Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #13

Chapter 13: Motif Pembunuh Melvina

Minggu, 10 Maret 2024 pukul 13.35 WIB 


“Orang yang menghamili Melvina tidak lain adalah Elio,” ujar Detektif Ranu sambil menunjuk ke arahnya. Karta ikut berkata, “Aku juga menyaksikannya sendiri ketika aku dan Melvina menghilang di Gunung Bromo. Ada adegan yang menunjukkan kamu memperkosanya di Paris dan adegan ketika Melvina didiagnosis menderita kanker sekaligus konfirmasi kehamilan oleh Dokter Vladimir.” 

Elio malah tertawa, “Aku tidak paham apa yang kamu maksud. Kamu jangan terlalu percaya dengan apa yang kamu saksikan. Itu belum tentu benar. Kalian saat itu pasti kelelahan karena tersesat sampai ke Bukit Teletubbies.” Karta tetap memaksa, “Enggak, semua yang kusaksikan ini benar dan Melvina bilang sendiri pad…” hingga ucapannya dipotong, “Jika yang dikatakan Karta benar, tetap tidak ada buktinya. Ceritanya sudah di luar nalar.”

Tiba-tiba momen berdebat mereka terganggu saat mendengar suara ketukan di pintu ruangan itu. “Permisi, Pak, saya membawakan hasil laporan kematian Dokter Vladimir.” Itu adalah suara polisi yang sebelumnya datang ke ruangan itu untuk memberikan kabar tentang kematian Dokter Vladimir. “Masuk,” sesuai perintah, dia masuk lalu memberikan berkas itu kepada Detektif Ranu. Berkas itu sudah lengkap, berisikan laporan autopsi, TKP, dll. 

“Dokter Vladimir ditemukan meninggal karena gantung diri di dalam kamarnya, tapi di sini ada yang aneh. Di beberapa bagian tubuhnya ada bekas memar yang menunjukkan perlawanan… Teoriku adalah bahwa Elio membunuh Dokter Vladimir dengan mencekik dan membuatnya seakan gantung diri untuk menutupi fakta bahwa kamu menghamili Melvina.” 

“Itu hanya sebatas teorimu; tidak ada bukti yang menunjukkan siapa pelakunya dan mungkin dia benar-benar bunuh diri karena kematian Melvina,” bantah Elio. Dalam hati Detektif Ranu yakin pelakunya adalah Elio, tetapi dia mengubah topik, “Memang rekaman CCTV di lorong kamar itu sudah dihapus dan tidak ada sidik jari atau residu dari orang lain di kamar itu, dari kondisi jasadnya bisa disimpulkan kalau waktu kematiannya adalah 1 minggu yang lalu, bersamaan saat Melvina dibunuh. Lebih baik sekarang kita membahas motif pelaku pembunuhan Melvina.” 

Sekali lagi dia menunjuk Elio, “Kita mulai dari Elio, jika Elio menghamili Melvina dan membunuh Dokter Vladimir, maka motifnya membunuh Melvina untuk menutupi kasus korupsi dan kehamilan Melvina yang dia sebabkan. Sayangnya, rencananya gagal karena Evelyn berhasil mengirimkan laptop Melvina yang berisikan bukti-bukti korupsinya.”

“Semua itu juga berhubungan dengan alasan kenapa kalian mau membunuh Karta. Selama ini Melvina sudah mengumpulkan banyak bukti dan orang untuk membantunya mengungkap kejahatan kalian, jadi kalian tidak bisa membiarkan dia hidup. Di antara kalian yang bertugas melakukan pekerjaan kotor ini adalah Iosif, sebagai tangan kanan Elio, bisa saja dia diperintahkan untuk membunuh Melvina saat adegan terakhir di atas panggung.”

“Motif Mischa sendiri adalah karena dia cemburu; tanpa kalian beritahu, aku bisa melihat kalau Mischa dan Elio punya hubungan romansa. Pasti kamu cemburu dan iri, kan, Mischa, melihat kekasihmu menghamili Melvina. Itu alasannya kamu membunuh Melvina saat di panggung, saat itu kamu juga berada di panggung, kan?”

Melihat Mischa yang diam, Elio membantah, “Cukup, dari tadi yang kamu lakukan hanyalah membuat tuduhan tidak berdasar, bahkan kamu belum membahas bagaimana Melvina dibunuh. Seharusnya kamu membahas ini terlebih dahulu sebelum menyimpulkan motif pembunuh Melvina.”

Kini mereka berdebat lagi dan Detektif Ranu membalas, “Kamu tidak berhak menentukan apa dibahas di sini, aku sudah tau siapa pembunuhnya sejak rapat ini dimulai. Jika aku membahas proses pembunuhan Melvina sekarang, kalian tidak akan bisa melawan, aku ingin melihat kalian melawan.”

Elio menjawab dengan sombong, “Benarkah? Jika kamu benar-benar yakin dengan omong kosongmu itu, kenapa tidak kita bahas saja sekarang? Aku penasaran bukti-bukti dan tuduhan apa yang kamu punya.” Detektif Ranu tentu menerima tantangannya, “Oke, mari kita bahas sekarang…” Namun, sebelum dia mulai membahas bukti-bukti lain dan proses dibunuhnya Melvina, Mischa tiba-tiba berdiri. 

Tindakannya itu memancing amarah Elio, “Mischa, apa yang kamu lakukan? Cepat duduk lagi!” Mischa tidak berkutik, dia tampak teguh dengan keputusannya, “Tidak, Detektif Ranu aku mau membuat pengakuan keterlibatanku dalam penggelapan uang ini.” “Mischa, apa maksudmu?! Cepat duduk lagi, kamu tidak akan melakukan ini,” kata Elio. Namun, Mischa membalas, “Kamu selingkuh, Elio! Kamu juga sampai menghamili anak di bawah umur! Kamu berjanji semuanya akan berbeda, tapi nyatanya semuanya sama saja seperti Dyetskii Dom. Kamu sama saja seperti iblis itu, semua janji, balas dendam dan rencanamu sebenarnya hanya untuk dirimu sendiri! Tapi semuanya berakhir sekarang…” 


Kamis, 20 Februari 2024 pukul 10.42 WIB


Karta berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar VIP Melvina. Saat berada di depan pintu kamar, Karta dapat mendengar suara perempuan bernyanyi dengan gaya opera. Namun, tidak ada lirik yang dilafalkan dan Karta menyimpulkan bahwa Melvina sedang berlatih vokal. “Permisi,” ucap Karta sambil memasuki kamar itu. Kamar itu terasa dingin karena AC dan terang karena cahaya dari luar jendela. Melvina masih terus berlatih vokalnya, meski dia tahu kalau Karta sudah memasuki ruangan. 

“Pagi, Melvina, kayaknya latihan vokalmu terlalu keras. Kecilkan daripada nanti susternya marah, kedengaran loh dari luar,” kata Karta. Melvina berhenti bernyanyi untuk menjawab, “Ini sudah volume normal untuk latihan vokal opera, lagipula mereka tahu aku penyanyi opera, kan? Harusnya mereka paham dan aku juga nyanyi di kamarku sendiri, oh ya kamu sudah beli kue yang kupesan belum?” Karta duduk di kursi dekat ranjang Melvina, lalu meletakkan dua paper bag di atas kasur. 

Lihat selengkapnya