Minggu, 18 Februari 2024 pukul 14.09 WIB
Di salah satu warung di atas bukit, Evelyn dan turis lainnya sedang menunggu berita pencarian Melvina yang sudah berjalan sejak 1 jam yang lalu. Semakin mereka membahas teori masing-masing tentang hilangnya Melvina, semakin mereka khawatir. Evelyn berkata, “Bloody hell! Kalau kita hanya nunggu aja, mereka tidak akan ketemu. Andika, kita harus ikut mencari juga. Kamu punya Jeep, kan? Bisa kita pakai itu.” “Memang bisa, tapi tim SAR dan petugas di Bromo sudah mencari mereka. Percuma kita ikut, kita juga gak tahu daerah Bromo.”
“Tetap aja, kita harus melakukan sesuatu.” Tepat setelah dia mengatakan itu, datang dua orang ke dalam warung. Mereka terdiri dari seorang gadis muda dan kakek tua. Gadis itu mengenakan kebaya kemben, sarung dan selendang, sedangkan kakek itu mengenakan kemeja hitam, sarung dan ikat kepala bernama udeng. Gadis itu juga sedang memeluk boneka yang tampak aneh untuk anak seumurannya. Kakek itu berkata, “Permisi, nama saya Prawiro. Saya kepala desa di sini dan saya dengar salah satu dari teman panjenengan hilang siang ini. Saya di sini mau menawarkan bantuan.”
Mischa langsung berdiri dan bersalaman dengan Kakek Prawiro, “Terima kasih sudah datang, Pak. Kami tidak tahu apakah Bapak akan datang, jadi kami belum menyiapkan apa-apa.” “Bukan masalah; kita punya masalah yang lebih genting di sini.” Saat mengatakan itu, Kakek Prawiro duduk di salah satu kursi di sana. Gadis yang datang menemaninya berdiri di samping kursi itu.
“Perkenalkan, ini cucu saya. Namanya Calya Garwita. Dia yang akan membantu kalian. Dia anak indigo yang sudah dilatih ilmu gaib dan baru-baru ini direkrut ke dalam Klub Arcana oleh Arcana Foundation. Aku harap kalian percaya dengan hal mistis karena yang sedang terjadi saat ini adalah peristiwa paranormal.”
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Melvina dan Karta, Pak Prawiro?” tanya Evelyn. “Singkatnya mereka masuk ke jebakan Kusumo, ketika Gunung Bromo mulai aktif maka Kusumo juga akan mencari orang yang akan menggantikannya. Peristiwa ini sering terjadi dari masa lalu sampai sekarang. Akan saya ceritakan kisah awal mula semua ini terjadi…”
Seketika semua orang di warung meja itu menjadi serius, “Kami masyarakat Tengger punya cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Kisah tentang Roro Anteng dan Joko Seger: mereka adalah sepasang suami istri yang tidak kunjung dikaruniai anak. Sehingga mereka melakukan semedi di kawah Gunung Bromo. Akhirnya, dewa memberikan 25 anak kepada mereka dan anak terakhir dari mereka harus diserahkan kepada dewa. Anak itu adalah Kusumo, awalnya dia rela mengorbankan dirinya, namun lama-kelamaan dia menyesal karena setiap kali Gunung Bromo aktif dia harus berkorban, meski dia sudah mati. Itu sebabnya dia ingin mencari pengganti.”
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara dering HP Mischa, “Maaf, saya jawab ini dulu.” Dia pergi ke depan warung itu kemudian mengangkat teleponnya. Mereka yang berada di dalam warung bisa mendengar samar-samar percakapan Mischa, “Halo, iya ini saya Mischa… Benar tadi Karta mengendarai motor trail warna biru… Motornya ditemukan di lautan pasir dan barang-barang mereka juga tertinggal? Oke, Pak, kami akan segera ke sana…”
Dia kembali masuk untuk menyampaikan berita tadi, “Motor Karta dan Melvina sudah ditemukan di lautan pasir, tapi mereka tidak ada di sana. Kita harus mengecek lokasinya.” “Itu karena mereka tidak berada di dunia ini. Kalian harus segera membawa mereka kembali ke sini. Calya akan membantu kalian. Yang penting, lokasi terakhir mereka sudah ditemukan. Calya akan melakukan ritual di pura. Mudah-mudahan mereka kembali dengan selamat.”
