Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #3

Chapter 3: Bathtub yang Dingin

Minggu, 10 Maret 2024 pukul 12.25 WIB 


Karta membuka matanya dan perlahan mengangkat kepalanya yang terasa agak berat. Dia pun menoleh ke sekitarnya sambil bertanya, “Hipnotisnya sudah selesai, bagaimana hasilnya?” Saat dia akan menoleh ke belakang menatap Erina, Lydia menjawab, “Jawabanmu selama diskusi sama dengan kesaksianmu tentang Melvina, jadi tidak ada masalah untuk saat ini.” 

“Kalau tidak ada masalah, kamu bisa lanjut menghipnotis saksi selanjutnya,” perintah Detektif Ranu. “Baik, Pak, akan saya lanjutkan…” Namun, Karta menghentikannya, “Tunggu, aku ingat sesuatu. Aku lihat ada kecelakaan mobil di depan gedung opera saat terbunuhnya

Melvina dan aku melihat kamu meninggal, terus bagaimana kamu bisa di sini?” “Kayaknya kamu salah orang.” Erina bergeser ke saksi di samping kanan Karta yang bernama Evelyn. Evelyn memiliki kepribadian yang cenderung pendiam hampir sama seperti Yunita, tetapi lebih santai daripada Yunita yang selalu serius. 

“Evelyn, kamu selanjutnya ya,” kata Erina. Evelyn mengangguk, “Silakan, aku juga pengen pembunuh Melvina cepat ditemukan. Jadi, kamu bisa menanyaiku apa pun.” Sesuai permintaan Evelyn, Erina mulai melakukan hipnotis padanya. Metodenya sama seperti yang dia lakukan pada Karta, jika orang melakukan hipnotis biasanya menggunkan pendulum atau jam rantai yang digoyangkan, Erina tidak perlu hal yang seperti itu. Suaranya yang halus bagaikan sutra memiliki frekuensi khusus yang dapat menghipnotis orang dengan mudah. 

“Evelyn, pejamkan matamu dan dengarkan apa yang kukatakan. Rilekskan tubuhmu, biarkan dirimu terbawa arus sungai yang tenang. Hanyut di antara pepohonan yang rindang dan suara burung berkicau yang merdu. Hingga kamu sampai di dalam titik terdalam di hatimu. Sekarang ketika aku menyentuh lehermu, kamu akan menjawab semua pertanyaanku dengan jujur.” Sama seperti sebelumnya, Erina menyentuh leher Evelyn dua kali hingga kepalanya terjatuh. 

Pertanyaan pertama dan kedua masih sama. Evelyn menjawab sejujurnya bahwa Melvina adalah seniornya yang kadang sombong, namun tetap baik hati. Di pertanyaan yang ketiga, dia memberikan informasi yang serius, “Oke, apakah selama Melvina di Kota Malang ini sebelum penampilan opera melakukan hal yang aneh atau ada hal yang aneh terjadi padanya?” “Ada, sehari setelah pemeran-pemeran opera datang ke Kota Malang, aku menemukan Melvina mencoba bunuh diri di kamar mandi.”

Erina berkata, “Bisakah kamu menceritakan kepada kami lebih detail tentang kejadian itu?” Evelyn menjawab, “Bisa, jadi awalnya…” 


Rabu, 14 Februari 2024 pukul 05.13 WIB


Di suatu kamar mandi yang lembap, Melvina terbaring di dalam bathtub. Tubuhnya tenggelam di dalam air yang mengisi separuh bathtub itu. Dia tidak sepenuhnya telanjang, melainkan masih memakai piyama putihnya yang kini basah dan tampak melayang di dalam air. Namun, ada yang berbeda dengan Melvina yang biasanya tampak pucat dengan kepala yang botak. Iya, botak, rambut biru yang membuatnya tampak cantik hanyalah wig yang kini tergantung di atas hanger.

Apakah aku benar-benar menginginkan opera ini diselenggarakan? Aku juga sudah tidak bisa membatalkannya, kan? Semuanya sudah disiapkan sedemikian rupa dan aku juga sudah sampai di Kota Malang. Mungkin ibuku akan senang jika akhirnya aku menyanyi opera di kota ini. Tapi apa pedulinya, dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Kukira dengan menjadi penyanyi opera aku akan bahagia, namun pada akhirnya setelah aku terkenal aku juga terkena kanker. Bagaimana jika aku gak bisa menemukan orang yang mau menemaniku sampai mati?

Di tengah pikirannya yang kacau, Melvina meraih botol kecil yang berisikan pil penenang. Botol itu sudah terbuka, jadi Melvina hanya perlu mengonsumsinya langsung.

Lihat selengkapnya