Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #5

Chapter 5: Kontrak Bodyguard

Minggu, 10 Maret 2024 pukul 12.44 WIB


Saat hipnotis berakhir, Andika kembali sadar di ruangan suram itu. Sebelum bisa mengucapkan apa pun, dia mendengar Detektif Ranu bertanya, “Waktu Andika pertama kali bertemu Melvina di kafe, ini dekat dengan waktu Karta menerima kontraknya, kan?” Untungnya, pertanyaan itu tidak ditujukan padanya, melainkan pada Karta. “Kontrak?” tanyanya dengan bingung. 

Kali ini Lydia yang menjawab, “Di dalam testimonimu kamu mengatakan kalau kamu menerima kontrak menjadi bodyguard Melvina selama dia di Malang. Tanggal kamu menandatangani kontrakmu juga dekat dengan tanggal kejadian ini.” 

Seakan baru ingat, Karta menjawab, “Ah, iya bener aku tanda tangan kontrak itu besoknya. Melvina menawarkan diri untuk menjadi bodyguardnya selama dia di Malang. Tapi sebelum aku menandatangani kontrak dengan Melvina, aku mendapatkan penawaran lain.” “Apa itu?” tanya Detektif Ranu. 


Rabu, 14 Februari 2024 pukul 10.34 WIB


Melvina menyeret Karta keluar dari kafe itu dengan paksa. Karta membawa gitarnya yang berat itu dan memakai topi fedora putihnya yang ikonik. Penampilannya tidak beda jauh dengan kemarin, dia memakai jaket cokelatnya dan celana hitam. Di sampingnya, Melvina juga membawa tas Birkin birunya dan memakai outfit yang feminin. 

Ketika sudah di luar, Karta bertanya, “Stop, Melvina, kita mau ke mana dulu ini? Kalau kamu memang mau kita mengamen, harus ada tempat tujuannya.” “Aku baru sampai di kota ini kemarin, jadi aku tidak tahu tempat yang mau dituju. Harusnya kamu yang menuntunku Karta, kamu kan biasa mengamen di sekitar sini,” kata Melvina. 

“Pertanyaanku, kamu mau bernyanyi di depan warung atau toko-toko gitu? Aku gak yakin kamu akan sanggup atau malu jika harus tampil begitu. Soalnya kita bernyanyi di jalanan ini beda jauh dengan kamu bernyanyi di kafe tadi,” ucapannya itu dijawab, “Jujur, tampil sebagai penyanyi opera di hadapan banyak orang itu sudah mengerikan bagiku. Jantungku berdebar dan aku takut jika aku membuat kesalahan. Tapi jika aku bernyanyi di jalanan seperti ini, rasanya lebih bebas. Tidak ada kekangan dari ekspektasi penonton opera, aku jadi bisa bernyanyi sesuka hatiku.” 

Kemudian Melvina maju 3 langkah ke depan sambil menoleh ke belakang. Bibirnya mengucapkan, “Kalau begitu, mari kita bernyanyi sepuasnya sebebas-bebasnya di jalanan ini, Karta.” Karta tersenyum dan menyusulnya, “Ayo kita lakukan kalau memang itu maumu.” 

Dengan begitu, mereka berjalan bersama menyusuri jalanan itu. Saat itu cuaca sedang berawan, namun matahari masih bersinar dengan terik. Karta yang berjalan di belakang Melvina melihatnya tampak kepanasan. Dia pun berinisiatif menaruh topinya di kepala Melvina. Dia pun kaget dan bertanya, “Ah, buat apa ini?” “Kamu kepanasan nanti. Ini sudah mulai siang, jam 11-an.” 

Melvina menyentuh topi itu dengan kedua tangan untuk menatanya sambil berkata, “Makasih ya, tapi kamu gimana dong, kan topinya kupakai?” “Gak apa-apa, aku sudah biasa panas-panasan begini. Oh, kayaknya kita bisa ngamen di sini, kamu mau nyanyi lagu apa?” Melvina berpikir sejenak sebelum menjawab, “Nyanyi lagu yang aku bisa aja, ini judulnya Nothing's gonna change my love for you.”

Lihat selengkapnya