Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #14

Chapter 14: Pembunuh Melvina Terungkap

Rabu, 9 Oktober 2002 pukul 18.12 MSK


Di saat matahari telah tenggelam masuklah seorang pria ke dalam rumah dalam keadaan mabuk. Dia membanting pintu dengan keras dan berteriak dalam bahasa Rusia, “Adélie, berikan vodkaku sekarang!” Adélie menjawab, “Tapi kamu sudah berjanji tidak akan minum lagi, kan? Kita juga sudah tidak membelinya lagi…” “Tidak membelinya lagi?! Kamu jangan membuatku marah, Adélie. Aku sudah bekerja seharian dan aku mau minum sebentar,” sahutnya. 

Adélie tetap bersikeras, “Kamu sudah tampak mabuk, kenapa tidak kamu beli saja sendiri?! Sekalian biarkan kita kelaparan, pakai saja semua tabungan kita buat beli alkohol ini, biarkan kita mati kelaparan! Kamu bahkan tidak peduli dengan keluargamu sendiri!” Ucapan itu malah membuatnya semakin marah. Dia menjambak rambut istrinya sambil berkata, “Apa katamu?! Aku kerja keras untuk keluarga ini, memberikan kalian nafkah dan makanan, tapi saat aku mau minum saja kalian menyulitkanku!” Dia mendorong kepala istrinya sampai dia terjatuh dan menabrak kursi di meja makan. 

Kekacauan itu terdengar sampai ke luar rumah. Kegaduhan ini juga membuat bayi mereka yang mengenakan kalung ruby menangis dengan kencang. Iosif hanya bisa memeluk adiknya sambil menyaksikan kekerasan yang terus dilakukan oleh ayahnya. Ayahnya terus memukuli ibunya yang tidak berdaya di lantai. Hingga akhirnya Iosif tidak sanggup melihat kekerasan ini terus berlanjut.

Dia berjalan ke dapur lalu mengambil pisau yang ibunya gunakan untuk memasak makan malam. Karena dia masih pendek, dia perlu melompat dan berhati-hati agar panci yang berisikan sup panas tidak tumpah. Pisau itu bahkan terlalu besar di genggamannya. Kemudian Iosif berjalan ke belakang ayahnya yang perlahan menghentikan pukulannya karena lelah, dengan sekuat tenaga dia menusukkan pisau itu ke lehernya. 

Pisau itu menembus lehernya, membuat darahnya menetes ke wajah Adélie yang penuh luka lebam. Lalu dia mencabut pisau itu yang menancap di leher ayahnya. Ayahnya berusaha menutup lukanya, tetapi darah tetap mengalir dengan deras. Dia bahkan sudah tidak bisa bernapas, tetapi dia tetap berusaha meraih Iosif. “Ii… Ooo… Sif,” pita suaranya yang robek dan lehernya yang bolong membuatnya tidak bisa berkata dengan jelas. Iosif hanya mundur beberapa langkah melihat ayahnya yang merangkak dan perlahan mati. Ibunya yang menyaksikan itu semua pun berteriak dengan histeris, bercampur dengan tangisan bayinya yang menciptakan melodi kenahasan. Menyisakan seorang anak berumur 6 tahun dengan tatapan kosong yang berpikir bahwa dia telah melakukan hal yang benar. 


Sabtu, 7 Oktober 2006 pukul 11.40 MSK


Empat tahun berlalu setelah kejadian itu, kini Iosif tinggal di Romanov Dyetskii Dom. Tindakannya di masa lalu telah mengubah hidupnya menjadi semakin buruk. Jauh dari siapa pun yang ia kenal dan berada di lingkungan yang buruk. Namun, baginya ini bukanlah mimpi buruk karena Iosif tidak benar-benar memiliki emosi. Dia tidak mengalami menangis, marah atau bahagia sejak membunuh ayahnya. 

Di salah satu kamar bagi anak-anak perempuan, seorang gadis tampak tak bernyawa di atas kasurnya. Seorang anak laki-laki di sampingnya menarik belati Poignard emas dari leher gadis itu. Belati itu sangat mirip dengan belati yang digunakan untuk menikam Melvina tepat di atas panggung. Tidak lama setelah belati itu dicabut, darah mulai meresap ke dalam sprei kasur itu. Anak itu melakukannya dengan ekspresi datar layaknya mesin pembunuh. Ekspresi yang sama yang dia pasang ketika membunuh ayahnya. 

“Sudah cukup, kembalikan lagi belatiku dan terima kasih, Iosif,” kata anak laki-laki yang berdiri di samping kasur. Dia menerima belati itu dengan tangan kiri lalu membersihkan darah yang masih menempel dengan sapu tangannya. Iosif bertanya, “666, menurutmu yang kita lakukan ini bisa membuat situasi menjadi lebih baik? Mengembalikan adik perempuanku padaku?” 

Elio yang sudah selesai membersihkan belatinya menjawab, “Kamu tidak perlu memanggilku dengan angka, panggil saja Elio sama seperti aku memanggil nama aslimu, Iosif. Tempat ini memaksa kita menggunakan angka sebagai identitas kita, menyiksa kita, tetapi semuanya akan segera berubah. Aku sudah berada di sini sejak lama, Iosif. Jadi, aku menyaksikan semua yang mereka lakukan. Sama sepertimu aku juga kehilangan keluargaku, mereka mati semua hangus di dalam rumahku yang dibakar.”

Elio mengangkat belatinya yang terukir nama keluarga Farnese dan ornamen emas yang autentik. Dia melanjutkan, “Mereka dibunuh karena alasan politik; kini hanya aku yang tersisa di garis keturunan Farnese dan hanya belati ini saja yang menjadi bukti eksistensiku. Itu alasannya aku paham apa yang kamu rasakan, Iosif. Dengan melakukan ini, kita tidak bisa mengembalikan keluarga kita, tapi setidaknya kamu bisa bertemu adikmu lagi, Adelle. Ibumu pasti akan datang menjemputmu bersama adikmu karena mereka sudah tidak percaya dengan tempat ini.” 

Lihat selengkapnya