One Scary Night

Herman Siem
Chapter #22

Malam Berdarah

"Bunda" ada rasa takut dan bersalah Soga setelah menembak Edwin terduduk berdeku kepalanya tertunduk, darah makin banyak keluar mengalir basahi tanah mengalir tidak tahu kemana. Lalu Soga melempar pistol ingin bermandi dengan darah, kesedihan bercampur rasa takut dan bersalah serta sakit makin berkerut wajahnya mendekati Bimo makin tidak tahan dengan sakitnya. Jalannya saja pincang, karena masih bersarang timah panas pada kaki kanannya, tetesan darah makin menyamari warna tanah.

"Ayah banyak sekali darah yang keluar," panik berkerut cemas pada wajahnya Dinar makin bingung terasa malam kenapa makin panjang dan makin tidak tahu kapan segera berganti siang, dirinya juga bingung siapa yang akan dulu di obatinya antara Bimo dan Soga.

"Akhhhhhh ..." melampiaskan kemarahan dan kesalnya Dinar berteriak perhatikan darah mengucur keluar dari dalam perutnya Bimo dan kaki kanannya Soga.

"Kak Edwin jahat ... Kak Edwin yang jahat ..." teriak kesal Soga sambil mencari inhaler yang tadi sempat terinjak kakinya Edwin. Dua tangannya sudah berlumuran darah, terasa sesak mulai datang lagi menekan paru-parunya Soga juga menahan sakit pada kaki kanannya. Makin tidak peduli dua tangannya makin berlumuran darah Edwin makin mengalir, lirikan sedih harunya juga makin bikin berkaca-kaca dua matanya ketika melihat Dinar memeluk erat Bimo.

"Akhhhhh ..."

"Plak... Plak ..." kali ini teriakan kemarahan Soga mendorong terbaring mayat Edwin dan dua tangannya mengacak-acak wajahnya Edwin semuanya penuh dengan darah ketika dua tangan Soga berkali-kali membejek-bejek dan menamparnya, walau dirinya juga menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Soga sedih sengaja bangat duduk diatas perutnya Edwin, napasnya kembali sesak karena ketakutan dan stres kembali datang merengut ketenangan hatinya. "Kenapa satu malam ini sangat menakut'kan?" guman Soga melirik ujung kaki kanannya Edwin terbungkus sepatu kets biru.

Cepat Soga beranjak bangun, seluruh pakaiannya makin lecek kotor penuh dengan bercak darah. Sedikit tersenyum Soga saat menyingkirkan kaki kanan Edwin sambil membungkuk tangan kirinya mengambil inhaler yang ternyata terpendam tanah tidak rusak.

"Srooot ... Srooot ..." ujung inhaler ditekan dan mulutnya trebuka lebar saat serpihan putih berbentuk angin masuk kedalam liang mulutnya Soga rasanya sesak napasnya makin berkurang.

"Soga cepat ambil kotak P3K didalam mobil!" pinta Dinar pada Soga cepat berlari sambil mengambil pistol yang tadi dilemparnya ketanah, jalannya pincang menahan sakit. Benar masih ada kotak P3k tergeletak dikolong jok barisan tengah, lalu lirikan sinis penuh amarah Soga mengambil kunci ban cukup lumayan juga bisa menghalau orang jahat.

"Auw!" teriakan menahan sakit bikin pilu terdengarnya saat perut Bimo yang terkena sabetan parang diobati dan ditekan-tekan kapas oleh tangannya Dinar. Makin prihatin dan dilemmanya Bimo melihat Soga yang lama-lama tidak kuat berdiri dan terjatuh lemas juga.

"Soga ..." cepat Bimo hentakan tangan Dinar saat akan membalut perutnya dengan perban.

Lihat selengkapnya