Sabtu, 17 Februari 2024 pukul 16.38 WIB
Di dalam gedung opera itu terdapat barisan-barisan kursi penonton dengan warna merah. Jika dihitung, totalnya mencapai lebih dari 1000 kursi yang tersedia, belum termasuk kursi yang berada di lantai atas. Gedung opera ini termasuk kecil jika dibandingkan dengan Metropolitan Opera karena memang ini hanya salah satu cabang saja.
Karta duduk di salah satu kursi di bagian tengah yang memiliki pemandangan paling bagus. Dia duduk di dalam kegelapan dan hanya mendapatkan cahaya dari lampu yang menerangi area panggung. Dia sudah berada di sana sejak siang tadi dan menonton latihan opera Melvina dan kru-nya sampai pukul 3 sore ini.
Kadang Karta tertidur karena suasana yang gelap, namun dia tidak bisa tidur dengan tenang karena setiap kali dia mendengar suara teriakan atau nyanyian yang keras, dia langsung terbangun. Oleh karena itu, dia lebih memilih untuk menonton mereka berlatih saja. Bahkan dia kedinginan berada di sana, entah kenapa di ruangan sebesar dan seluas itu tetap terasa suhu dingin dari AC. Karta melihat ke belakangnya yang terdapat di lantai 2, 3, dan 4 dengan interior khas opera.
Di kursi merah di sampingnya terdapat tas biru yang Melvina titipkan. Karta membuka tas itu dan menemukan isinya yang penuh dengan obat-obatan. Bukan alat kosmetik atau yang lain, tetapi banyak obat-obatan. Melihatnya saja membuat Karta mual sekaligus prihatin dengan kondisi Melvina yang perlahan melemah karena kanker.
Hingga akhirnya Karta mendengar pelatih opera di panggung itu membubarkan latihan hari itu. Dia pun bergegas turun menuju belakang panggung untuk menemui Melvina yang sedang mengganti baju sebelum kembali ke hotel. Saat bertemu dengannya, Karta berkata, “Halo Melvina, kamu mau langsung balik ke hotel kah?” “Habis ini, aku harus bereskan ini dulu. Oh ya, mana tasku, Kar?” Karta langsung memberikan tas itu kepada Melvina, kemudian dia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Di sana Karta tidak hanya ada Melvina saja, tetapi semua pemeran opera yang ikut latihan juga ada. Karta melihat ada Evelyn, Mischa dan Iosif juga di sana, meski mereka tidak berkomunikasi langsung dengannya. Melvina yang sudah siap menepuk pundak Karta sambil berkata, “Ayo kita pergi sekarang, tapi sebelum kembali ke hotel aku mau makan di suatu tempat dulu, enaknya di mana?” Karta menjawab, “Mau makan apa dulu?” yang dijawab Melvina, “Terserah, yang penting enak aja.”
Sialan, aku baru tahu kalau cewek dari Rusia juga suka bilang terserah. Semuanya kembali lagi kepada pilihanku, aku juga gak terlalalu tau apa yang dia suka… Sudahlah, mending ke mal aja.
“Yasudah kita ke MOG aja, di sana kamu bisa belanja sekaligus kalau mau milih makan ada banyak,” kata Karta. “Khorosho, ayo berangkat,” ucap Melvina dalam bahasa Rusia. Mereka berdua pun keluar gedung opera melalui pintu belakang dan langsung menuju area parkir di belakang gedung. Di sana terparkir motor Karta, yaitu Honda Astrea berwarna hitam dan putih yang klasik.
Karta pun memakai helmnya, lalu menyalakan mesin motornya, dan Melvina juga memakai helmnya, lalu naik ke atas motor. Karta sangat bersyukur karena dia tidak perlu membayar uang parkir; dia hanya perlu menyapa satpam di gedung itu dan langsung pergi. Jarak antara gedung itu dengan MOG tidak terlalu jauh, mereka hanya perlu melewati jalan Idjen kemudian belok kiri dan sudah sampai. Untungnya, mereka pergi lebih awal sehingga jalanan masih belum padat karena banyak orang yang pulang dari kerja atau sekolah.
“Di sini rumahnya bagus-bagus ya,” kata Melvina. Namun, Karta tidak dengar dan menjawab, “Hah? Aku gak denger Mel bilang yang kenceng.” “Di sini rumahnya bagus-bagus ya!” teriaknya. “Kan memang begini dari dulu, kayaknya sejak zamannya Belanda. Beberapa ada yang direnovasi jadi lebih bagus lagi.”
“Rumahmu seperti ini kah?!” tanya Melvina, yang dijawab, “Gak mungkin, keluargaku gak sekaya ini. Ayahku juga sudah meninggal dan pekerjaannya dulu polisi, jadi gajinya gak seberapa, sedangkan ibuku pegawai negeri.” “Owhhh, aku bisa belikan kalau kamu mau,” kata Melvina. Karta pun tertawa dan hanya berkata, “Gak mungkin, jangan bercanda kayak gitu.” Justru Melvina menjawab, “Aku tidak bercanda, lupakan.”
Sesampainya di MOG, Karta mengikuti ke mana Melvina ingin pergi. Berbelanja atau hanya melihat-lihat, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di restoran ramen. Mereka berbincang sambil menikmati makan malam itu, dan saat selesai, mereka berdua pergi ke rooftop mal. Di atas, suasannya sangat sepi, seakan dunia milik mereka berdua. Angin malam berhembus menerpa rambut biru Melvina yang sedang menatap jalan raya dengan tatapan melankolis.