Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #8

Chapter 8: Foto Polaroid

Minggu, 18 Februari 2024 pukul 00.12 WIB


Karta bisa mendengar dengan jelas ketukan jam dinding di lobi hotel itu. Saat dia melihat ke arahnya untuk mengecek waktu, ternyata jarum jam sudah menunjukkan tengah malam. Berbeda dengan ketika ia menunggu di gedung opera, di sana dia merasa kedinginan, namun di sini dia merasa kepanasan. Sebabnya dia mengenakan baju berlapis yang terdiri dari kaus, sweater turtleneck hitam, dan jaket cokelat. Kali ini dia tidak mengenakan topi fedora putihnya karena tidak dibutuhkan.

Setelah menunggu lama di lobi hotel, dia mendengar suara langkah kaki yang berat nan cepat. Karta tidak mengingat langkah kaki Melvina yang seperti ini dan benar saja yang datang bukanlah Melvina, melainkan Mischa yang sudah siap berangkat. “Halo Karta, aku Mischa pasti kamu menunggu Melvina… Biasalah kalau dia lama seperti ini, dia kadang kesusahan memilih pakaian apa.” 

Karta langsung berdiri dan menjawab, “Kalau begitu saya akan tunggu di sini yang lainnya juga belum datang kan.” “Harusnya mereka sudah siap. Itu Evelyn sudah turun ke lobi,” ucap Mischa sambil menunjuk Evelyn yang keluar dari lift. Lalu dia melanjutkan, “Kalau kamu mau, kamu bisa menjemput Melvina langsung di kamarnya.” “Oke, aku akan menjemputnya langsung.” Karta mengangguk, kemudian masuk ke dalam lift yang baru saja digunakan Evelyn. Dia menekan tombol lantai 2 di lift itu dan ketika sampai di lantai 2, dia langsung berjalan menuju kamar Melvina. 

Saat mengetuk pintunya, dia mendengar suara dari dalam, “Siapa itu? Tunggu sebentar, aku masih menyiapkan barang bawaanku.” “Ini aku Karta, kita sudah harus berangkat Melvina,” ucap Karta dari luar. “Oh, Karta? Lebih baik kamu masuk aja, aku butuh bantuanmu dengan sesuatu,” dari luar Karta bisa mendengar suara kunci pintu yang dibuka kemudian dia bisa melihat Melvina yang tampak cantik dengan pakaian musim dinginnya. Dia mengenakan sweater putih dengan dress outer cokelat di atasnya. Di atasnya lagi masih terdapat coat berwarna ungu pucat yang tebal dengan kerah berbulu putih. 

Melvina berkata, “Hmm, aku punya sesuatu buat kamu, Karta.”

Melvina berjalan ke tepi kasurnya dan mengeluarkan sesuatu dari koper. Di tangannya terdapat 2 buah topi khas Rusia yang dipakai saat musim dingin. Dia memberikan salah satu topi itu kepada Karta, “Ini kamu pakai selama kita di sana, namanya Ushanka. Tidak ada bedanya, punyamu dan punyaku sama-sama putih.” “Makasih, kebetulan aku gak bawa topi fedoraku,” jawabnya. Karta memegang erat topi itu sambil melihat isi kamar Melvina. Kasurnya ternyata sudah rapi dan barang-barang lain juga rapi, namun terdapat banyak obat di atas meja rias. 

Melvina mengambil tasnya lalu berkata, “Ayo kita berangkat, pasti yang lain sudah menunggu di bawah.” Saat mereka sampai di lobby ternyata semuanya sudah berkumpul, mereka terdiri dari Mischa, Evelyn dan Iosif. Namun, ada satu yang aneh, yaitu Andika. “Kenapa kamu di sini, Andika?” tanya Melvina. “Kan aku yang nyetir jeep-nya, kebetulan ayahku ikut di dalam bisnis travel ke Bromo.” “I see, untung aku nanti dibonceng Karta, jadi tidak usah naik jeepmu.”

“Kamu jadinya tidak naik jeep, Melvina?” tanya Evelyn. “Awalnya aku mau naik jeep, tapi aku mau coba naik motor aja dibonceng Karta. Aku juga sudah menyuruhnya menyiapkan motor untuk mengantarkanku. Nanti kita tetap ketemu di Bromo kok, jangan khawatir,” katanya. “Ms. Mischa, menurutmu gimana?” Lalu Mischa menjawab, “Tidak apa-apa selama Melvina aman bersamanya. Aku percayakan Melvina padamu, Karta. Jaga baik-baik selama kita pergi ke Gunung Bromo.” 

Lihat selengkapnya