“Terima kasih banyak, Pak Prawira. Kalau begitu, kami berangkat sekarang,” ucap Evelyn. Calya juga berpamitan, “Kakek Calya pergi dulu ya. Doakan semuanya berjalan lancar.” Akhirnya mereka semua pergi ke jeep Andika dan meninggalkan Pak Prawira sendiri di warung itu.
Saat di dalam mobil, Andika bertanya, “Calya, kamu dari SMA 13 kan? Aku pernah lihat kamu di Klub Arcana, ngapain kamu ada di Bromo?” “Ternyata kakak satu sekolah dengan saya toh, interesting. Biasanya saya kalau libur memang di sini, ke rumah kakek. Oh ya, apa ada barang milik Melvina atau Karta? Saya membutuhkannya untuk ritual nanti.” Evelyn langsung mengeluarkan kain sewek yang diberikan Melvina, “Aku adanya ini, tadi diberikan Melvina, kayaknya sempat dipakai.” “Boleh terimakasih, tolong antarkan saya ke pura di dekat kawah. Nanti saya juga butuh 1 pendamping, sisanya bisa ke lokasi terakhir mereka…” Mischa pun merespons, “Aku saja, Andika dan Evelyn bisa langsung ke lokasi.”
Minggu, 10 Maret 2024 pukul 13.31 WIB
Di ruang konferensi, Karta telah usai menceritakan pengalamannya saat menghilang di Bromo. Detektif Ranu bertanya, “Aku yakin jika kamu menyaksikan semua memori itu, kamu pasti sudah mengetahui rahasia di balik kanker Melvina. Tapi kenapa kamu tetap mau menjadi kekasihnya?”
“Karena aku mencintainya, Bapak pasti juga punya orang yang Bapak cintai, kan? Seperti keluarga tau kekasih, pasti bapak juga percaya akan cinta,” ucapan Karta dijawab, “Aku memang menyayangi keluargaku, tapi cinta… Cinta hanyalah reaksi dari zat kimia di otak, seperti hormon, dan cinta hanya sebatas insting hewani untuk melestarikan spesies manusia.”
“Begitu ya, aku tidak akan menyangkal opini Bapak, tapi hubunganku dengan Melvina tidak hanya sebatas ketertarikan biologis saja. Aku percaya bahwa kami ditakdirkan untuk bertemu, meski tidak untuk bersama selamanya.”
Seakan mengabaikan pernyataan Karta, Detektif Ranu melanjutkan, “Kalian semua di ruangan ini pasti penasaran dengan rahasia yang Karta tahu. Sekarang aku akan ungkapkan rahasia itu, hasil dari autopsi jasad Melvina oleh tim forensik sudah disampaikan kepada pihak polisi. Terdapat luka bekas tusukan dari belati di perutnya yang menembus tepat di bagian ulu hati, jejak sidik jari dari salah satu tersangka, tapi ini semua bukanlah rahasia itu. Lebih baik aku tunjukkan langsung, Lydia tolong tampilkan hasil temuan di perut Melvina.”
Lydia mengangguk dan langsung melepaskan kabel VGA dari laptop Melvina dan menghubungkannya dengan laptop milik kepolisian. Dia mengeklik salah satu foto di dalam folder hasil autopsi. Di layar LCD, semuanya bisa melihat segumpal daging di atas nampan bedah stainless steel. Daging itu sudah membentuk kepala, badan, tangan dan kaki. Namun, ukurannya masih sebesar genggaman tangan dan tampak tak bernyawa. Mereka semua tampak tercengang kecuali Karta dan pihak polisi.