One Scary Night

Herman Siem
Chapter #8

November 1999

Semua terduduk hening diam dalam mobil, tombol otomatis lupa centralnya ditekan Bimo, padahal hanya sekali tekan saja semua pintu tertutup otomatis.

Raut wajah diam semua makin tercekam, kuping mulai mendengar dan mata mulai perhatikan Bimo terduduk akan bercerita. Tapi rasa takut dan cemas tetap tidak bisa mencair dari rasa takut dan ancaman yang setiap saat datang tiba-tiba menyerang.

Dua mata Dinar masih sibuk melirik kiri kanan depan dan sekitar, walau kuping kanannya siap jadi pendengar apa yang akan di ceritakan Bimo sesaat melempar senyuman bercampur sedih pada ketiga anaknya. Soga dan Danu kini duduk bertiga pada jok barisan dua bersama Lusia tangan kanannya begitu sayang sekaligus merangkul adik-adiknya.

Sementara diluar mobil, makin tampak gelap dan tercekam tidak adalagi cahaya sorot lampu mobil menerangi depan dan belakang mobil. Hanya suara halus mesin, nyaris tidak terdengar bisingnya. Tapi dari balik semak tidak jauh dari belakang mobil, berdiri Norah berjalan pelan mendekat menyelinap dibalik pohon. Dua matanya masih penuh amarah dan dendam, dua tangannya penuh amarah pegang mesin pemotong kayu {chainsaw} dalam keadaan mati.

Hanya senyuman sinis berwajah seram seraya teringat sesuatu. Dua matanya mulai berkaca-kaca sedih, tandanya hati perasaannya ada yang tertahan selama ini tentang kenapa dan sebabnya dirinya bisa jadi seperti sekarang ini. Sinar cahaya rembulan kini tampak terlihat riang, sinar cahayanya tidak lagi terhalangi segumpalan awan hitam, tapi terasa langit ikut terharu dengan kesedihan yang kian terpendam pada raut wajahnya Norah.

Flash Back

"Tidak bisa! Saya sudah sangat bersabar pada kalian! Lihat itu proyek jalan bebas hambatan terhenti hanya kalian tetap tidak mau pindah dari rumah ini! Padahal'kan, kalian tahu. Bila rumah yang kalian tempati, tanahnya adalah milik perusahaan kami!" makin tidak sabar dan tidak bisa meredam amarahnya Bimo terus menyalahi Norah yang ketika itu masih berumur 5 tahun hanya merangkul sedih kaki Wati.

Bimo yang saat itu masih muda dan berkerja sebagai manager project jalan bebas hambatan, sebenarnya dirinya juga tidak tega. Karena desakan atasannya, dirinya terpaksa harus mengusir semua warga yang tinggal mendirikan rumah diatas tanah perusahaan.

"Om, nanti kami harus tinggal dimana?" rajuk Norah menghampiri Bimo sontak duduk jongkok sambil tangan kirinya melepaskan helm kuning lalu dipakaikan pada Norah tapi masih sedih bercampur risau.

"Kamu tidak perlu takut, karena kami sudah membangun, pengganti rumah untuk kamu tinggal," jawab Bimo mengelus wajah mungil Norah melirik Wati menghampiri dan berdiri disamping Norah.

Lihat selengkapnya