Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #4

Chapter 4: For The Last Time

Minggu, 10 Maret 2024 pukul 12.35 WIB


Erina menyentuh leher Evelyn 2 kali hingga akhirnya ia terbangun. Dia tidak menanyakan pertanyaan apa pun, hanya ada emosi melankolis yang terukir di ekspresinya. Hingga akhirnya dia bertanya sesuatu, “Apa kalian percaya yang kuceritakan? Harusnya Ms. Mischa bisa mengklarifikasi ceritaku.” 

Mischa yang berada di seberangnya menjawab, “Benar, memang kejadian ini terjadi. Sejak dia didiagnosis menderita kanker, Melvina mulai menunjukkan banyak tanda-tanda mentalnya yang mulai hancur. Tindakannya di cerita Evelyn itu salah satu contohnya.” 

Detektif Ranu bertanya, “Apa Melvina pernah mencoba bunuh diri selain ini?” Mischa secara tidak langsung menatap mata Elio, kemudian menjawab seakan meminta izin, “Ada, dulu saat pertama kali mengetahui penyakit kankernya, Melvina sempat mencoba bunuh diri. Dia melakukannya lagi 1 bulan kemudian dan ini yang ketiga.” 

“Hmm begitu… Bagaimana denganmu, Karta? Apa Melvina pernah membahas hal seperti ini? Kalian itu kekasih, kan?” tanya Detektif Ranu. 

Tentu Melvina pernah membahas ini. Baginya, aku adalah orang terdekat yang peduli padanya. Dengan orang terdekat itulah kita akan lebih mudah berkeluh kesah, mengutarakan perasaan kita tanpa ada rasa khawatir. Namun, kadang dengan orang dekat juga kita melampiaskan emosi dan frustrasi kita. Hal itu tidak seharusnya dilakukan, tetapi kenyataannya kita tetap melakukannya, termasuk Melvina. 

“Selama aku bersama Melvina, dia menceritakan banyak hal, mulai dari rasa sakitnya karena kanker pankreas, kondisi mentalnya, dan kadang ia menyampaikan sesuatu yang mengarah pada bunuh diri, kayak dia sudah lelah dengan hidup.” 

I see, kalau begitu lanjutkan hipnotismu Erina, ” perintah detektif itu. Erina mengangguk dan pindah ke saksi selanjutnya, yaitu Andika. Dari tadi dia duduk santai seakan tidak ada beban pikiran. Erina bertanya, “Andika, kamu bersedia untuk dihipnotis, kan?” “Bersedia, kamu bisa ngehipnotis aku, gak perlu tanya-tanya langsung aja,” jawabnya. “Oke kalau begitu akan kumulai, ini hanya formalitas saja,” ujar Erina.

Erina berkata dengan suara halusnya, “Pejamkan matamu, Andika, rilekskan tubuhmu dan lupakan semua masalahmu. Biarkan suaraku membimbingmu menuju ketenangan. Sekarang bayangkan kamu berada di pantai yang sangat sunyi dan tenang. Kamu bisa mendengar suara ombak yang menabrak tepi laut. Kamu bisa merasakan butiran pasir di antara jari-jemari kakimu.”

“Sekarang, ketika aku menyentuh lehermu 2 kali, kamu akan menjawab semua pertanyaanku dengan jujur.” Kemudian Erina menyentuh leher Andika 2 kali sampai kepalanya terjatuh. Erina mengajukan pertanyaan pertama, “Andika, siapa Melvina bagimu?” 

Andika menjawab, “Menurutku dia hanya teman atau mungkin dia tidak menganggapku teman. Kami juga jarang bicara, kebanyakan Melvina bersama Karta dan aku hanya teman Karta, jadi yah kayak temannya temanku atau kekasihnya temanku.”

Lihat selengkapnya