau tidak ada batang pohon itu. Kita sudah sampai dirumah Nenek!" gerutu kesal Lusia tidak terima sambil menggaruk kepalanya mungkin makin stres dan pusing.

Sekelebat dua mata Dinar perhatikan diluar ada pergerakan, dirinya ingin sekali turun dari mobil tapi takutnya terjadi sesuatu pada Danu dan Soga yang mulai bisa tertidur pulas. Makin jelas dibalik semak belukar bergerak seperti ada yang berjalan mendekati.

"Siapa disitu?" suara pelan Dinar sambil menekan tombol kaca otomatis turun. Wajah Dinar makin melongok keluar, tapi semak belukar tidak terlihat bergerak lagi hanya terlihat gelap saja. Tangan kiri Dinar tidak jadi saat akan menekan tombol kaca otomatis saat kembali lagi semak belukar bergerak.

Dinar makin ketakutan berapa kali sampai salah tekan tombol tapi kaca tidak naik tertutup. Makin ketakutan Dinar saat makin jelas terlihat Norah berjalan mendekati sambil dua tangannya mengayunkan ujung kapak.

"Uahhhhh ..." teriak Dinar ketakutan kali ini jari kirinya berhasil menekan tombol kaca naik tertutup otomatis.

Lihat selengkapnya