Sabtu, 2 Maret 2024 pukul 20.43 WIB
Lantai di belakang Karta membentuk retakan bekas peluru revolver itu. Tembakan Iosif meleset karena tangannya ditangkis oleh Karta. “Aku gak akan mati malam ini!” teriak Karta sambil bangkit dari kursinya lalu memegang kedua tangan Iosif dan mendorongnya sampai ke tembok. Mereka saling bertatapan dengan hasrat membunuh yang kuat.
Iosif mengayunkan tangan kanannya yang memegang revolver ke wajah Karta dan menimbulkan luka goresan di pelipisnya. Ditambah, dia menendang perut Karta sampai dia terhuyung ke belakang. Karta mengayunkan kursi kayunya, namun Iosif cukup menghindar ke belakang dan aksi ini membuatnya terpojok.
Karena tidak kunjung kena, Karta membanting kursi itu dan menggunakan salah satu kaki kursi yang ujungnya tajam sebagai senjata. Saat Karta akan menyerang, Iosif dengan cepat mendaratkan tendangan knee ke perut Karta sekaligus pukulan hook kiri. Namun, Karta membalas dengan mengayunkan kaki kursi itu ke atas yang ditangkis oleh Iosif dengan tangannya. Membuat lengan tuksedo yang ia kenakan sobek. Sejak awal mereka bermain Russian Roulette, mereka masih mengenakan tuksedo dari pesta di hotel tadi.
Iosif terus menahan serangan Karta, hingga kayu itu membuat revolvernya terjatuh. Kemudian dia mengambil alih kayu itu dan menghajar kepalanya. Di saat Karta terbaring merintih di lantai, tiba-tiba Andika masuk, “Karta, ada apa ini? Iosif, apa yang kamu lakukan padanya?!” Karta berteriak, “Sudah kubilang jangan masuk ke sini! Cepet pergi dan panggil polisi!” “Tidak ada yang pergi dari sini hidup-hidup.” Iosif langsung menerjang Andika. Andika tidak diam saja, bahkan dia bisa melucuti kaki kursi itu.
Namun, dia tidak cukup kuat untuk melawan Iosif. Saat posisi mereka berada di deadlock, Iosif mengangkat tubuh Andika lalu melemparkannya keluar jendela sampai kaca jendela itu pecah. Serpihan kacanya menancap di tubuh Andika yang terkapar di luar rumah. Selama mereka bertarung, Karta berhasil mengambil revolver itu, tetapi dia tidak bisa menemukan pelurunya.
Karta memutuskan untuk bluffing dengan berdiri dan menodongkan revolver itu, seolah-olah terdapat peluru di dalamnya. Tentu, Iosif tahu, “Tidak ada peluru di dalamnya; semua peluru ada di aku.” Karta menjawab, “Kamu yakin? Tadi kamu menjatuhkan 1 peluru saat kita bertarung.” “Kalau begitu kamu bisa menembakku lagi dan kali ini aku benar-benar akan mati.” Dia berjalan mendekati Karta tanpa rasa takut. Meski Karta memerintahkannya berhenti, dia tetap maju.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar dering HP-nya. Dia mengecek HP itu lalu menerima panggilannya. Karta masih menahan posisinya dan menodong Iosif. Dia hanya bisa mendengar Iosif berbicara di telepon, “Iya sedang kulakukan… Kenapa? Ini perintahmu… Oke, aku akan segera ke sana…” Iosif berkata pada Karta, “Simpan revolver itu, pertarungan kita belum selesai.”
Karta tetap dalam posisi menodong dengan perasaan heran, tetapi masih belum yakin apakah dia melakukan prank lagi. Dia menyaksikan Iosif membiarkannya hidup dan hanya melipat jasad kedua pemilik rumah itu yang tadi ia bunuh ke dalam koper. “Aku gak paham. Kamu akan membiarkan kami hidup?” Pertanyaan itu dijawab, “Tidak juga, aku akan kembali lagi untuk membunuh kalian. Untuk saat ini kalian bebas melakukan apa pun. Do svidaniya.” Kemudian dia pergi ke mobil BMW sedan-nya dan meninggalkan TKP.
