"Ayah ... Bunda ..." teriak Danu dorong pintu, sontak Dinar mendekati.
"Bun, Bunda ... Soga ...?" teriak lagi Danu cepat turun dari dalam mobil saat naik Dinar kedalam mobil.
"Auw!" menahan sakit Dinar tetesan darah makin banyak keluar.
Soga hanya terduduk diam saja rada miring duduknya, napasnya makin sesak raut wajahnya makin pucat dengan bulir peluh makin menguras habis energi dalam tubuhnya. "Soga ..." teriak sedih cemas Dinar dan menahan sakit pada lengan tangannya kanannya.
Diam-diam merangkak mundur Rojak masih menahan sakit, dua matanya masih meradang marah perhatikan Lusia dan Bimo masih sibuk cemas didepan pintu samping mobil. "Danu pegang ini!" mesin pemotong kayu di berikan pada Danu sedikit rada berat menanggapinya saat Lusia naik kedalam mobil dan menarik keluar Soga.
"Soga" makin cemas Bimo cepat duduk jongkok saat Lusia baringkan Soga disamping mobil beralas dedaunan kering.
Menahan sakit dan makin lemas Dinar hanya terduduk saja pada barisan jok kedua, wajahnya sedih hanya melirik keluar. Betapa cemas dan khawatirnya Bimo dan Lusia berapa kali bibirnya ditempelkan memberikan napas buatan pada Soga.
"Soga, bangun Soga." setelah berapa kali bibirnya Lusia didaratkan pada mulutnya Soga. Makin panik sedih Lusia, senapan laras panjang di geletakan begitu saja oleh Bimo disampingnya. Soga tetap saja tidak mau bangun dua tangan Bimo cepat memeluknya.
"Soga bangun, bangun Soga," guman sedih Bimo mendekap erat Soga wajahnya makin pucat.
Malam makin panjang tidak tahu kapan berujung berganti cepat siang, hanya gelap makin mencekam. Sinar cahaya rembulan malam seraya menyingkir lagi tidak tahu apa apakah dia sedang berempati atau sedang dalam ketakutan dengan banyak sekali ancaman.
"Ayah, lihat Bunda tuh." sedih kesal Danu lalu di lemparkan saja mesin pemotong kayu begitu saja. "Bunda ..." teriak panggil Danu naik kemobil memeluk Dinar makin banyak keluar darah berceceran basahi jok mobil.
"Bunda, Bunda ..." makin bingung cemas Lusia cepat mendekati Dinar wajahnya pucat banyak kehilangan darah.
"Danu cepat ambil kotak P3K dibagasi belakang," pinta Lusia cepat memapah kepala Dinar agar terbaring saja pada jok mobil, pelan-pelan dua kakinya di lonjorkan pada sisi kiri pintu mobil, sedikit menekuk kakinya.