One Scary Night

Herman Siem
Chapter #6

Hanya Gelap & Mencekam

"Brug" sekali ayunan ujung parang merusak terminal gardu bts, Base Transceiver Station atau disingkat bts adalah sebuah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara peranti komunikasi dan jaringan operator.

Peranti komunikasi penerima sinyal bts bisa telepon, telepon seluler, jaringan nirkabel sementara operator jaringan yaitu menerima sinyal radio keperangkat mobile.

Terminal gardu bts mengeluarkan percikan api disertai asap membakar, setelah dirusak Rojak tersenyum sinis melirik menara bts yang masih berdiri, tapi karena terminal bts sudah terbakar, pasti siapapun akan sulit untuk melakukan panggilan keluar masuk telpon seluler.

Berbalik Rojak berdiri belakangi terminal gardu bts dikelilingi jeruji besi, lirikan sinis dua matanya kearah gembok sudah rusak. Bts, dilereng perbukitan, sengaja dibangun salah satu provider untuk melancarkan komunikasi. Kepulan asap makin terlihat membumbung tinggi, api makin membakar seluruh komponen dan kabel isi dalam terminal bts.

Makin khawatir dan cemas, Tari baru saja membuka pintu dan berdiri didepan selasar halaman rumah. Wajahnya perhatikan asap pekat hitam membumbung terangkat keatas langit.

"Kenapa Bimo dan lainnya belum sampai juga mereka?" guman cemas risau dalam hatinya Tari masih perhatikan asap pekat makin membumbung tinggi keatas langit.

"Semoga mereka baik-baik saja dan lekas sampai kesini." guman Tari berbalik jalan masuk dan menutup pintu rumahnya. Pelan-pelan dari dalam gelap, muncul Norah berdiri didepan rumah. Raut wajahnya penuh amarah dan dendam sambil tangan kanannya mengarahkan kapak.

Dari balik jendela, kelihatan tirai warna birunya tersingkap. Berdiri Tari masih cemas perhatikan depan rumah, tapi kali ini tidak lagi terlihat Norah tadi berdiri didepan rumah. Makin kelihatan wajah kecemasan Tari lalu menutup lagi tirai jendela.

"Ayah aku takut." ucap Soga dua kakinya merangkak naik keatas jok barisan depan, lalu terduduk disamping Lusia menahan marahnya.

"Hpku jatuh dimana ya? Kok bisa hilang?" guman Danu masih mencari-cari ponselnya dikolong jok mobil.

"Danu! Ini orang lagi pada ketakutan! Kamu sibuk nyari hp! Gini nih kalau kegandrungan main games, kehilangan hp aja kayak orang mau mati!" kesal juga Lusia jengkel bentak pada Danu sontak terdiam tidak terima dimarahin Lusia menggaruk kepalanya lagi makin kesal.

"Jadi giman ini Yah, Bun? Masa kita harus tetap berada disini aja sampai pagi!?" lagi-lagi Lusia makin kesal tidak tahu lagi harus berbuat apa. Yang tidak mungkin hanya diam-diam berada dalam mobil saja.

"Kamu'kan tahu Lusia. Ban serep mobilnya juga kempes," jawab Bimo juga mulai bingung perhatikan Dinar masih ketakutan hanya terduduk saja disampingnya.

"Yah, apa kita harus disini terus sepanjang malam ini?" tanya pelan Dinar menoleh pada Bimo, sontak Lusia, Danu dan Soga terdiam sedih.

"Bun, Bunda jangan sedih gitu dong," cepat Lusia dekatkan wajahnya kedepan dua tangannya merangkul wajahnya Dinar sedih dan ketakutan.

"Kita harus tetap bersama-sama dan kita harus saling menjaga satu sama lainnya." makin erat rangkulan dua tangan Lusia, lalu tangan kanannya menyeka air mata Dinar.

"Brug ... Brak ..." suara batu mendarat dikaca samping kanan mobil retak.

Lihat selengkapnya