Sabtu, 3 Maret 2024 pukul 20.11 WIB
Setelah acara malam itu berakhir, Karta berpisah dengan Melvina dan pergi pulang ke rumahnya. Dia membuka gerbang rumahnya lalu memarkir motor Honda Astrea yang diwariskan ayahnya. Saat akan memasuki rumah, tiba-tiba Karta memiliki firasat buruk. Benar saja, pintu rumahnya ternyata tidak terkunci, padahal biasanya jika sudah malam seperti ini ibunya akan mengunci pintu.
Karta memutar gagang pintu itu lalu memasuki rumahnya. Di ruang tamu dia melihat ada bercak darah sedikit di lantai. Seketika jantungnya langsung berdebar kencang. Dia memanggil, “Bunda! Aku sudah pulang, kenapa ada darah di ruang tamu? Bunda? Bunda di rumah?” Setiap usaha untuk memanggil ibunya berakhir sia-sia. Tidak ada jawaban dan ibunya tidak ada di rumah.
Karta berhenti mencari lalu menelepon teman PNS ibunya, namun katanya ibunya sudah pulang sejak tadi. Kini Karta mencoba menelepon HP ibunya dan ternyata HP-nya berdering di ruang tamu. Dia menoleh ke salah satu sofa dan melihat HP ibunya yang berada di atas sebuah kertas.
Karta mengambil HP ibunya dan kertas itu, lalu membacanya. Di kertas itu terdapat tulisan, “Halo Karta, jika kamu merindukan ibumu, silakan panggil nomor di bawah ini, XXXX XXXX XXXX.” Karta langsung menelepon nomor itu, “Halo, ini aku Karta, di mana ibuku?!” “Allo Karta, kamu mencari ibumu? Kenapa? Kamu rindu padanya?” Karta semakin marah, “Jangan main-main, Iosif, ke mana kamu membawa ibuku?!” “Aku hanya membawanya ke tempat yang lebih sepi supaya kita berdua bisa mengobrol. Akan kukirimkan koordinatnya. Datanglah sendiri dan jangan coba-coba menelepon polisi. Aku akan menunggumu di sini.” Iosif langsung mengakhiri panggilannya. “Hey, tunggu, kita belum selesai teleponnya, HEY!” Karta mencoba menghubungi nomor itu lagi, tetapi tidak terhubung. Namun, dia mendapatkan sebuah koordinat lokasi yang jauh dari pusat Kota Malang.
Sekarang Karta menelepon Melvina, “Halo Melvina, aku punya masalah: ibuku diculik sama Iosif. Dia memintaku untuk datang ke sana sendirian, aku harus ngapain ini?” “Tunggu-tunggu, ibumu diculik? J-jangan pergi ke sana sendirian Karta, ini jebakan. Kamu harus panggil polisi,” Karta menjawab, “Polisi? Kalau aku libatkan mereka, Iosif bakal bunuh ibuku, kamu lupa kalau dia pernah mencoba membunuhku?!” “Aku inget, tapi kalau kamu ke sana sendiri dia akan membunuhmu dan ibumu,” Karta berpikir, “Mungkin ada cara lain… Oh, aku akan meminta bantuan Andika aja, setidaknya dia bisa membantuku dari belakang. Aku pergi sekarang Melvina, aku gak punya banyak waktu…”
“Tunggu! Aku bilang jangan pergi, kamu akan dibu…” Telepon itu terputus, menyisakan suasana hening yang mencekam. Belum sempat Melvina menelepon balik, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. “Cyka blyat! Siapa yang mengetuk pintu kamar jam segini?” Karena Melvina kesal dia tidak sempat mengintip dari balik pintu, dia langsung membuka pintu kamarnya. Di luar pintu, Elio sudah menunggu dengan senyuman yang menekuk kumisnya.
