Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #18

Chapter 18: Melvina"s Last Opera Final Act

Karta berlutut di jalan raya yang kosong itu. Air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Saat ia berhenti menangis, Karta melihat sesuatu di kejauhan. Dia melihat mobil sedan hitam yang menabrak pohon. Saat Karta mendekatinya, dia melihat seorang gadis di kursi sopir yang mati dengan kepala yang menempel pada setir mobil. Darah menetes dari lukanya, membasahi setir mobil itu. 

Anehnya, wajah gadis itu sangat familiar bagi Karta, “Aku pernah lihat dia sebelumnya… E-erina?” Yang lebih anehnya lagi adalah kecelakaan mobil ini terjadi di jalan yang seharusnya ditutup akses kendaraan. Namun, Karta tidak mau memanggil bantuan karena itu akan membongkar alibinya. Sehingga dia hanya pergi meninggalkan tempat itu. 


Minggu, 10 Maret 2024 pukul 13.45 WIB 


Detektif Ranu terkekeh, “Heheheh menarik, aku salah dan pembunuh sebenarnya adalah Karta? Karta, jika memang kamu pembunuhnya, kenapa kamu melakukannya?” Tetap dalam keadaan berdiri, Karta bersaksi, “Aku membunuh Melvina untuk membebaskannya dari penderitaan atas permintaannya. Dia menderita kanker, hamil, dan tersiksa seumur hidupnya. Dipaksa menjadi orang lain dalam dunia opera, dia hanya ingin bebas…” 

Elio menyahut, “Sudah kan? Kamu sudah menemukan pembunuhnya. Karta sudah mengaku, jadi rapatnya selesai sekarang.” “Pengakuan ini memang bisa digunakan di pengadilan nanti, tapi tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Karta adalah pembunuhnya. Bisa saja kamu memaksa Karta untuk mengaku dan menerima hukumannya, Elio. Bukankah selama ini kamu selalu mencoba membunuhnya, kan? Semua bukti juga mengarah padamu, Elio.” 

“Bukti apa lagi yang dibutuhkan? Kenapa kamu gak pernah berpikir kalau aku yang dijebak? Karta sudah mengaku, kamu butuh apalagi? Tahan dia sekarang dan akhiri rapat omong kosong ini,” perintah Elio. Tak disangka tiba-tiba Lydia menengahi mereka, “Tunggu, kita gak bisa langsung menetapkan Karta sebagai pembunuhnya, aku mengenal ayahnya. Meskipun ayahnya pernah membunuh dan telah bunuh diri, Karta gak akan membunuh karena dia membenci tindakan ayahnya.” 

Ucapannya hanya membuat Karta marah, “Jangan bawa-bawa ayahku, kalian sendiri polisi yang memecatnya! Membuatnya depresi dan bunuh diri! Membuat hidup keluargaku berantakan dan sekarang kamu mau membelaku? Kenapa gak sejak dulu, sebelum ayahku bunuh diri, hah?!” Lydia membentaknya, “Aku lagi bantu kamu, Karta, kenapa kamu malah melawanku?” Karta tetap keras kepala, “Sudahlah, Kak Lydia gak usah membantuku. Sudah jelas aku pembunuhnya, tahan aku sekarang supaya semua ini berakhir.” 

Tiba-tiba Erina ikut terbawa emosi, “Jangan tahan Karta! Lebih baik kita membuktikan siapa pembunuhnya sekarang. Aku tau caranya, kita bisa tanya langsung ke Melvina.” “Apa maksudmu?” dia menjawab pertanyaan Detektif Ranu, “Calya bisa memanggil melakukan spirit medium. Dia bisa memanggil jiwa Melvina untuk memberi saksi, ya, kan, Calya?”

Calya menjawab, “Bisa, aku bisa memanggil jiwa Melvina, tapi aku butuh medium. Yaitu orang sebagai wadahnya,” Erina menyahut, “Aku bersedia menjadi mediumnya, bagaimana semuanya?” Detektif Ranu kini bertanya, “Bagaimana Yunita kamu setuju?” “Saya sendiri setuju,” maka diputuskan, “Silakan kalian lakukan spirit medium. Aku penasaran apa yang akan dikatakan Melvina. Karta kamu bisa duduk…” 

Tentu Elio akan menolak, “Hey, ngapain kalian manggil arwah-arwah gak jelas? Kalian hanya membuang-buang waktu, lebih baik biarkan hakim yang menentukan…” “Diam! Aku yang menentukan jalannya rapat ini, aku yang memimpin penyelidikan ini, jadi silakan lakukan spirit mediumnya.” 

