Minggu, 18 Februari 2024 pukul 08.42 WIB
Karta berjalan di samping kuda yang ditunggangi oleh Melvina. Mereka berdua tidak sendirian. Di sisi lain, ada seorang pemuda yang menuntun jalannya kuda itu. Mereka berjalan kembali ke tempat mereka mulai berkuda. Di bawah kaki mereka bukanlah rumput atau bebatuan, melainkan lautan pasir yang sudah mulai mengering karena panasnya matahari. Dengan kata lain, mereka sedang berada di pasir berbisik atau, dengan nama lain, lautan pasir.
Dengan sombong, Melvina berkata, “Kuda ini terlalu lambat; seharusnya aku sendiri yang jalankan; pasti bisa lari lebih kencang.” “Semakin banyak kamu bilang gitu, aku semakin gak percaya. Kalau kamu memang pengen banget, coba tanya ke masnya,” perintah Karta. Dengan begitu, Melvina bertanya, “Mas, kalau aku bilang bisa menunggangi kuda ini sendiri, Mas percaya tidak?” Pemuda itu hanya meringis sambil menggelengkan kepalanya. Melvina langsung kecewa dan berkata, “Masa mas tidak percaya dengan kemampuan berkudaku. Di Rusia aku sering berkuda sendiri, bahkan pelatihku memuji kemampuanku.”
“Sudah, Mel, kasihan masnya, dia sudah capek mendengar ocehanmu. Untung sebentar lagi kita sampai,” ucap Karta. Benar saja, setelah 2 menit berjalan, mereka akhirnya sampai dan waktu berkuda Melvina kini sudah berakhir. “Terima kasih, Mas, maaf kalau saya banyak mengeluh tadi,” kata Melvina. Karta mengehela napasnya lalu berkata, “Itu bukan banyak mengeluh lagi; kamu itu menyusahkan orang namanya.” Melvina membantah, “Ochen' glupo, yang penting dia sudah kubayar.”
Pembicaraan mereka dipotong saat Evelyn tiba-tiba muncul sambil menanyakan, “Setelah ini kalian mau ke mana? Kami mau naik ke kawah Gunung Bromo, kalian ikut?” Melvina menjawab, “Hmm, kalau ke kawah bisa nanti sih aku. Kita sudah sarapan juga, kan, jadi bisa ke mana saja sekarang. Aku sama Karta akan ke Bukit Teletubbies dulu, nanti aku menyusul.” “Oke, kalau begitu kabari aku nanti,” ucap Evelyn sambil kembali ke mobil jeep untuk menemui rombongannya. Sebelum pergi, Melvina teringat sesuatu dan berkata, “Oh ya, Evelyn, aku mau titip kain sewek batik ini ke kamu, tolong jagain sampai aku kembali.” Tanpa komen, Evelyn menerima kain batik itu dan melihat Karta dan Melvina pergi.
Sesuai ucapan Melvina, mereka berdua akhirnya berangkat menuju Bukit Teletubbies. Melvina tidak memerlukan kain sewek lagi karena sekarang sudah tidak mengantuk dan dia hanya perlu memeluk Karta. Motor trail yang mereka gunakan sangat cocok di medan berpasir, memungkinkan mereka untuk melaju dengan cepat. Selama perjalanan, Melvina memperhatikan jeep-jeep yang berlalu-lalang, hijaunya pepohonan karena musim hujan, dan megahnnya Gunung Batok. Perlahan pemandangan itu digantikan dengan padang savana yang mulai terlihat. Lautan pasir di bawah mereka kian berganti dengan rerumputan yang tampak hijau segar. Hingga akhirnya mereka sampai di Bukit Teletubbies.
“Kamu bisa turun Melvina, kita sudah sampai,” kata Karta. “Akhirnya aku sampai juga di sini. Udaranya rasanya fresh banget, semuanya juga hijau dan rasanya sejuk di sini. Mau berapa kali aku ke sini, bukit-bukitnya sama seperti yang di tv, ah, Karta, jangan lupa untuk memotretku selama kita di sini.” “Iya iya, aku gak akan lupa dengan tugas kayak gitu. Kamu di sini mau ngapain aja?” tanya Karta. Melvina menjawab, “Menikmati momen saat ini.”
“Menikmati momen?” pertanyaan itu dijawab dengan, “Iya, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, kan? Yah, kita bisa foto-foto pemandangan di sini, tapi mumpung kita di sini sebaiknya kita menjelajah.” “Yasudah, jangan jauh-jauh tapi Melvina,” kata Karta. Namun, Melvina menolaknya, “Terserahku, seharusnya kamu yang mengawalku ke mana saja aku pergi.”
Karta mengawal Melvina yang berjalan berkeliling padang rumput itu. Kemudian dia teringat sesuatu dan berkata, “Kamu mengingatkan aku sama sebuah anime, Melvina,” lalu Melvina membalas, “Aku tidak tahu kamu nonton anime. Anime apa yang kamu maksud?” “Judulnya I Want to Eat Your Pancreas. Kamu kan kanker pankreas, hampir sama kayak cewek di anime itu. Tapi seingatku dia bukan mengidap kanker, cuma sakit pankreas aja gitu.”
“Aku tidak bisa dibandingkan dengan karakter anime. Aku ini nyata dan penyanyi opera terkenal, bukan karakter fiksi. Terus ending anime itu bagaimana?” Karta menjawab, “Ceweknya kan aslinya akan meninggal dan membuat janji dengan si cowok, tapi ternyata meninggal duluan ditusuk seseorang dan sad ending gitu.” Penjelasan itu langsung membuat Melvina tertawa. Di selah tawanya, dia berkata, “Kenapa mati konyol gitu? Cowoknya ditinggal sendirian, dong.” “Itu sedih Mel, aku sendiri sempat nangis dan cowoknya jadi sendirian sejak ceweknya meninggal, tapi lama-lama move on.”