One Scary Night

Herman Siem
Chapter #9

Masih Membekas

Flash Back

"Akhhhhhh ..." teriak marah Rojak.

"Prang ... Prug ..." suara pecahan kaca jendela yang tidak tahu apa-apa tersabet parang tajam. Tatapan sinis dua mata Rojak perhatikan rumah pengganti yang cukup bagus tapi tidak terlalu besar.

"Buat apa aku menempati rumah ini? Tapi tidak ada kamu, Wati!" sedih duduk berdeku Rojak didepan rumah, kaca-kaca jendela hancur berserakn dilantai.

"Uahhhhhh ..." teriak lagi Rojak membabi buta mengarahkan parang pada daun pintu, kursi dan meja dan semua barang perabotan tidak luput dari tajamnya parang dan kemarahan Rojak untuk merusak rumah pengganti pembebasan jalan tol.

Hanya sedih Norah berdiri tidak kuasa dan melerai melerai Rojak, Ayahnya yang sangat marah sekali. "Ibu" guman Norah sambil mengecup cincin berlian dari jari manis.

"Huhhaaaaaa ... Brug ... Prang ... Pring ... Prug ..." suara teriakan dan pecahan perabotan mungkin sudah hancur berantakan makin didengar sedih Norah berdiri didepan rumah.

"Ayah" suara panggilan kecil Norah berdiri dibelakang Rojak menahan gagang parang bergetar ditangan kirinya.

Hanya sedih Norah seraya ingin melerai Rojak pelan-pelan berbalik. Mungkin harapan Norah pada Rojak agar tetap menerima kenyataan dan bersabar. Sontak terkejut mundur berapa langkah kebelakang Norah, saat parang kini diarahkan pada dirinya.

"Norah ... Norah ..." seperti kerasukan setan, Rojak seakan ingin membelah kepala Norah ketakutan berlari keluar tidak tahu kemana. Norah tahu persis bila sebelum kematian Wati, Rojak sebegitu sangat sayang pada dirinya.

"Uahahhha ... Hahahahah ..." suara tawa Rojak terdengar menakutkan, Norah terus berlari susuri semak belukar lereng perbukitan yang tidak berujung beratap langit malam gelap.

Sedih Norah masih berdiri dibalik pohon besar tidak jauh dari mobil, sinar cahaya rembulan tidak lagi menerangi semesta terasa sunyi hanya gelap mencekam. Hanya sedih berkaca-kaca dua matanya, seraya telah kembali teringat kejadian masa belasan tahun silam saat dirinya masih berumur 5 tahun.

Hanya tatapan kebencian dan kemarahan Norah, dua tangannya masih pegang mesin pemotong kayu lalu berbalik keluar dari balik pohon. Kira-kira 5 meteran jarak dirinya berdiri dibelakang mobil.

"Masih membekas rasa bersalah Ayah pada mereka, saat itu Ayah ingat benar bila bulan itu, bulan November 1999," sedih merasa bersalah Bimo setelah menceritakan kejadian sebenarnya apa yang sesungguhnya tengah terjadi saat itu.

"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka. Ayah hanya menjalankan tugas saja ketika itu. Pastinya sekarang Rojak dan Norah marah pada Ayah." makin merasa bersalah Bimo dua matanya sedih berkaca-kaca menahan deraian tetesan air mata.

"Ayah ngak salah kok. Ayah cuman ngejalanin tugas saja'kan," sahut Lusia prihatin juga pada Bimo.

Lihat selengkapnya