Dinar turun dari mobil sedikit melongok kedepan, bemper mobil ringsek menubruk pohon besar, hanya gelap dibalik semak belukar. Sedikit cahaya sinar rembulan menerangi, tapi tidak seterang hatinya Dinar yang masih terasa gelap tercekam ketakutan dan kematian yang setiap saat bisa menjemputnya.
Lusia membuka pintu bagasi belakang lalu diambilnya tas koper lalu diangkatnya dan kembali lagi pintu bagasi belakang tertutup. Tas koper diletakan Lusia begitu saja, sampai lupa membukanya saat turun Soga dan Danu dari mobil dan cepat dipeluk Dinar.
"Bunda" ucap Soga dan Danu masih dirundung ketakutan dalam pelukan hangat Dinar melirik Bimo dan Lusia begitu saja meletakan tas koper masih disamping mobil sisi kanan.
"Mungkin dengan adanya kejadian ini, kita bisa berkumpul kayak sekarang ini. Biasanya buat ngumpul saja kita-kita sudah, karena pada sibuk dengan kegiatan kita masing-masing. Danu dan Soga sekolah sibuk sekolah pergi pagi pulang sore, setelah itu mereka sibuk dengan pelajarannya dan Danu sibuk dengan games onlinenya," tutur tersenyum Lusia walau masih dalam bayangan mencekam.
"Ayah dan Bunda sibuk ngurusin kerjaan. Dan aku sibuk kuliah, apalagi kalau udah sama Edwin." sambung Lusia berdiri disamping Bimo tersenyum kecil merasa bersalah. Mereka seakan sebentar terbebas dari ancaman kematian Rojak dan Norah karena November 1999, sampai tidak tahu tas koper yang disamping mobil sisi kanan perlahan seperti bergeser pelan.
"Iya, iya Kak. Aku janji ngak bakalan main games lagi," akui Danu sambil tertawa kecil saat diajak bercanda Lusia.
"Bunda janji bakalan banyak luangin waktu buat kalian deh." tersenyum sedih Dinar memeluk ketiga anaknya dalam rentangan dua tangannya.
"Ayah juga bakalan banyak luangkan waktu buat kalian. Ayah janji." sahut Bimo lantas ikut memeluk juga, terasa mereka makin lupa kalau bahaya sedang mengintai walau hampir dua mata mereka masing-masing sedih terasa berat untuk menahan tetesan bendungan rintik air mata, sejenak mereka bisa melupakan ketakutan.
Isi dalam tas koper makin tidak karuan, padahal itu perbekalan makanan selama berada di rumah Tari. Tapi nyatanya Norah merusak semua makanan dan di keluarkan dari dalam tas koper berserakan dibelakang mobil. Hanya ada marah makin tersirat diraut wajahnya Norah, dua tangannya penuh bercak darah memindahkan banyak bangkai kelinci kedalam tas koper. Tas koper kembali tertutup lalu didorong lagi kearah sisi kanan mobil.
"Bunda, aku lapar." kata Soga kelihatan sesak napasnya sedikit hilang.
"Kamu lapar, Ga? Kakak pikir kamu tidak lapar," ledek Lusia mendekati tas. Ditarik saja handle tas koper tanpa sadar Lusia bila reseletingnya tidak tertutup rapat. Mulai sadar Lusia saat tangan kanannya menarik reseleting tas koper terasa loncer.
Danu dan Soga tersenyum membungkuk sudah tidak sabaran mereka berdua untuk berebutan makanan kesukaannya. "Uahhhhh ... Akhhhh ..." teriak Soga Danu terkejut ketakutan dan Lusia terkejut mundur terjatuh duduk melihat banyak bangkai kelinci dalam tas koper.
"Ayah ..." jijik dan ketakutan Soga memeluk Bimo keningnya berkerinyit bingung.