Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #12

Chapter 12: Moya Lyubov

“Turunkan Melvina perlahan dan angkat tanganmu,” perintah Iosif. Tidak ada pilihan lain. Karta meletakkan Melvina yang tidak sadarkan diri di tanah lalu mengangkat kedua tangannya. “Apa maksud semua ini Pak Iosif? Bapak mau mengancamku?” tanya Karta. “Revolverku bukan untuk ancaman, melainkan untuk membunuh,” jawab Karta.” Ekspresi keduanya tampak sangat serius: “Dan kenapa Bapak mau membunuhku?” “Ini adalah perintah, jadi tidak ada yang personal. Karta, tolong menjauh dari Melvina. Aku tidak mau dia terkena cipratan darahmu.”

Dengan kedua tangannya di atas telinganya, Karta berjalan ke samping Melvina. Posisinya berada di atas karena dia berada di bukit, sedangkan Iosif berada di lerengnya yang miring. Dia menodongkan revolvernya ke atas, mengarah tepat di antara kedua mata Karta. Karta berkata, “Kamu gak bisa membunuhku, Pak. Aku yakin selama aku dan Melvina menghilang, pasti mereka sedang mencari kami. Kalau bapak membunuhku, mereka akan tau.” 

“Kamu tidak perlu khawatir, mereka aslinya sudah menemukan motormu di lautan pasir. Kira-kira jaraknya 1 kilometer lebih. Kita masih punya banyak waktu jika mereka sudah tahu. Elio memang cerdas. Dia bisa memprediksi kalau kalian terjebak dalam fenomena paranormal dan membuat rencana ini. Katanya, dia hanya membaca artikel-artikel tentang kejadian serupa di masa lalu.” 

“Elio? Jadi, Elio yang mau membunuhku, tapi kenapa? Padahal aku sudah bekerja dengan benar,” katanya. Iosif tidak menanggapi pertanyaannya dan hanya mengucapkan, “Cukup mengobrolnya. Apa kamu punya kata-kata terakhir, Karta?” Karta tetap diam, namun dia tidak menerima nasibnya. Dia masih mau hidup, bagaimanapun caranya. 

Saat Iosif berkata, “Kalau begitu, selamat tinggal,” tiba-tiba bumi bercuncang dan terdengar gemuruh dari kawah Gunung Bromo. Karta mengambil kesempatan itu untuk berlari dan menerjang Iosif yang berada di bawah. Iosif tetap melepaskan tembakan, sayangnya meleset. Mereka berdua pun terguling bersama sampai ke permukaan tanah yang landai. Pertarungan mereka kini berubah menjadi ground fighting. Di mana Karta berada di atas Iosif dan dia memukul pergelangan tangan Iosif yang memegang revolver hingga terlepas. Kemudian dia melanjutkan dengan serangan ground and pound langsung ke kepala Iosif. 

Namun, Iosif berhasil membalikkan keadaan, dia mendorong pinggulnya ke atas membuat Karta jatuh ke depan. Kemudian dia melepaskan diri dari posisi itu dan mencoba meraih revolvernya. Karta yang masih terbaring di tanah langsung menahan kakinya dan berusaha menggapai tangan Iosif. Gerakan itu berhasil menahannya, tetapi Iosif balik menendang kakinya yang mengenai wajah Karta. Rasa sakit itu tidak menghentikannya. Karta mengambil batu lalu menghantamkannya ke kaki Iosif. 

“Aghh!” Dia tidak berhenti di situ saja. Karta menarik punggung Iosif sekaligus melemparkannya jauh dari revolver itu. Saat Karta mencari revolvernya, ternyata itu tidak ada di sana dan sudah diambil oleh Iosif. 

Dor!

Untungnya, Karta berhasil menghindari tembakan itu lagi dengan meluncur ke tanah. Lalu dia merangkak dan bersembunyi di dalam semak-semak di sekitar padang rumput itu. Kini Iosif berdiri sambil mencari keberadaan Karta, “Kenapa kamu sembunyi sekarang, Karta? Kamu takut karena aku bawa revolver? Ayo keluarlah, jangan jadi pengecut!” Tidak ada jawaban, Iosif hanya bisa mendengar gema dari kata-katanya barusan, hanya ada suara angin yang berhembus di lereng gunung dan gemuruh kawah Bromo. 

Lihat selengkapnya