Orang yang sangat kucintai sudah mati terbunuh di operanya sendiri. Seharusnya ini sebuah acara indah sebagai pertunjukan terakhir Melvina yang mengidap kanker. Namun, acara ini berakhir menjadi tragedi yang menggemparkan dunia. Lupakan tentang dunia, aku sendiri bahkan masih belum bisa melupakan kejadian itu. Kematiannya terus menghantui dalam mimpi-mimpiku. Bagaimanapun, aku mencoba menghapus memori itu. Hasilnya tetap sama dan aku tetap mengingat semuanya, seperti sudah dijahit di dalam neuron-neuron otakku.
Minggu, 3 Maret 2024 pukul 17.32 WIB
Perlahan kesadarannya memudar, digantikan dengan memori yang sangat ia ingin lupakan. Dirinya dibawa kembali ke dalam gedung opera Kota Malang, tempat opera itu digelar. Di atas panggung, mereka sedang memainkan opera Bizet Carmen dan sudah mencapai ACT 4. Act terakhir yang akan menjadi puncak dari pertunjukan opera itu.
Di Act 4 ini Don José akan membunuh Carmen, wanita yang ia cintai karena dia cemburu Carmen memilih pria lain. Melvina yang memerankan Carmen mengenakan gaun yang indah berwarna putih. Rambut birunya tampak mencolok di bawah cahaya lampu panggung. Melvina berkata dengan nyanyian resitatif, “Ou laisse-moi passer!” Kemudian dia berdiri dengan diiringi nyanyian paduan suara, “Victoire!”
Di hadapannya Iosif yang memerankan Don Jose dengan suara tenor menjawab penuh amarah, “Pour la dernière fois, démon, veux-tu me suivre?” Dia berlari ke dekat Melvina yang memalingkan tubuhnya ke arah penonton. Sambil melepaskan cincinnya Melvina tersenyum dan berkata dengan suara mezzo-soprano, “Non! Non! Cette bague autrefois, tu me l'avais donnée.” Kemudian dia melemparkan cincin itu seraya berkata, “Tiens!”
Melvina berjalan ke tepi panggung sambil menyilangkan kedua tangannya. Tatapannya arogan dan ekspresinya seakan puas melihat Don José yang hatinya hancur. Di saat itu juga Iosif berkata, “Eh bien, damnée!” Seharusnya adegan selanjutnya adalah Iosif sebagai Don José pura-pura menikam Melvina sebagai Carmen. Namun, tiba-tiba listrik di gedung opera itu mati dan semua lampu padam. Meninggalkan kegelapan yang menyelimuti semua orang di dalam gedung opera itu.
Di dalam kegelapan itu terdengar suara langkah kaki yang cepat seperti orang berlari. Selanjutnya, terdengar suara benda keras yang menghantam sesuatu dan jatuh ke dasar panggung. Suara jeritan rasa sakit yang ditahan juga terdengar seakan ada seseorang yang terluka. Meskipun begitu orkestra tetap dilanjutkan, saking profesionalnya mereka masih bisa bermain dalam kegelapan. Paduan suara pun tetap bernyanyi diiringi musik orkestra.
Toréador, en garde! Toréador, toréador!
Et songe bien, oui, songe en combattant, qu'un œil noir te regarde,
et que l'amour t'attend! Toréador! L'amour t'attend!
Namun, tidak ada ucapan atau suara apa pun dari atas panggung. Musik orkestra pun ikut berhenti menunggu jawaban. Setelah 5 menit di dalam kegelapan, akhirnya listrik menyala lagi menggunakan daya dari generator dan semuanya tampak jelas.
Para penonton merasa ada kejanggalan di atas panggung. Mereka melihat Melvina yang terbaring terlentang dengan belati Poignard emas yang menancap di perutnya. Darah mengalir dari lukanya membentuk genangan di bawah gaunnya. Tetesan demi tetesan darah jatuh dari atas panggung dan bisa disaksikan dengan jelas oleh pemain musik orkestra. Tidak hanya Melvina, Iosif juga terbaring tak sadarkan diri di atas panggung.
Penonton menganggap ini adalah bagian dari pertunjukan opera dan satu orang pun mulai menepuk tangannya. Lalu diikuti oleh semua penonton yang membentuk tepuk tangan yang meriah. Suaranya yang menggema di gedung opera itu membuat suasana tidak lebih mencekam. Namun, staf dan para pemeran lain tahu bahwa itu bukanlah bagian dari opera. Salah satu dari mereka pun lari ke atas panggung untuk mengecek keadaan Melvina dan Iosif.
“Iosif is unconscious, but Melvina is already dead…” ucap pria yang mengenakan kostum tentara itu. Seketika para penonton tercengang, suara bisik-bisik mereka pun membuat kegaduhan yang menambah ketegangan suasana. Tidak hanya penonton langsung saja, tetapi penonton yang sejak tadi menonton melalui tayangan live di televisi dan ponsel mereka ikut tercengang. “Melvina died. What kind of nonsense is this? Isn’t this supposed to be her final opera?” ucap salah satu penonton. “Cuka blyat'! U kogo khvatilo by dukhu sdelat' eto s nashey Melvinoy?” ujar penonton dari Rusia. Siapapun yang membunuh Melvina, tidak ada yang tahu dan kasus pembunuhan Melvina masih menjadi misteri.
Semua ini salahku. Seharusnya aku bisa mencegah pembunuhan ini dan Melvina gak akan mati seperti ini. Aku sudah gagal sebagai bodyguard dan sebagai pengamen. Sekarang aku akan mengamen sendirian lagi, tidak ada Melvina yang akan ikut bernyanyi dan menemaniku. Semua ini pasti ulah Iosif dan bajingan Elio itu, tapi aku jamin Melvina bisa beristirahat dengan tenang karena dengan penyelidikan ini rencana busuk mereka akan terungkap.