Setelah Iosif pergi, Karta bersama Andika membawa ibu Karta ke rumah sakit. Mereka tidak melapor ke polisi untuk saat ini dan saat di rumah sakit mereka membuat alasan bahwa terjadi kecelakaan.
Karta menunggu di rumah sakit sampai jam 10 malam supaya ibunya mendapatkan kamar. Dia juga mendapatkan perawatan untuk luka-luka di wajahnya, begitu juga Andika. Kamar yang ibunya dapatkan berada di kamar bersama beberapa orang. Karta tetap bersyukur ibunya mendapat kamar, tetapi sampai saat ini ibunya masih belum sadar.
Ketika selesai mengurus administrasi, Karta mengecek HP-nya. Ternyata sejak jam 8 tadi Melvina terus berusaha menghubunginya, tetapi HP Karta dalam mode silent. Dia menelepon Melvina, “Halo Mel, maaf aku baru jawab sekarang…” “Karta, kamu gak apa-apa kan? Seharusnya kamu gak pergi ke sana, aku khawatir dari tadi!” teriak Melvina. “Maaf, tapi sekarang sudah aman. Aku lagi di rumah sakit. Ibuku belum bangun,” terdengar suara napas Melvina yang lega, “Syukurlah, untung tepat waktu dan kalian gak papa. Karta, bisa gak kita ketemu di gedung opera sekarang? Aku mau bicarakan rencana buat besok.” “Boleh, aku akan segera ke sana,” kemudian telepon itu berakhir.
“Andika, aku malam ini dan besok harus menjaga Melvina, jadi gak bisa nemenin bunda. Kamu bisa gak jagain? Nanti aku bakal ganti kok.” Andika setuju. “Kamu pergi aja. Melvina juga butuh perlindunganmu. Bakal kujagain kok ibumu, jangan khawatir. Sekalian aku mikir mau minta apa.”
Setelah berpamitan, Karta pergi sendiri ke gedung opera, menaiki Gojek. Sesampainya di sana, dia langsung pergi ke barisan kursi penonton. Di sana Melvina sudah menunggu sendirian, saat menyadari kehadirannya dia langsung memeluk Karta, “Jangan pernah buat aku khawatir lagi,” saat menyentuh wajah Karta dia menemukan kain kasa dan perban, “Gimana kamu bisa dapet luka ini? Apa Iosif yang melakukannya?”
“Ya, dia memaksaku bermain Russian Roulette, tapi ternyata pelurunya kosong dan kita tarung. Anehnya, dia berhenti karena ditelepon seseorang.” “Yang penting kamu aman sekarang, tadi Elio juga datang ke kamarku,” Karta langsung kaget, “What? Terus apa yang terjadi? Gaunmu sekarang ini juga compang-camping.”
“Dia sudah tahu rencanaku dan merusak laptopku, bahkan dia berusaha memperkosaku lagi, tapi aku berhasil kabur kali ini. Hey, ayo ngobrol di panggung aja.” Melvina membawa Karta ke panggung yang lampunya sudah ia nyalakan. Gedung opera itu kosong dan gelap; hanya ada mereka berdua saja di panggung yang menyala.
Mereka duduk di tepi panggung lalu berdiskusi, “Bagaimana sekarang? Apa rencanamu gagal?” Melvina menggelengkan kepala, “Tidak, semuanya berjalan sesuai rencana; dokumen dan laptop backupku ada di Evelyn. Jadi, kamu hanya perlu membunuhku besok, sesuai rencana.”
Lalu suasana menjadi hening hingga Karta berkata, “Kenapa kamu sangat ingin mati, Melvina?” “Karena selama aku hidup aku selalu merasa seperti seorang budak yang dirantai, aku dipaksa menjadi diva opera oleh ayahku, tapi lama-lama aku terkenal. Mungkin ini tampak mengagumkan, tapi ini hanya menambah rantai yang mengikatku. Aku harus selalu akting, menjadi karakter lain, menjadi apa yang orang inginkan… Tapi yang aku inginkan hanyalah kebebasan dan kebahagiaan. Sayangnya aku mengalami semua masalah ini, aku tidak akan bisa mendapatkan semua itu. Pada akhirnya kebebasanku datang ketika aku mati.”