Kamis, 20 Februari 2024 pukul 10.54 WIB
Di kamar VIP rumah sakit itu, Melvina menceritakan semua hal tentang Elio dan komplotannya. Tidak hanya itu, dia juga menceritakan masalah-masalah yang terjadi di keluarganya, Dyetskii Dom, karier operanya dan perasaannya menghadapi semua itu. Banyak sekali rahasia dan penderitaan Melvina yang Karta kini ketahui.
Karta mengajukan pertanyaan, “Apa yang akan kamu lakukan dengan janin di perutmu itu, Melvina?” Pertanyaan yang bagus, ini membuat Melvina berpikir, “Aku sendiri sering memikirkannya, aku tidak pernah membenci janin ini karena ini bukan salahnya. Tapi aku takut: jika dia lahir, apa yang akan terjadi padanya? Sebentar lagi aku akan mati, jadi aku tidak bisa bersamanya… Tanpaku, bagaimana nasibnya nanti? Aku sudah menceritakan tentang kehidupanku, kan? Hidup ini kejam, bukan karena pada dasarnya hidup ini buruk, tapi orang-orang seperti Romanov dan Elio lah yang membuat hidup ini sengsara. Aku hanya tidak mau dia mengalami apa yang kualami sampai sekarang.”
Karta tidak memberikan komentar, dia hanya bisa mengungkapkan ketidakberdayaannya, “Maaf, aku gak bisa melakukan apapun…” Melvina menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, Karta. Kita juga belum bertemu saat itu, tapi mungkin kamu bisa membantuku dengan sesuatu, aku punya permintaan.” “Permintaan apa? Bilang saja, aku kan kekasihmu pasti akan kupenuhi,” ucap Karta.
“Sejak aku memasang spyware, aku berhasil mengumpulkan banyak bukti-bukti penggelapan uang. Aku juga mengumpulkan banyak fotokopi berkas-berkas yang mencurigakan. Semuanya ini akan dilepaskan ke media massa dan kepolisian saat aku sudah mati,” Karta memotong, “Mati? Maksudmu saat kamu meninggal karena kanker?” “Bukan, aku tidak akan mati seperti itu. Aku sudah menuliskan naskah untuk opera terakhirku dan kamu adalah tokoh kuncinya. Permintaanku adalah agar kamu membunuhku…”
“WHAT?! Aku gak paham, kenapa aku membunuhmu? A-aku gak mungkin membunuh…” Melvina menenangkannya, “Tunggu dengerin dulu, dengerkan penjelasanku. Rencananya kamu akan membunuhku saat pertunjukan opera nanti, tapi detailnya akan kujelaskan nanti. Kamu hanya perlu membunuhku saja, Karta. Supaya aku bisa terbebas dari semua penderitaanku. Aku tahu kamu cocok untuk peran ini sejak kamu membantuku menangkap pencuri itu di Kayutangan. Aku tahu kamu…”
Kartra memotongnya, “Tunggu, kamu sudah merencanakan semua ini sejak sebelum kita bertemu dan aku cocok untuk peran ini? Jadi, selama ini kamu hanya menggunakanku dalam rencana gilamu ini?! Gak bisa gak bisa…” “Tapi Karta, kamu bilang akan mendengarkan permintaanku dan memenuhinya…” Karta membentaknya, “Gak bisa, Melvina! Gak mungkin aku membunuhmu, orang waras juga gak akan mau! Kamu tahu ayahku membunuh seorang remaja, lalu dia bunuh diri, dan kamu mau aku membunuh juga?! Kamu juga berbohong padaku sejak awal…” “Bukan begitu, dengarkan aku dulu…” namun, Karta langsung berdiri dan meninggalkan ruangan, “Aku butuh waktu sendiri.” Setelah itu, Karta tidak kembali selama hari itu. Melvina juga tidak memanggilnya datang dan memberinya waktu untuk memproses semua informasi baru ini.
Aku tidak pernah menyangka akan benar-benar membunuh Melvina. Awalnya aku marah, menyangkal dan menolak, tapi… Aku merasa dikhianati oleh takdir. Aku pikir pertemuanku dengan Melvina akan menjadi momen kebahagiaan yang sementara, tapi aku terpaksa memilih antara membiarkan Melvina mati perlahan karena kanker dan hidupnya terus dieksploitasi atau mengabulkan permintaannya untuk dibunuh dan membebaskannya dari semua penderitaan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membunuhnya.
Sabtu, 3 Maret 2024 pukul 19.23 WIB
“Jangan terlalu dipikirkan, Karta. Aku juga tidak memaksamu, ini hanya permintaan. Hmm, sudah kuduga jas ini akan cocok untukmu, man bunmu juga buat kamu tampak lebih manly. Kamu harusnya percaya dengan penilaianku, hasilnya pasti bagus kayak gini.” Karta tersenyum, “Makasih sudah milihkan setelan ini, Melvina. Ngomong-ngomong, sekarang kita ini ngapain?” Ekspresi wajah Melvina berubah menjadi jengkel, “Kamu beneran tidak baca jadwal yang kukirim ya, sekarang ini kita sesi berdansa. Jangan bilang kamu juga lupa latihan dansa yang kita lakukan selama ini.”