One Scary Night

Herman Siem
Chapter #25

Antara Sedih & Dendam

"Yah, Nenek?" ucap Soga sedih terduduk bersampingan dengan Danh juga masih sedih, rasanya mereka berdua masih tidak terima kematian Neneknya dengan cara keji.

"Kalian jangan sedih gitu. Sekarang Nenek sudah bersama Kakek." disahutin Lusia duduk diantara Soga dan Danu.

"Sebenarnya bukanlah Kakek yang memulai dirinya bermain api?" beranjak bangun Bimo perhatikan foto keluarga, hampir semuanya ada didalam foto yang terpampang pada dinding tembok.

Dinar hanya terduduk, seraya kuping kiri kanan dan dua matanya mulai menyimak cerita Bimo terduduk disamping Dinar.

"Maksudnya Ayah?" langsung ditanya Lusia penasaran sambil melirik kearah pintu hanya terbuka saja. Kelihatan bangat diluar gelap sekali, hanya pohon yang sekarang diam membisu jadi saksi kematian Tari yang sudah di kuburkan tadi.

Flash Back

"Ya, kamu harus bisa dekatin Iskak, Wati! Kamu tidak mau'kan? Kalau hidup kita setelah rumah ini tergusur karena pembebasan jalan tol itu!" rada memaksa Rojak niatnya pada Wati hanya terduduk diam pada kursi ruangan tengah.

Ada rasa berat Wati untuk tidak mengikuti maksud niat jahatnya Rojak meminta Wati agar mendekati Iskak. "Saya ngak mau, Rojak." bantah tegas jawaban Wati.

Sementara diluar sejak dari tadi berapa kali kepalan tangan Bimo tidak jadi mengetuk pintu. Map biru tua sejak dari tadi juga hanya dipegang tangan kirinya saja, padahal dalam map biru itu ada surat penggantian pembebesan jalan tol.

"Kamu harus rayu Iskak, Wati. Agar dia mau menuruti semua kata-kata kamu. Dan paling tidak Iskak bisa membuatkan rumah pengganti yang lebih layak buat kita tinggal. Kamu tahu'kan Bimo gimana dia? Masa dia hanya mau mengganti rumah ini dengan bayaran yang tidak pantas!" terdiam mikir Wati perhatikan wajah memelas Rojak lalu terduduk berhadapan dengannya.

Lagi-lagi kepalan tangan kanannya Bimo tidak jadi mengetuk pintu. Lalu map biru di bukanya. Benar saja apa kata Rojak tadi, bila rumahnya yang akan digusur hanya dihargai 5 juta rupiah waktu tahun 1999.

"Pokoknya aku mau kamu harus rayu Iskak gimanapun caranya! Agar hidup kita dan anak kita tidak terlantar!" beranjak bangun Rojak kesal lalu masuk kedalam kamar.

Wati hanya terduduk menoleh pada pintu luar terbuka lebar. Masih berdiri Bimo dibalik pintu cepat minggir kesamping saat dua matanya Wati mulai curiga melihatnya keluar.

Cepat Bimo pelan-pelan beranjak jalan pergi meninggalkan selasar halaman rumah. Wati berdiri didepan pintu menoleh kiri kanan tidak ada siapa-siapa.

Lihat selengkapnya