Sontak terkejut mundur tertarik mundur Lusia ditarik tangan kanannya Danu kebelakang saat lagi-lagi ujung kapak diarahkan Norah. "Norah tenang. Gua datang ngak mau ngambil cincin berlian itu lagi. Gua datang sebagai teman loe," sedikit tersenyum Norah sambil meletakan gagang kapak dilantai.
Makin bingung bercampur ketakutan Danu tidak tahu dan terasa aneh saja dengan sikap Lusia, Kakaknya itu yang tiba-tiba baik prihatin sekali dengan Norah.
"Kak?" hanya berdiri saja Danu dibelakang Lusia, hanya ketakutan Danu seraya ingin melarang tapi malahan Lusia duduk bersila berhadapan dengan Norah. Mesin pemotong kayu digeser kearah Danu, maksudnya agar dipegang untuk berjaga-jaga.
Berapa kali tangan kirinya Danu menggaruk kepalanya, sambil perhatikan luar kamar yang sepi dan gelap. Sementara api lampu pelita kecil masih setia menerangi ruangan kamar yang tidak sama kali ada perabotan, hanya ada koran dan kardus kotor mungkin itu sebagai alas tidurnya Norah.
Makin bingung Danu perhatikan Lusia berbicara cuman hanya menggerakan dua tangannya saja, bahasa isyarat pada Norah yang memang tidak bisa bicara. Terdiam sesaat Norah terasa makin sedih tahu apa yang di katakan Lusia dengan gerakan dua tangannya.
Bila selama ini Norah hanya diperalat Rojak saja untuk membalas dendam atas kematian Wati, yang nyatanya Norah bukanlah anak kandung. Norah sebentar menyeka air mata, wajahnya makin kumal basah lalu dua tangannya berkata, bila dirinya sangat sayang sekali pada Wati.
Danu makin bingung saat jari manisnya Norah di arahkan pada wajahnya Lusia tersenyum dan langsung memeluknya. "Kak?" lagi-lagi Danu makin ketakutan saat makin erat ikut terharu Lusia memeluk Norah.
"Kamu nanti pasti tahu, Danu," sahut Lusia memapah bangun Norah mulai tersenyum melirik Danu ketakutan.
"Ada apa si, Kak?" balik tanya Danu sambil perhatikan keluar makin gelap.
"Lebih baik kita cepat pergi dari sini." kata Lusia cepat mengambil mesin pemotong kayu dari tangan Danu cepat berlari duluan saat dibelakang Lusia, saat Norah tersenyum padanya.
"Hihhhh." bergidik ketakutan Danu cepat berlari ikuti Lusia.
Tapi tiba-tiba Norah malahan berhenti berjalan hanya berdiri didepan rumah kosong yang hanya kelihatan gelap saja.