"Danu ..." teriak cepat berlari Dinar menghampiri Danu dua matanya terbelalak rada terkejut melihat Rojak di hadapannya sudah tersungkur nyungsep.
"Lusi. Lusia ..." kali ini Bimo cepat menghampiri Lusia, Bimo cepat menarik berdiri Lusia dua paha kakinya makin banyak mengeluarkan darah.
"Danu?" sedih cemas Soga melihat keadaan Lusia dua matanya masih terpejam.
"Breeet ... Brettt ..." cepat Soga membuka koas dan menyobek kaosnya jadi dua bagian dan mengikat dua paha Lusia yang masih keluarkan banyak darah dibantu Bimo sandaran Lusia pada motor.
"Doorrrr ..." terdengar lagi suara letusan senapan laras panjang pelurunya menyarang pada keningnya Rojak, kali ini setan penjaga neraka benar-benar sudah siap menjemput nyawa. Hanya amarah kesal makin tidak beranjak pergi dari raut wajahnya Norah sekali lagi telunjuk tangan kanannya masih belum puas akan menarik pelatuk senapan laras panjang.
"Norah jangan!" lerai Dinar cepar merampas senapan laras panjang dari tangan kanannya Norah sontak terduduk sedih dihadapan mayat gosong rusak Rojak.
Kesedihan kini makin melanda wajahnya Norah yang terkelupas luka akibat siraman air panas oleh Dinar. "Mereka tidak bersalah Ayah. Ayah yang jahat!" singkat ucapan Norah sedih seraya membenarkan Bimo dan keluarganya dan menyalahkan Rojak.
"Lusia?" tersenyum Bimo saat dua matanya Lusia tidak lagi terpejam.