"Kenapa kalian bunuh Edwin ...?" lagi-lagi teriakan kemarahan Norah makin menganyunkan gagang kapak semua menghindar..
"Bukkk" sabetan senapan laras panjang mendarat pada tangan kanannya Norah.
"Norah ... Norah ... Loe kenapa? Loe'kan tahu kalau Edwin itu jahat. Dia ngak suka sama loe! Wajar Edwin mati!" tuding Lusia sambil mengarahkan gerigi tajam mesin pemotong kayu kewajahnya Norah terdiam, tiba-tiba Lusia sedih serasa teringat kenangan masihnya bersama Edwin.
"Kalian ... Uhhhhh ... Kalian nanti pasti akan mati ..." ujung kapak di arahkan pada semuanya sambil wajah kemarahan seraya mengancam.
"Akhhhhh ..." teriak sambil berlari pergi Norah meninggalkan semuanya.
"Edwin." sedih Lusia berdiri dihadapan mayat Edwin, lalu terduduk Lusia sesaat memeluk Edwin yang hanya bersimbah darah.
"Kak, maaf'kanku. Aku yang sudah menembak Kak Edwin karena dia sudah mengancam nyawa kami bertiga." ucap Soga merasa bersalah, tapi apa yang dilakukan Soga hanya untuk membela diri.
"Ngak, ngak Soga. Kamu ngak salah. Edwin pantas mati," sahut Lusia peluk tidak menyalahkan Soga sedih.
"Ayah cepat hubungi Nenek. Kayaknya sinyalnya sudah kembali normal," kata Dinar sambil berikan ponsel pada Bimo.
"Iya Bun, kayaknya sinyal udah kembali normal deh. Nih, hpku sudah aku temukan dirumah kosong." ditimpali Danu tersenyum.