"Ayah lihat itu," semua terdiam sesaat ketika melihat asap menghitam membumbung tinggi diatas gelapnya langit.
"Ayah!" panggil Danu cepat mengejar Bimo berlari cepat, tapi tidak pada Soga yang berlari pelan menahan sakit.
"Bunda ..." teriak Lusia memanggil Dinar berlari cepat mengejar Danu dan Bimo.
"Kak" menahan sakit tidak bisa berlari cepat Soga dipapah sabar Lusia makin terasa cemas hati dan pikirannya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Neneknya.
"Semoga Nenek baik-baik saja," guman dalam hati Lusia berusaha tegarkan hatinya walau perasaannya masih tidak menyangka dengan perbuatan Edwin, yang padahal mereka berdua sudah menjalin hubungan sangat lama sekali.
"Kak, maafin aku ya?" kata Soga masih merasa bersalah, Lusia tersenyum duduk jongkok berhadapan Soga sedikit bingung.
"Kenangan indah saat bersama Edwin selalu ada dan tidak pernah pergi terlepas dari ingatan ini, Soga. Kakak juga tidak menyangka kedekatan Edwin yang terlalu baik pada Kakak, ternyata Edwin menyimpan dendam itu. Kakak lebih sangat marah, bila Edwin menyakiti kamu dan orang yang Kakak sayangi Soga. Ayo kamu naik keatas punggung Kakak saja." walau hatinya Lusia sedih tidak dapat menghilangkan kenangan manisnya bersama Edwin, hatinya berusaha untuk tegar tersenyum pada Soga agar tidak merasa bersalah sudah menembak Edwin mati.
Hanya senyuman haru Soga tergendong dibelakang Lusia segera cepat bejalan susuri jalan setapak, makin terasa jelas asap membumbung tinggi makin membela langit.
"Ibu ..." teriak sedih Bimo dan Dinar duduk berdeku dihadapan makin makin membakar Tari tidak berbentuk lagi.
"Nenek" sedih Danu berdiri dibelakang antara Bimo dan Dinar dua matanya berkaca-kaca makin tidak tertahan bendungan rintik kesedihan.
"Ini perbuatan Rojak! Rojak ..." beranjak bangun Bimo marah sambil berteriak.
"Dooorrr ... Doorrr ... Doorrrr ..." tiga kali pelatuk tertarik telunjuk jari tangan kananya Bimo penuh amarah, sontak terdengar muntahan peluru panas senapan laras panjang menukik naik kelangit.