Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #2

Chapter 2: Sad Poet

Hah?” ucap Karta dengan wajah yang melongo. Kalimat yang dikatakan Melvina barusan sangat tidak masuk akal dan di luar konteks situasi itu. Melihat ekspresi Karta Melvina tertawa sambil berkata, “Kedengarannya aneh ya? Yah, aku masih belum lancar bahasa Indonesia. Maksudku, maukah kamu menemaniku?”

“Ini lebih masuk akal,” kata Karta. Lalu dia melanjutkan, “Mau menemani apa emangnya? Kamu tersesat di sinikah? Kalau kamu tersesat, kamu bisa lihat Google Maps.” Melvina menggelengkan kepalanya, “Itu namanya memberi tahu jalan, bukan menemani. Kalau aku tersesat, aku bisa bertanya ke orang-orang di sini, kan? Mungkin kamu bisa menemaniku makan malam. Lihat, matahari sudah terbenam selagi kita mengobrol.” 

Secara tidak sadar Karta melihat ke arah barat, matahari sudah tidak tampak jelas. Yang tersisa hanyalah langit berwarna oranye kemerahan yang indah. Kendaraan bermotor dan mobil terus berganti melintasi jalan raya di Kayutangan. Karta pun menjawab, “Memangnya kamu tahu mau makan di mana?”

Nyet, itu dia alasannya aku memintamu untuk menemaniku. Jadi, kamu mau atau tidak?” Di dalam situasi seperti ini, hanya ada satu pertanyaan bagi Karta, “Aku ditraktir, kan, ini?”

Konechno! Kamu sudah membantu menangkap pencuri tasku, aku harus membalas budimu,” sahut Melvina. Karta pun menunjukkan senyuman lebar sambil berkata, “Oke, akan kutemani, tapi sebelum itu aku mau ngambil gitarku dulu, kamu bisa mengikuti aku.” 

Mereka berdua berjalan berdampingan melewati keramaian malam di Kayutangan. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di warung Pak Dian. Karta memasukkan gitarnya ke dalam tas gitar hitam lalu beranjak pergi sambil menuntun Melvina. 

Mereka kembali berjalan hingga akhirnya sampai di tepi jalan. Di seberang jalan terdapat kafe bernama Lafayette Coffee & Eatery. Bangunan kafe itu berwarna putih terang yang sangat mencolok dibandingkan dengan bangunan lainnya. “Kita akan makan malam di sini?” tanya Melvina. “Yeah, aku pilihkan kafe ini karena menurutku ini cocok buat kamu,” jawab Karta.

“Cocok untukku? Kamu tahu aku ini siapa?” tanya Melvina dengan agak sombong. Namun, ekspektasi itu dipatahkan ketika Karta hanya menjawab, “Turis kan? Aku amati dari sikapmu, pakaianmu, dan barang-barangmu. Kamu kelihatannya kaya. Ya, harusnya kafe ini cocok.” 

Melvina pun menghela napas, “Jadi, selama ini kamu gak tahu aku siapa? Aku ini Melvina, penyanyi opera terkenal dari Rusia, dan kamu hanya menganggap aku sebagai turis?” “Penyanyi opera terkenal dari Rusia? Bentar aku bingung, sek ayo kita nyebrang jalan mumpung lampu merah,” Karta pun tidak menghiraukan perkataan Melvina dan menuntunnya menyebrang jalan. 

Sekali lagi Melvina menghela napasnya semakin dalam dan tetap mengikuti Karta. Kemudian mereka masuk ke dalam kafe itu dan berhenti di depan etalase makanan yang memamerkan berbagai jenis makanan. Namun, Melvina lebih tertarik pada makanan-makanan manis dengan tampilan mencolok. “Kamu mau pesan yang itu, Melvina?” tanya Karta. “Boleh boleh, ini cocok dijadikan dessert… Aku akan pesan 3 sekaligus.” Ucapan Melvina itu membuat Karta prihatin. “Kamu gak apa-apa makan manis-manis sebanyak itu?” 

Setelah memesan makanan utama, minuman dan makanan penutup, mereka memilih tempat duduk di dekat jendela di lantai satu. Karta meletakkan tas gitarnya di samping meja dan topi fedoranya di kursi kosong, sedangkan Melvina meletakkan tas Birkin-nya di kursi kosong di sampingnya. Dari posisi meja itu mereka bisa melihat perempatan jalan Kayutangan yang dipenuhi kendaraan. 

Suasana kafe itu terasa seakan berada di Eropa karena interior dan furnitur yang ada di sana dibuat sedemikian rupa menyerupai kafe-kafe di sana. Mereka juga memutar musik jazz yang menghangatkan suasana kafe itu. Hal ini membuat Melvina merasa seperti sedang berada di kampung halamannya.

Karta mengingat pembicaraannya dengan Melvina sebelum menyebrang jalan yang belum selesai. Dia pun berkata, “Jadi, kamu itu artis penyanyi opera terkenal dari Rusia, terus ngapain kamu berada di Indonesia, apalagi di Kota Malang?” Melvina menghela napas untuk yang ketiga kalinya kemudian menjawab, “Sudah kuduga kamu tidak akan tahu alasan aku berada di sini. Kamu aja tidak tahu kalau aku ini penyanyi opera. Maklum, di Indonesia opera tidak cukup terkenal. Meskipun begitu, aku di kota ini akan mengadakan pertunjukan opera.” 

“Kalau memang di Indonesia gak begitu populer, kenapa diadakan di sini? Seharusnya di Rusia aja, kan? Atau negara-negara lain di eropa.” Melvina menjawab, “Karena aku menginginkannya di sini.” 

Sebelum Karta dapat merespons, Melvina mengajukan pertanyaan, “Tadi saat ada seseorang mencuri tasku, kenapa kamu memilih untuk membantuku, Karta?” Karta heran dengan pertanyaan itu, “Sudah jelas karena kamu membutuhkan pertolongan, bukan? Makannya aku menolongmu.”

 “Jadi, kamu akan menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongan?” tanya Melvina. Karta tetap menjawab, “Iya, aku melakukan itu karena aku memilih untuk membantu. Kamu pasti meragukan tindakanku menolongmu tadi, kan? Mungkin di Rusia orang-orangnya lebih individualis atau apa, aku tidak tahu, tapi menolong orang lain itu adalah keputusan. Bukan keharusan atau tanggung jawab. Tidak ada peraturan tertulis yang mengharuskan kita memberikan pertolongan; hanya ada moral yang terwujud dari masing-masing individu dengan cara kita memahami lingkungan sekitar kita menggunakan empati. Baru kita bisa membuat keputusan berdasarkan hati kita. Kadang orang akan memilih untuk acuh, tapi aku memilih untuk menolongmu.” 

Ty, interesnyy, kamu menolongku hasil dari keputusanmu sendiri… Oh ya, aku penasaran dengan gitarmu itu. Kenapa kamu membawa gitar ini, pasti kamu bisa memainkannya kan? Tidak mungkin ini hanya sebagai pajangan saja.” 

Lihat selengkapnya