Minggu, 10 Maret 2024 pukul 13.29 WIB
Detektif Ranu mengerutkan dahinya mendengar cerita dari Karta. Dengan nada tidak percaya, dia berkata, “Tunggu dulu, kamu bilang kamu melalui pintu itu terus pindah tempat dan waktu? Bagaimana itu bisa terjadi?” Pemahaman Detektif Ranu itu salah. Kemudian Karta membenarkannya, “Bukan berpindah tempat dan waktu, Pak. Kami lebih cenderung mengingat memori buruk kami. Semua ini gara-gara anak yang namanya Kusumo itu, dia mau menghancurkan mental kami supaya mau mengikuti keinginannya.”
Sabtu, 14 Agustus 2021 pukul 16.23 MSK
Pemakaman itu terletak di tengah kota Moskow yang saat itu sedang musim panas. Namun, khusus hari itu Tuhan memberikan awan mendung seakan turut berduka atas kepergian Natasya Belova, ibunda Melvina. Pemakaman itu dihadiri oleh kerabat, keluarga, dan teman dekat saja. Selain Melvina, di sana juga ada Iosif, Elio dan Mischa. Hanya ada 1 wajah saja yang tidak nampak saat itu, yaitu Romanov, ayah Melvina.
Dari barisan para pelayat majulah Evelyn untuk menenangkan Melvina. Dia memeluknya sambil mengatakan, “Tidak apa-apa, Mel, menangislah, tidak apa-apa. Jangan khawatirkan ayahmu, pasti dia tidak hadir karena ada urusan penting.” Namun, Melvina tetap menyangkal, “Tidak, dia bahkan tidak menemui kami saat jenazahnya pertama kali datang di Rusia. Dia bahkan menolak ikut kami ke Kota Malang… Kenapa dia seperti itu?” “A-aku tidak tahu, Mel…” ucap Evelyn dengan bingung.
Lama-kelamaan pemakaman itu berakhir dan semua pelayat sudah meninggalkan area makam. Evelyn tetap menemani Melvina dan mereka berdua menjadi orang terakhir yang meninggalkan makam itu. Tempat itu pun menjadi sunyi tanpa ada pergerakan sama sekali, seakan waktu berhenti. Hanya tersisa Karta dan Melvina saja yang tampak bingung. Karta bertanya, “Tadi itu kamu, Melvina? Tapi bagaimana kita bisa memiliki dua Melvina? Sebenarnya kamu bawa kita ke mana?” “A-aku tidak tahu. Aku hanya ingin membantu anak itu mencari sesuatu di dalam pintu ini,” jawabnya.
Kini Karta marah dan berkata, “Kenapa kamu mengikuti perintah anak itu? Lagian, sejak kapan kamu mau membantu orang, Melvina? Kamu malah buat kita terjebak di sini!” “Aku tidak tahu, Karta! Aku pikir aku bisa menjadi baik dan membantu orang seperti kamu, tapi aku tidak tahu kalau akhirnya jadi seperti ini,” balas Melvina menyamai amarah Karta.” “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku baik, Mel? Aku tidak menganggap aku baik. Aku hanya melakukan apa yang orang lain enggan lakukan, seperti membantu.”
“Itulah yang kulihat darimu: tidak ada orang yang benar-benar baik atau jahat. Manusia dituntun oleh kehendak mereka dan dari sinilah keputusan dan tindakan baik atau buruk tercipta. Aku ingin merasakan kehendak yang ada padamu dalam membantu orang lain.”
Karta terdiam, namun tiba-tiba muncul Kusumo yang kali ini dapat dilihat oleh Karta. “Halo, Karta dan Melvina, pasti kalian sudah menyaksikan memori yang pertama, kan?” ujarnya, yang dibalas, “Memori? Apa jangan-jangan kamu Kusumo yang dibicarakan Melvina?” “Kusumo, apa maksudmu ini? Kamu bilang kami akan bisa menemukan apa yang kamu cari di sini, tapi kenapa kami malah melihat masa lalu?”
Dalam situasi yang penuh pertanyaan itu, Kusumo mulai menjelaskan, “Sabar semuanya, kalian pasti bingung kenapa kalian menyaksikan diri kalian di masa lalu. Itu karena kalian sedang menyaksikan memori terburuk yang pernah kalian alami. Di dalam salah satu memori ini kalian bisa menemukan apa yang dicari-cari. Jika kalian tidak menemukannya, kalian bisa lanjut ke memori selanjutnya dengan membuka pintu yang ada. Jika kalian menemukannya, kalian akan bisa kembali ke dunia material.” Kusumo menunjuk ke belakang mereka, di mana ternyata sudah ada pintu kayu tertutup.
“Tapi kenapa kamu melakukan ini, Kusumo?” tanya Karta. Kusumo hanya berkata, “Aku akan memberitahunya saat kalian menemukan itu, sekarang silakan menikmati pertunjukan ini,” lalu dirinya menghilang. “Terus sekarang kita ngapain ini?” tanya Karta lagi. Melvina menjawab, “Untuk saat ini kita turuti aja perintahnya. Ayo kita buka pintu selanjutnya.” Pada akhirnya mereka membuka pintu itu dan masuk ke dalam memori selanjutnya.
Jumat, 27 Januari 2023 pukul 16.38 WIB
Hari itu sekolah telah usai dan seperti biasa Karta akan mengamen di jalanan Kayutangan. Dia tidak malu meski mengenakan seragam SMA; justru dia bahagia karena ini salah satu dari hobinya. Namun, hal tak terduga terjadi hari itu. Saat itu dia akan mengamen di depan suatu kafe yang tengah ramai pengunjung. Dia menemukan pacarnya yang sedang berduaan dengan lelaki lain. Tenggorokannya seakan dicekik dan dia tidak bisa menyanyikan lagu apa pun.
“Jelita, kamu ngapain di sini? Dan siapa itu bersamamu?” ungkap Karta. Wajahnya tampak kacau dengan emosi yang campur aduk. Sama halnya dengan Jelita yang tampak bingung harus merespons apa. Lelaki di hadapannya pun bertanya, “Siapa itu, Jelita? Kamu sudah punya pacar ternyata?” “Bukan-bukan ini hanya salah paham,” katanya. Namun, Karta menekannya, “Jelita, dia yang selama ini kamu diam-diam chat? Kita pernah bicarakan ini dan kamu bilang dia bukan siapa-siapa, tapi sekarang kamu terang-terangan berkencan dengannya.”