Tari makin gelisah saat berapa kali wajahnya mengikuti kata dua matanya melihat kearah jam dinding sudah pukul 10.15 malam.
Raut wajahnya cemas dan gelisah, tidak terasa cepek pegel pinggangnya hampir 3 jam lamanya dirinya terduduk menunggu dikursi. Wajahnya terus memandangi pintu yang tertutup dan jendela terbuka tirainya hanya tampak gelap saja diluar.
Berkali-kali tangan kanannya tidak lepas dari senapan laras panjang, mungkin saja senapan laras panjang itu untuk menjaga dirinya saja.
Tatapan sinis gelisah perlahan beranjak bangun, cengkraman jari tangan kiri Tari meraih ujung moncong senapan laras panjang.
Firasat Tari sejak berapa minggu ini memang tidak enak. Senapan laras panjang jadul peninggalan Iskak, suaminya Tari yang belum lama meninggal dunia tidak jelas kematiannya.
Makin dekat langkah Tari mendekati pintu, firasat makin kuat bila didepan pintu ada seseorang yang belakangan ini selalu menganggu dirinya. Terasa hidupnya makin terusik dan terganggu.
Ujung laras panjang siap-siap di muntahkan peluru panasnya, saat bidikan mata kanannya tetap berada berhadapan dengan teropong kecil terlihat nyata kearah pintu dan telunjuk jari tangan kanannya siap menarik pelatuk dan tangan kirinya menyeimbangi pegang setengah selongsong kecil laras panjang.
Benar dugaan gelisah dan kecemasan Tari bukan hanya isapan jempol belaka saja. Sudah berdiri Rojak depan pintu, dua matanya penuh dendam dan amarah. Tangan kanannya makin meradang tidak bisa menahan emosi terhasut ujung parang untuk menancapkan pada daun pintu.
"Doorrrr ..." sekali telunjuk jari tangan kanan Tari menarik pelatuk, sontak muntah peluru panas keluar melesat berlari secepat kilat dari dalam selongsong panjang dan melesat keluar terbang terbawa angin.
"Bruk" peluru panas menembus daun pintu berlobang dibarengi tangan kiri Tari meraih handle pintu terbuka.