Setelah Karta duduk, Calya dan Melvina bangkit dan mengatur altar ritual di tengah-tengah ruangan dan meja-meja yang berbentuk U. Altar itu berbentuk lingkaran dengan beberapa simbol dan taburan garam di keliling lingkaran. Erina duduk bersila di tengah lingkaran itu, sedangkan Calya duduk di luar lingkaran. Di dalam lingkaran juga terdapat pakaian Melvina dan barang-barang miliknya yang sudah disiapkan. Calya menyalakan lilin-lilin lalu membacakan mantra dan doa. 

"Dhuh Sang Hyang Widi, kang Maha Kuwasa, ing tengahing peteng lan tangis, kawula nyuwun kawelasan. Buka lawang antarane jagad kasar lan alus, paringana dalan kanggo roh kang kangen bali. Yen pancen durung wekasane, wenehana padhang, wenehana swara, supaya Melvina bisa rawuh, matur, lan nyritakake kasunyatan."

Api lilin-lilin mulai bergerak tidak stabil dan terasa ada angin yang kuat, padahal ruangan ini tertutup. Erina tampak kesakitan dan untuk sesaat dia kehilangan kesadarannya. Saat sadar tatapan matanya sudah berbeda, kini tubuhnya diisi oleh jiwa Melvina. Sebelum Melvina bergerak Calya memperingatkan, “Selamat datang Melvina, kamu bisa melakukan apapun yang penting jangan keluar dari lingkaran ini.” 

Melvina mengangguk lalu berdiri, “Privyet, tampaknya kalian sedang serius banget. Aku tahu kenapa di sini, pasti kalian ingin tahu siapa yang membunuhku, kan?” Detektif Ranu berkata, “Benar, tapi apa kamu benar-benar Melvina?” Dia menjawab dengan yakin, “Tentu, akan kuberikan bukti yang hanya aku dan beberapa orang tahu, aku diperkosa Elio sampai hamil, kanker dan kehamilanku terungkap di waktu yang bersamaan, aku suka kue atau yang manis-manis, aku hobi bunuh diri, aku…” 

“Cukup-cukup, oke kalau kamu memang Melvina. Siapa yang membunuhmu?” Namun, Elio memotongnya, “Tunggu, kalau Melvina yang dibunuh di dalam kegelapan, bagaimana dia tahu siapa pembunuhnya? Dia tidak bisa melihat apa-apa.” Melvina menjawab, “Meski aku tidak bisa melihat apa-apa, aku tetep tahu siapa pembunuhnya. Aku bisa mengenali suaranya, aroma tubuhnya, napasnya, bahkan keberadaannya. Aku tahu karena tubuhku langsung bereaksi akibat trauma karena dia memperkosaku… Kamu pembunuhnya, Elio.” 

Tepat di saat itu, Karta berdiri, “Aku yang membunuhmu, Melvina! Aku yang menusukkan belati itu ke perutmu dan memelukmu di saat kamu sekarat. Akulah yang membebaskanmu dan menemanimu sampai mati, kenapa kamu gak mau mengakuinya? Biarkan aku dihukum supaya terlepas dari semua rasa bersalahku…” 

“Kamu bukanlah pembunuhku, Karta. Kamu adalah kekasihku, penyelamatku yang membuat hari-hari terakhir hidupku penuh kebahagiaan. Janganlah merasa bersalah karena kamu tidak bisa menyelamatkanku. Kamu sudah membuat hidupku terasa bebas dan bahagia. Selama ini aku selalu menjadi aktris dan penyanyi opera yang harus memerankan karakter lain. Aku juga harus tampil yang terbaik di hadapan semua orang, semua ini terasa sangat berat. Tapi saat aku bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri… Jadi, tidak mungkin kamu pembunuhku…” 

Lihat selengkapnya