Opera Terakhir Melvina

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #19

Chapter 19: Her Gift of New Life

Jumat, 1 Maret 2024 pukul 19.43 WIB


Melvina duduk di tepi panggung menunggu seseorang datang. Beberapa menit berlalu dan akhirnya seseorang membuka pintu masuk. Itu adalah Erina dan Melvina yang melambaikan tangan padanya. Saat duduk di samping Melvina, dia bertanya, “Apa kabarmu, Melvina? Kamu sudah baikan? Kudengar kamu opname di rumah sakit…” Melvina menjawab, “Sudah, sebenarnya aku tidak sakit apa-apa selain kanker ini, jadi di sana aku bosen banget. Gimana kabarmu dan ibumu? Sudah sejak 3 tahun lalu kita tidak bertemu.” 

“Baik, penyakit hepatitis B ibuku juga sudah sembuh, semuanya baik… Aku dengar tentang rencanamu dari Madam Sirelle… Dan aku sudah memutuskannya… Aku akan memberikanmu hidupku, Melvina.” Melvina langsung heran, “Tapi kenapa kamu mau?” “Karena… Aku mencintaimu, Melvina. Maksudku itu dulu saat kita bertemu, ibu kita sakit, kita jadi dekat dan saling menutup luka. Kita bahkan jadi sahabat, tapi kamu harus kembali ke Rusia karena ibumu meninggal. Sejak saat itu, kamu jadi penyanyi opera terkenal. Aku bangga dan ikut bahagia, tapi aku juga sedih karena kita tidak bersama lagi. Sekarang kamu mengidap kanker dan aku membaca naskah opera terakhirmu. Kamu tahu kalau aku punya hyper empathy, jadi sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Saat membacanya, rasanya kayak aku mengalami semua itu sendiri. Aku gak tahu bagaimana bisa mereka melakukan itu padamu. Aku merasa aku harus…” 

Melvina langsung memeluk Erina, “Jangan bicara lagi, aku paham semuanya. Maafkan aku selama ini Erina,” dalam pelukan Melvina air mata Erina tidak bisa terbendung lagi. Sambil terisak, dia hanya bisa berkata, “Aku hanya ingin kamu bisa hidup normal dan bahagia…”

“Melvina, aku tahu kamu mencintai Karta dan tidak akan pernah memilihku. Tapi aku tetap akan memberikan hidupku padamu, hiduplah dengan bebas dan bahagia. Tolong jaga ibuku ya, tolong gantikan aku jadi seseorang yang lebih baik. Selamat tinggal, Melvina…” 

Melvina terbangun di tubuh Erina di dalam mobil. Dia menyentuh kepalanya dan ternyata semua lukanya sudah sembuh. Di luar mobil hujan masih turun dengan deras. Dia mendapatkan semua ingatan dan perasaan yang Erina rasakan selama ini. Semua emosi itu membuat air matanya mengalir. Dia menangis dan bergumam, “Maaf dan terima kasih, Erina.” 


Minggu, 10 Maret 2024 pukul 16.44 WIB 


Setelah kekacauan yang terjadi di ruang konferensi, nyawa Elio tidak terselamatkan, sedangkan Mischa dan Iosif resmi ditahan untuk persidangan. Rapat itu langsung diakhiri setelah kejadian itu. Kini Detektif Ranu harus menghadap langsung kepada Kombes Polri Putra di kantor polisi. Di ruangan itu dia memaksakan dugaannya, “Semua ini sudah direncanakan oleh Melvina, Pak. Dia merencanakan supaya Karta membunuh Melvina dan menjebak Elio sebagai pembunuhnya.” Kombes Polri Putra bertanya, “Tunggu, katamu sebelum rapat ini kalau Iosif dijebak dan pembunuh aslinya adalah Elio. Kenapa sekarang jadi Karta? Dia kan hanya saksi dan pacar Melvina.”

“Di situ saya salah, Pak. Pembunuhan Elio oleh Iosif di ruang konferensi tadi sudah direncanakan matang oleh Melvina. Pembunuhan Melvina ini digunakan sebagai medium untuk mengungkap kejahatan Elio dll. Melvina juga ingin bebas dari penderitaannya, makannya dia merencanakan semua ini.” 

“Jika memang Melvina merencanakan semua ini terus, kenapa? Dia tetap korbannya, kan? Tugas kita adalah mencari pembunuhnya, kalau dari kasus pembunuhan ini semakin banyak skandal dan kejahatan yang terungkap makin bagus lagi…” “Iya, Pak, makannya saya bilang kalau pembunuh sebenarnya ini adalah Karta,” dia langsung dibantah, “Inspektur Ranu! Kamu sudah lalai dalam tugasmu dan Elio meninggal dibunuh oleh Iosif dalam pengawasanmu. Mau bilang apa besok kita ke pers, kita ini sudah dituntut oleh banyak pihak untuk menyelesaikan kasus ini, bahkan dari Rusia. Kita gak bisa tiba-tiba mengganti pembunuhnya menjadi Karta tanpa bukti yang kuat.” 

“Kematian Elio adalah buktinya. Jiwa Melvina menyarankan semua orang di ruangan untuk menuliskan beberapa kalimat supaya nanti dicocokkan dengan surat ancaman pembunuhannya. Hal itu dilakukan tepat setelah Karta akan mengaku, sehingga menunda pengakuannya dan memberikan peluang untuk Iosif membunuh Elio.” 

Lihat selengkapnya