Malam benar-benar tidak ada ujungnya akan datang siang, rasa gelisah bercampur aduk makin menjerat pikirannya Bimo. Sampai berapa kali wajahnya diajak terjun jatuh karena tidak tahan dengan rasa kantuknya.
Hanya terduduk sandaran sayap kanan mobil, mendarat kepala Soga diatas dua pangkal pahanya Bimo makin tidak kuat menahan kantuknya. Sejak dari tadi Soga sudah terlelap tidur, rasanya lelap sekali tidurnya karena napasnya sudah tidak sesak lagi karena bantuan Edwin, pengakuannya sudah belikan inhaler untuknya.
Dinar juga hatinya makin terjaga was-was, berapa kali tatapan matanya selalu menoleh kekanan pintu mobil di biarkan terbuka. Tetap saja rasa was-was bercampur gelisahnya tidak bisa mengalahkan rasa kantuknya dan rasa lemasnya karena kehilangan banyak darah.
Tangan kanannya masih terbalut perban, banyak darah masih berkelana dalam perban yang tidak betah sampai menetes jatuh dari perban.
Berapa kali dua matanya tidak tertahan menahan kantuk, sampai tidak tahu dibelakang ada seseorang berjalan sudah berdiri dibelakang bagasi mobil.
Hanya gelap saja masih membalut wajah siapakah lelaki yang sudah membuka bagasi belakang mobil. Tatapan sinis penuh amarah pelan-pelan merangkak naik kedalam mobil, ternyata lelaki itu adalah Edwin.
Dua tangannya siap-siap akan mencengkram lehernya Dinar akan menoleh curiga kebelakang tidak jadi. "Akh. Akh!" menahan sesak napasnya, makin tambah penderitaan sakitnya Dinar.
"Tante harus mati!" suara pelan penuh ancaman terus dua tangannya Edwin makin mencekek leher Dinar, dua matanya mendelik lemas seketika tidak bernapasnya dan terkulai jatuh duduk kepala bersandar pada kabin sisi kiri kaca mobil.
Sinis puas wajahnya Edwin kembali mundur pelan-pelan dan menutup lagi bagasi pelan-pelan. Setengah badannya di longokan kesamping, masih terbaring sandaran Bimo tertidur berpangku Soga.
Dengan langkah pelan Edwin berjalan, sotak firasat Bimo membuatnya terjaga bangun. Pandangannya dua matanya menoleh kekanan hanya gelap saja. "Siapa itu!" teriak penasaran Bimo perhatikan hanya gelap saja.
Ada sorot sinar cahaya bulat dari kejauhan makin dekat membela jalan gelap berkabut. Sorot sinar cahaya makin mendekat, senapan laras panjang diarahkan. Telunjuk jari tangan kanan siap menarik pelatuk, makin dekat sinar sorot cahaya lampu.
"Nunggg ..." sekali kedengaran suara tarikan gas motor dan terhenti tidak jauh dari Bimo.
"Ayah siapa yang datang?" terjaga bangun Soga sambil bertanya pada Bimo tahu siapa lelaki yang akan turun dari motor, sinar cahaya lampunya sudah padam.
Tetap saja senapan laras panjang masih mengarah pada Edwin makin mendekat. Tangan kanannya Edwin juga sudah siap-siap akan meraih gagang pistol revolver dari balik jaketnya.