One Scary Night

Herman Siem
Chapter #18

Kembalikan Cincin Berlian

"Ed, kamu kok bisa sampai bawa inhaler ini?" tanya ragu Bimo perhatikan raut wajah Edwin tersenyum.

"Dalam perjalanan tadi aku berusaha menghubungi Lusia, tapi ponselnya tidak aktip. Firasat aku tidak enak, Om. Aku bukan berharap buruk, tapi apa salah tadi sebelum aku berangkat menyusul kerumah Nenek. Aku mampir dulu keapotik beli inhaler untuk Soga. Karena aku tahu Soga sering lupa bawa inhalernya. Ya'kan Soga?" tersenyum Edwin sambil mengelus kepala Soga balik tersenyum.

"Kalau begitu aku saja yang mencari Lusia dan Danu. Om disini saja jagain Tante. Dan kamu Soga bantu Ayah jagain Bundamu." sahut Edwin sambil berjalan, tapi ada yang aneh diperhatikan Bimo dari cara gaya bicaranya Edwin.

Edwin berjalan hanya tersenyum sinis sambil melirik kearah Dinar tidak menaruh curiga dan keanehan apa-apa padanya. "Kak Edwin hati-hati ..." teriak Soga berdiri dibelakang Edwin makin berjalan cepat ditelan gelapnya malam.

"Ayah kenapa?" tanya Soga pada Bimo sebentar masih perhatikan langkah jalan Edwin makin tidak terlihat.

"Tidak apa-apa, Soga." jawab Bimo merangkul bahu kanannya Soga ikut berjalan kearah mobil untuk menemani Dinar wajahnya pucat dipaksa tersenyum pada Soga cepat naik mobil dan memeluk erat dirinya.

"Semoga Kak Edwin bisa temukan Kak Lusia dan Danu, ya Bun." ucap Soga makin erat memeluk Dinar melirik pada Bimo raut wajahnya masih menyimpan sejuta gelisah yang tidak mudah untuk tersingkirkan dari hatinya.

Terhenti langkah jalan Lusia saat tidak jauh pandangannya melihat terparkir motor tidak jauh dari dirinya makin cepat berjalan. Sesaat di perhatikan motor yang tidak asing bagi Lusia, sering dirinya melihat dan dibonceng motor itu.

"Ini'kan motornya Edwin?" guman pelan Lusia perhatikan terminal gardu bts masih ada kabel terbakar, tapi kali ini lampu indikatornya menyalah hijau menunjukan bila terminal gardu bts sudah kembali normal. Sambil mendongak keatas wajahnya Lusia melihat tinggi sekali menara bts menjulang tinggi dalam kegelapan langit.

"Tapi ngapaian motornya Edwin ada disini?" guman dalam hati Lusia makin bingung meletakan mesin pemotong kayu diatas jok motor, tetesan bahan bakarnya sedikit rembes menetes basahi jok motor. Makin bingung dan tidak masuk akal, kenapa Edwin tidak membawa motornya.

"Makin bingung gua? Kenapa Edwin ngak bawa motornya? Padahal dari siang gua nungguin dia, tapi motornya malahan ada disini? Nah sekarang dimana Edwinya?" guman bingung Lusia dua matanya melirik dari kejauhan seperti ada orang datang makin mendekat tapi tidak tampak jelas.

Lusia cepat mundur dan mengambil mesin pemotong kayu diatas jok motor, tanpa disadari Lusia sisa bahan bakar tertinggal diatas jok motor. Lusia langsung mundur dan bersembunyi dibalik gardu terminal bts. "Edwin? Rojak? Mereka?" guman ketakutan dalam hati Lusia dua matanya terhenti melihat Edwin dan Rojak berdiri berhadapan motor.

Lihat selengkapnya