One Scary Night

Herman Siem
Chapter #14

Senapan Laras Panjang

"Tok ... Tok ..." kepalan kecil tangan Edwin habis mengetuk pintu sambil melirik kanan kiri selasar halaman rumah hanya sepi saja. Moge hitam strip merah masih setia menunggu di belakangnya Edwin masih menunggu di bukakan pintu dari dalam.

Tatapan sinis dua mata Tari memandang pintu yang tidak lagi terdengar ketukan pintu. Pistol revolver kecil terus siap-siap akan di muntahkan peluru panasnya bila didepan pintu itu Rojak kembali mengusik dirinya lagi.

Lebam luka masih meninggalkan bekas pada keningnya dan kali ini pelatuk revolver kecil siap-siap tertarik kebelakang oleh telunjuk jari tangan kirinya Tari makin dekat berdiri depan pintu.

"Nek, Nenek ... Ini saya. Saya, Edwin." terdengar suara yang dikenal Tari cepat buka pintu.

"Nek?" mundur terkejut Edwin saat ujung pistol revolver kewajah Edwin.

"Nek. Ini saya, saya Edwin?" sambil melongok kedalam hanya sepi. "Lusia mana, Nek?" tandas bertanya Edwin kenapa sepi didalam ruangan tengah, biasanya ramai sekali dengan canda tawa Soga, Danu dan Lusia.

Hanya terdiam Tari berbalik masuk diikuti langkah penasaran ragu Edwin dari belakang. "Dia datang kembali, Edwin." lagi-lagi Edwin mundur ketakutan saat Tari tiba-tiba berbalik mengarahkan lagi pistol kewajahnya.

"Nek ada apa ini sebenarnya? Mana Lusia dan lainnya?" tanya Edwin sambil turun ujung pistol revlver malahan Edwin terdorong minggir kekiri bingung.

"Doorrr ..." peluru panas muntah meleset kearah Norah yang sejak tadi berdiri didepan pintu.

Berbalik Edwin terkejut sekelebat melihat bayangan berlari. "Tunggu ... Siapa kamu ..." teriak sambil mengejar Edwin tapi sudah keburu jauh berlari Norah ditelan gelapnya malam.

"Nek?!" ucap Edwin makin bingung perhatikan kening dan jari tangan kanannya Tari.

"November 1999 lalu telah datang kembali membawa ancaman kematian, Edwin." tidak jelas ucapan Tari makin bingung Edwin membelokan ujung pistol kesamping kiri.

"Sepanjang bulan November 1999, kesedihan dan kematian menimpa keluarganya Norah, gadis yang baru saja lolos dari peluru panas ini. Sepanjang bulan November 1999, Bimo waktu itu berusaha untuk menggusur rumahnya Norah. Diam-diam Iskak, Kakeknya Lusia menyukai Wati, istrinya Rojak. Kini Rojak dan Norah kembali menuntut dendam karena kematian Wati. Dendam Rojak dan Norah mulai menggugurkan satu-satu nyawa dari kami, Edwin. Salah satunya kematian Iskak, Kakeknya Lusia, adalah perbuatan Rojak." cerita Tari sambil terduduk berhadapan Edwin masih bingung.

"Bimo dan lainnya sekarang mereka berada diantara gelapnya lereng perbukitan ini. Mereka pastinya sekarang sedang terancam ketakutan karena rencana jahatnya Rojak. Pergi dan selamatkan mereka, Edwin." beranjak bangun Tari sambil berikan pistol revolver kecil pada Edwin masih sedikit ragu.

"Bunda?" lirikan mata Bimo pada Dinar tahu masksud segera menarik masuk Danu dan Soga kedalam mobil.

Lihat selengkapnya