One Scary Night

Herman Siem
Chapter #17

Kedatangan Edwin

Lusia tahu bila dirinya akan kembalikan cincin berlian kepunyaan Norah, tidaklah mudah dan pastinya nyawanya akan terancam. Tengki bahan bakar mesin pemotong kayu yang bocor kini tidak lagi terlihat tetesan bahan bakar mengalir keluar, karena sudah tertambal dengan tanah, walau masih ada sedikit rembesan bahan bakar yang keluar.

Soga terlelap dalam pelukan Bimo terduduk sandaran sisi kanan mobil, senapan laras panjang tidak jauh tergeletak berpangkuan pada dua tangan Bimo memeluk Soga. Lusia menoleh kedalam mobil, masih terbaring Dinar makin terasa lemas tidak berdaya.

Makin banyak tetesan darah meresap keluar dari balik balutan perban, ada rasa tidak tega Lusia akan pergi diam-diam. Tatapan wajah sinis penuh amarah, tangan kanannya Lusia menenteng gagang mesin pemotong kayu lalu berjalan pasti menyusuri membela semak belukar malam.

Cahaya sinar rembulan terasa terpasung dalam kegelapan, hanya terlihat samar menerang semesta masih tertidur dalam dekapan dingin angin malam. Kabut putih berbayang membela oleh serpihan cahaya motor yang semakin membela jalan, semakin terang jalan.

Dua mata selalu siaga pandangannya selalu kedepan, walau terasa berat dua mata Edwin menahan kantuk, karena sejak dari siang mungkin saja dirinya merasa dikejar janji untuk segera menyusul. Tapi kenyataan berkata lain, bila sampai detik ini dirinya belum bertemu dengan Lusia dan keluarganya berada dimana.

"Gua yakin mereka ada disekitar sini," guman dalam hati Edwin, dua tangannya tetap pegang stang motor terus berjalan. Kabut malam makin pekat, makin menyulitkan dua matanya Edwin melihat kedepan karena sorot cahaya lampu motor terasa tenggelam cahayanya.

"Kak Lusi? Kak Lusia ...?" teriak panggil Soga suaranya terdengar serak, wajahnya makin pucat menahan sesak napasnya. Tubuhnya masih terasa hangat walau sebagian masih tertiup angin malam dalam dekapan Bimo terduduk tidur, dua kakinya melonjor kedepan.

Lirikan mata Soga hanya terlihat gelap saja, berapa kali tangan kirinya mengusap wajah lesu Bimo tidak mau bangun juga. "Ayah, Ayah." suara kecil Soga seraya bangunkan Bimo masih terlelap tidur.

"Ayah. Ayah, aku takut. Itu, itu dia datang lagi." makin ketakutan Soga ingin berusaha bangun tapi sekujur tubuhnya lemas karena efek napas yang tidak normal. Lagi-lagi tangan kirinya mengelus Bimo untuk segera di bangunkannya tapi tetap tidak mau bangun juga.

Derap langkah dua kaki makin jelas terlihat, makin mendekati. Tentu makin ketakutan Soga dan kembali napasnya terundang sesak lagi. "Ayah ..." teriakan Soga sampai bangunkan Bimo sontak tangan kanannya mengarahkan senapan laras panjang.

"Sekali lagi kamu melangkah Rojak! Timah panas ini tidak segan-segan melobangi wajahmu!" terhenti derap langkah kaki dalam gelap samar, ujung senapan laras panjang siap memuntahkan peluru panas walau dalam gelap tapi telunjuk jari tangan Bimo yakin bisa menembus wajah yang di kiranya itu adalah Rojak.

"Ayah, aku takut," guman ketakutan Soga napasnya makin sesak tersengal-sengal.

Lihat selengkapnya