Flash Back
"Sudahlah Wati kamu jangan pikirkan Rojak dan anakmu itu. Masalah rumah, saya akan buatkan untuk kamu. Asal kamu tutup mulut apa yang terjadi malam ini," sambil mengancingi baju putihnya Iskak seraya berpesan pada Wati masih terduduk sedih diatas ranjang.
"Dan kamu tidak usah risau dengan pembebasan rumahmu yang akan digusur Bimo. Saya janji akan buat'kan lagi rumah yang jauh lebih bagus dari rumahmu saat ini." sambung Iskak tersenyum duduk disamping Wati sedih bila dirinya sudah dipaksa Iskak untuk melampiaskan nafsu bejatnya.
Sejak dari tadi Edwin yang masih kecil sudah menguping dikolong ranjang. Ada rasa marah makin membalut wajahnya, dua matanya sinis penuh dendam ingin sekali menggigit dua kakinya Iskak yang kelihatan dari pandangannya Edwin.
"Tapi? Saya sudah berbuat dosa pada Rojak dan Edwin, Mas Iskak." merasa bersalah Wati beranjak bangun dan turun dari ranjang.
"Kamu jangan merasa bersalah dan berdosa begitu, Wati. Kamu tenang saja, saya yang akan menanggung semuanya bila Rojak tahu apa yang terjadi malam ini." tandas Rojak seraya yakinkan Wati hanya berdiri sedih depan cermin meja rias, kelihatan dirinya dipeluk dari belakang oleh Iskak.
Hancur sedih perasaan Rojak berdiri didepan pintu kamar menguping apa yang sedang di bicarakan Wati dan Iskak didalam kamar.
Rasa marah Rojak tangan kanannya sudah meraih gagang parang. "Ibu ... Ibu kenapa lakukan ini?" tiba-tiba Edwin sudah keluar dari kolong ranjang.
"Edwin?" pintu terbuka masuk Rojak sontak mengayunkan parang kearah Iskak.
"Doorrr ..." nyaris peluru panas senapan laras panjang hampir menyambar wajahnya Rojak cepat minggir dan seketika ujung parang tidak mau kalah sigap langsung meleset mendarat pada perutnya Iskak.
"Jangan Rojak!" lerai Wati sedih saat meradang marah Rojak akan lagi mendaratkan parang pada wajahnya Iskak sudah keduluan berlari keluar meninggalkan tetesan darah dilantai.
"Aku benci sama Ibu!" tuding marah Edwin mendorong minggir Wati sedih.
"Ed! Edwin ..." panggil Wati sedih, Edwin berlari keluar dari dalam kamar sambil melirik Norah berdiri saja depan pintu.
"Akhhhhh ..." kesal teriak marah tidak terima Rojak.