“Buonasera, Melvina, maaf aku datang malam-malam seperti ini, tapi boleh aku masuk? Aku mau membicarakan sesuatu,” tentu Melvina menolak, “Nyet, besok saja.” Namun, saat Melvina akan menutup pintu, kaki Elio mengganjalnya. “Melvina aku hanya ingin bicara,” dia langsung membanting terbuka pintu itu membuat Melvina mundur. Lalu dia masuk dan menutup pintu kamar itu serta menutup pengaman pintu.
“Keluar dari kamarku sekarang!” teriak Melvina. Elio dengan tenang berkata, “Ayolah, Melvina, jangan terlalu serius. Aku datang untuk mengobrol, ayo duduk di sofa. Kamar suitemu cukup luas ternyata, pasti kamu senang dengan pilihanku.” “Oke, sebentar saja dan habis ini kamu keluar.” Dengan begitu, mereka berdua duduk di sofa. Elio masih saja memasang senyuman di wajahnya, seakan bermain-main dengan mangsanya.
Elio berkata, “Melvina, kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan selama ini. Kamu memasang spyware di HP-ku dan server IOH. Kamu juga sudah mengumpulkan banyak bukti-bukti, tapi aku membiarkan semua itu dan sekarang waktunya aku bersih-bersih.” Melvina pura-pura bodoh, “Aku tidak tahu apa yang kamu maksud.”
“Jika kamu mengintip ke dalam mata iblis, pastikan dia tidak sedang melihatmu dari pantulan cermin. Aku tau semuanya Melvina, aku bahkan tau kalau kamu berencana dibunuh oleh Karta.” Melvina bertanya, “Jika itu semua benar, kamu mau apa dariku?” “Bukankah sudah kukatakan tadi, aku mau bersih-bersih,” Melvina menjawab, “Jadi, kamu mau membunuhku dan menghilangkan bukti-bukti?” “Membunuhmu, heheh, tidak akan. Jika kamu mati, dari mana uangku akan datang? Tapi, kalau menghapus bukti-bukti…”
Elio berdiri lalu berjalan ke sekeliling ruangan. Melvina memperhatikan gerak-geriknya, “Kamu tidak akan menemukan apa-apa di sini.” Namun, cepat atau lambat, Elio menemukan laptop Melvina yang berisikan bukti-bukti. “Aku penasaran apa yang ada di sini,” katanya sambil menyalakan laptop itu. Sayangnya, dia tidak bisa masuk karena laptop itu dikunci dengan password. Dia membawa laptop itu ke hadapan Melvina, “Buka laptop ini sekarang…” Melvina menolak, “Tidak akan.”
“Well then, you give me no choice.” Elio langsung mematahkan layar dan keyboard laptop itu, membuatnya mati seketika. Kemudian dia membantingnya dan menghancurkannya dengan kursi kayu. Saat laptop itu sudah hancur, dia berkata, “Sekarang enaknya kita ngapain?” Melvina mempunyai firasat buruk, langsung bangkit dari sofa itu dan mencoba lari ke pintu keluar. Namun, Elio berhasil menangkap tangannya lalu membantingnya ke tembok.
“Lepaskan aku!” rintih Melvina. Di hadapannya, Elio semakin mendekat dan berkata, “No no no no, kamu tidak bisa pergi dulu, Melvina. Kenapa tidak kita nikmati malam ini bersama, pasti dia tumbuh dengan sehat di dalam rahimmu kan Melvina. Tapi tampaknya dia kesepian. Aku akan mengisimu malam ini supaya dia punya teman, heheheh. Buka gaunmu sekarang, Melvina.”
Melvina yang terpojokkan di tembok merasa putus asa, tetapi dia melihat ada vas bunga di sampingnya. Dengan sangat keras dia langsung memukulkan vas itu ke kepala Elio sampai berdarah. “PUTA!” Elio berteriak kesakitan sambil menahan luka di dahinya itu. Melvina memanfaatkan momen itu untuk lari menuju pintu. Namun, sebelum dia bisa meraih gagang pintunya, Elio menariknya dari belakang sampai mereka berdua jatuh.