"Sering Ayah peringatkan Kakek, agar tidak bermain api dengan Wati. Memang Wati tidak pernah meladeni Kakek. Sampai suatu hari Ayah sendiri melihat Wati bersedih mengadu pada Ayah, bila keinginan Kakek menikahi dirinya semakin kuat. Tapi Wati tidak lantas mau menerima Kakek, karena Wati masih sayang mencintai Rojak dan Norah, anaknya. Tapi paksaan Kakek terus melobangi kesetiaan hatinya Wati, sampai suatu hari Wati pernah ditiduri Kakek." semua terdiam duduk bersila melipatkan dua kakinya mendengarkan cerita Bimo sedikit sedih, dua matanya seakan tidak mau kembali mengingat masa lalu itu.
"Sampai rumah dibuatkan Kakek, karena Kakek tahu bila rumah yang sebelumnya ditempati Wati, Rojak dan Norah saat itu Ayah paksa gusur untuk pembebasan jalan tol. Sampai akhirnya Rojak tahu dengan perbuatan jahat Kakek, saat Wati siang itu mengadu bercerita pada Ayah. Rojak marah memaki-maki Ayah dan lebih marahnya Rojak sampai menyiksa menyeret Wati dihadapan Ayah." beranajak bangun Bimo menyesal bila kejadian ini bersumber dari perbuatan jahat Iskak, Ayahnya yang kini juga sudah tiada.
"Ayah tahu, Lusia. Cincin berlian yang kamu pakai itu, bukan cincin kamu'kan?" rada duduk jongkok Bimo tersenyum berhadapan dengan Lusia langsung jari manisnya di sembunyikan kebelakang.
"Lusia?" ucap Dinar beranjak bangun menarik tangan kirinya Lusia ikut terbangun dan berdiri.
Hanya sunyi dalam gelap mencekam, samar wajah mereka terlihat masing-masing yang terbias sedikit sinar cahaya rembulan malam menyusup masuk rerimbunan celah daun pohon rindang. Kapan waktu ancaman kematian siap-siap datang menjemput mereka, kiri kanan pintu mobil terbiarkan terbuka untuk menjaga kapan waktu ancaman Rojak dan Norah datang, mereka bisa naik kedalam mobil.
"Ayah mulai ingat, Lusia. Dengan jalan setapak tadi, saat kamu mengantarkan Soga dan Danu buang air kecil, itu dulunya jalan kearah rumahnya Wati." tandas Bimo makin yakin melirik lagi cincin berlian yang tersemat pada jari manisnya Lusia sontak sedih.
"Maafin aku, Ayah." sedih merasa bersalah Lusia memeluk Bimo terharu.
"Ayah ingat betul, Lusia saat November 1999, ketika Ayah mengejar Wati untuk menghalau Norah berusaha menghalangi excavator itu agar tidak menghancurkan rumahnya. Sampai akhirnya Wati yang malahan membayar nyawanya demi menyelamatkan Norah agar tidak tergilas roda tajam excavator. Dengan tatapan amarahnya Norah menyalahkan Ayah. Ayah tahu betul Lusia, bila cincin berlian yang kamu pakai itu adalah kepunyaan Norah, karena saat dia menatap sinis pada Ayah. Ayah melihat dijari manisnya memakai cincin berlian itu." terasa makin lengkap cerita Bimo sambil melirik pada Soga dan Danu makin tercekam ketakutan.
"Kak, baiknya kembalikan saja cincin itu," pinta Danu beranjak bangun mendekati Lusia melirik pada Soga.
"Benar Kak. Mungkin Norah marah, karena Kakak sudah mencuri cincin berlian miliknya itu." ditimplai Soga menarik jari manisnya Lusia terdiam sesaat akan melepaskan cincin berlian tidak jadi.