Malam tidak lantas akan cepat berganti siang, malam terasa sangat panjang dan tidak tahu kapan berujung dengan segera berganti siang pastinya akan tersuguhkan kenikmatan keindahan alam yang begitu akan terasa bikin hati kita tentram dan nyaman, tidak seperti malam ini yang terasa mencekam dan menakutkan.
Gelap makin mencekam, sinar cahaya rembulan tidak mau lagi menyinari semesta alam. Rasanya sinar cahaya bulan malam mulai lelah lelap dalam tidur sesaatnya, ketika datang senja tiba sinarnya terus memancar.
Pohon hanya berdiri tegak terbalut rindang dedaunan yang mengusir rasa dingin membalutnya semakin hangat relung panjang batang pohon Suara sautan binatang malam penghuni hutan lereng perbukitan, jadi bukti bila malam tidak akan cepat berganti siang.
"Ayah ... Bunda ..." buliran peluh makin bebas bermain pada wajahnya Soga napasnya mulai sesak karena pengap dan tercekam ketakutan.
"Danu! Cepat kamu cari obat inhalernya, Soga!" panik terucap dari Dinar rada sulit dirinya menjangkau kebelakang hanya menoleh saja.
"Iya. Iya, Bun." sigap Danu dua tangannya mulai masuk kedalam tas salam gelap. Tidak tahu apa yang sedang dicari Danu dalam tas ransel kecilnya Soga. Hanya gelap saja, ponsel dan berapa batang coklat dikeluarkan dari dalam tas.
"Danu ada ngak?!" kesal Lusia menarik tas dalam gelap, sontak dua tangan Danu sedikit menahan sakit saat tas ransel ditarik paksa Lusia.
"Iihh! Sakit tanganku, Kak!" gerutu Danu tidak senang melirik kesamping kaca hanya gelap saja terlihat.
"Soga tadi kamu bawa tidak inhalernya?!" isi tas sudah kosong, kesal panik Lusia rampas ponsel dari tangan Danu.
"Danu! Jangan main games terus! Kamu ngak lihat kalau Soga asmanya lagi kumat!" bentak Lusia hidupkan lampu plash ponsel.
"Kak, aku sesak bangat." ucap Soga saat wajahnya disorot lampu blitz ponsel.
"Ya, gimana ini? Soga ngak obatnya?" sahut Lusia perhatikan didepan mobil.
"Ayah ... Itu ...? " teriak Lusia arahkan lampu blitz ponsel kedepan mobil.
"Uahhhhhh ..." teriak semua barengan ketakutan terkejut semua mata melotot ketakutan kedepan.
Norah sudah berdiri diatas kap mesin mobil. "Ngungg ... Ngunggg ..." gerigi tajam gigi mesin pemotong kayu berjalan seram kearah kaca mobil depan.
"Ayah ..." teriak Danu ketakutan memeluk Lusia rada sesak karena dalam mobil makin pengap.
"Bunda, aku sesak sekali," ujar Soga kayaknya tidak merasakan takut, yang ada napasnya malahan bertambah sesak. Walau tadi ban mobil kempes, tapi mesin mobil masih hidup tidak sekarang ini. Mesin mobil mati, otomatis ac dalam mobil mati dan makin terasa pengap dan makin terasa sesak bagi Soga.
"Truktuk ... Trukk ..." suara gerigi tajam mesin pemotong kayu makin bikin kaca retak, ketakutan semuanya.
"Ayah bagaimana ini?" tanya tapi seraya membentak Dinar ketakutan, tapi Bimo juga tidak bisa apa-apa hanya duduk ketakutan.