OPLAS Perubah Nasib

ahmadbarnash
Chapter #1

Si Tonggos

Pagi di SMA Nusantara selalu dimulai dengan dua hal yang pasti: bel masuk yang telat lima menit dan suara teriakan Pak Satpam yang menyuruh siswa segera masuk kelas.

Dan pagi itu, ada satu hal lain yang juga pasti.

"WOI, TONGGOS DATENG!"

Satu kelas langsung menoleh ke arah pintu.

Seorang cowok kurus dengan rambut berantakan dan seragam yang terlihat sedikit kebesaran melangkah masuk sambil membawa kantong plastik berisi gorengan.

Namanya Jupri.

Korban ejekan langganan.

Pemegang rekor wajah paling sering dijadikan bahan meme satu angkatan.

Pemilik gigi depan yang menonjol ke depan seperti sedang berusaha kabur dari mulutnya sendiri.

Namun ada satu hal yang membuat Jupri berbeda dari korban bullying kebanyakan.

Dia tidak pernah marah.

Justru dia sering ikut menertawakan dirinya sendiri.

"Pri, lu kalau senyum bisa nyolok mata orang kagak?" teriak Beni dari belakang kelas.

Jupri berhenti.

Menatap Beni.

Lalu mengangguk serius.

"Bisa."

"Kok bisa?"

"Gue pernah nguap di depan kipas angin. Baling-balingnya bengkok."

Satu kelas meledak tertawa.

Bahkan Beni yang tadi mengejek sampai menepuk meja.

Jupri ikut tertawa paling keras.

Ia berjalan santai menuju bangkunya.

Di dekat jendela, seorang siswi sedang membaca buku.

Rambutnya dikuncir sederhana.

Wajahnya manis tanpa make-up berlebihan.

Namanya Rena.

Sahabat Jupri sejak SD.

"Lu telat lagi," kata Rena tanpa mengangkat kepala.

"Bukan telat."

"Terus?"

"Gue ngasih kesempatan guru buat masuk duluan."

Rena mendesah.

"Suatu hari gue pengen lihat lu ngomong normal."

"Gue juga pengen lihat rekening gue normal."

Rena memukul lengan Jupri pelan.

Jupri nyengir.

Mereka sudah terlalu lama berteman untuk merasa canggung.

Rena adalah satu-satunya orang yang masih melihat Jupri sebagai manusia normal.

Bukan badut.

Bukan bahan candaan.

Bukan meme berjalan.

Manusia.

Dan bagi Jupri, itu lebih berharga dari yang bisa ia ungkapkan.

Bel pertama berbunyi.

Pelajaran berlangsung seperti biasa.

Atau setidaknya sampai jam istirahat tiba.

Karena saat jam istirahat, seluruh sekolah seperti memiliki ritual khusus.

Menyambut kedatangan dua ratu SMA Nusantara.

Jenny dan Siska.

Kalau SMA adalah kerajaan, mereka berdua adalah bangsawan tertinggi.

Cantik.

Populer.

Punya puluhan ribu pengikut media sosial.

Dan yang paling penting...

Mereka saling membenci.

"Bener gak sih Jenny sama Dony kemarin jalan bareng?"

"Gue lihat fotonya."

"Katanya cuma bikin konten."

"Yaelah, bikin konten apaan pegangan tangan?"

Bisik-bisik langsung memenuhi kantin.

Jenny masuk dari sisi kiri.

Siska dari sisi kanan.

Keduanya berjalan seperti sedang mengikuti fashion show.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Senyum manis muncul.

Senyum yang lebih berbahaya daripada ancaman terbuka.

"Hi, Sis."

"Hi, Jen."

Lalu mereka lewat begitu saja.

Seolah tidak ada apa-apa.

Padahal semua orang tahu perang dingin mereka sudah berlangsung berbulan-bulan.

Penyebabnya?

Satu nama.

Dony.

Ketua OSIS.

Cowok paling populer di sekolah.

Tinggi.

Tampan.

Pintar.

Dan ironisnya, orang yang paling tidak peduli dengan popularitas.

Lihat selengkapnya