Langkah jalan Danu dan Lusia makin dekat terminal gardu bts yang semakin dekat. "Kak itu?" kata Danu sambil tunjuk tangan kanannya pada gardu terminal bts yang memang benar saja terlihat indikator lampu hijaunya mati.
"Pasti ini ulah jahat Rojak dan Edwin, agar kita tidak bisa menghubungi siapapun, apalagi menghubungi kantor Polisi terdekat," kesal bangat Lusia mulutnya terus menggerutu terus saat perhatikan banyak kabel warna-warni yang putus. Mesin pemotong kayu diletakan begitu saja disamping kanannya dan gagang pistol revolver kecil terlihat menyundul balik pinggangnya Danu.
"Kak gimana ini?" sahut Danu wajahnya mengkerut tidak yakin.
"Danu, kamu perhatikan itu kabel yang putus. Diantara kebal itu pasti akan saling menyambung dengan kabel yang sama warnanya. Ya, semoga saja kita bisa keluar dari masalah ini dan bisa segera menghubungi Polisi." yakin bangat ucapan Lusia langsung duduk jongkok menarik kabel warna hijau yang putus, maksudnya dalam pikirannya barangkali saja menyambungkan kabel yang putus dengan kabel yang warnanya sama bisa dapat kembali menghidupkan gardu terminal bts.
"Ya, semoga saja Kak." kata Danu ikut duduk jongkak mulai dua tangannya dan menggigit selaput kabel menyambungkan kabel warna hitam.
"Kabel ini nyambungnya kesini. Dan kabel ini kesini nyambungnya," ucap Danu dua tangannya tidak peduli menahan sakit dan tusukan tajam helaian rambut tembaga sembari dipelintir untuk di sambungkan.
"Kak?" yang tadinya raut wajahnya Danu mengkerut tidak yakin sontak wajahnya tersenyum yakin ketika lampu indikator hijaunya menyalah kembali.
"Kakak hebat." puji Danu beranjak bangun mungkin dua kakinya mulai kesemutan dan memeluk Lusia terharu masih duduk jongkok.
"Semoga kita bisa segera keluar dari satu malam yang menakutan mencekam ini, Danu," berapa kali husapan hangat mendarat pada wajahnya Danu dua matanya berkaca-kaca sedih.
"Ngungg ..." dari kejahuan terdengar suara motor makin mendekat.
"Kak dengar itu?" segera Danu melepaskan pelukannya Lusia sempat melirik kearah jalan gelap, dari kejauhan terlihat sorot cahaya lampu motor makin mendekat.
"Danu kamu diam disini," sambil menarik Danu kebelakang gardu terminal bts sempat bingung dirinya apa yang akan diperbuat Lusia sambil mengambil mesin pemotong kayu. Tengki bahan bakarnya yang sempat bolong dan ditambal hanya dengan tanah, kini kembali bocor saat tanahnya di korek-korek kukunya tangan kanannya Lusia.
Danu perhatikan dari samping terminal gardu bts hampir kosong tengki bahan bakar mesin pemotong kayu, yang bakarnya bercecer ditanah sedikit berumput.
"Brubb" tidak ada rasa takut dua tangan Lusia langsung menarik kabel listrik ruangan terminal gardu bts jadi gelap, tapi lampu indikator hijau tidak mati, artinya untuk komunikasi masih bisa dan itu yang tidak bikin Danu cemas. Kabel beraliran listrik hanya dipegang saja oleh tangan Lusia, rada ciut juga nyali bila salah pegang tangan kanannya akan tersengat aliran listrik.
Sempat bingung juga Rojak hentikan motornya saat berjalan, dirinya masih terduduk diatas jok motor. Mungkin dirinya bingung kenapa gardu terminal bts gelap tapi indikator lampu hijaunya masih menyalah. "Ada yang ngak beres nih?" guman Rojak segera turun dari motor kearah terminal gardu bts.