OPLAS Perubah Nasib

ahmadbarnash
Chapter #2

PESURUH CINTA

Pagi itu, Jupri bangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena rajin.

Bukan juga karena mendadak sadar pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa.

Alasannya jauh lebih sederhana.

Jenny mengirim pesan kepadanya semalam.

Langsung.

Bukan lewat grup kelas.

Bukan lewat teman.

Bukan lewat broadcast.

Langsung ke WhatsApp pribadinya.

Sejak menerima pesan itu, Jupri sudah membaca ulang isi chat tersebut mungkin tiga puluh kali.

Atau empat puluh.

Atau lima puluh.

Pokoknya cukup banyak sampai dirinya sendiri malu kalau harus mengakuinya.

Di meja makan, Mak Jupri sampai menatapnya curiga.

"Lu sakit ape gimane?"

Jupri yang sedang menyeruput teh manis hampir tersedak.

"Lah, kenape, Mak?"

"Biasanye jam segini masih ngobrol ame bantal."

"Itu bukan ngobrol, Mak."

"terus?"

"Itu diskusi masa depan."

Maknya mendengus.

"Diskusi ape lagi?"

"Ape hari ini aye perlu sekolah ape cukup ngirim wakil aje."

Sendok kayu langsung melayang.

Jupri tertawa sambil menghindar.

"Pecah pala aye nanti, Mak!"

"Makanye jangan ngaco melulu!"

Jupri buru-buru kabur sebelum kena lemparan kedua.


Di sekolah, Jupri baru saja meletakkan tas ketika seseorang muncul di depan kelas.

Jenny.

Seketika beberapa kepala menoleh.

Sama seperti biasanya.

Kalau Dony adalah pusat gravitasi siswa laki-laki, maka Jenny adalah pusat gravitasi media sosial sekolah.

"Jupri!"

Jupri langsung berdiri.

"Iye?"

Jenny tersenyum.

"Aku mau minta tolong."

Jantung Jupri otomatis berdebar lebih cepat.

"Tolong ape?"

"Aku belum sempat sarapan."

"Oh."

"Bisa beliin kopi sama roti nggak?"

"Oh."

Jenny masih tersenyum.

Jupri ikut tersenyum.

"Iye. Bisa."

Di belakangnya terdengar suara pulpen jatuh cukup keras.

Rena.

Pasti sengaja.

Tapi Jupri pura-pura tidak mendengar.

Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan kopi favorit Jenny dan roti isi keju.

Jenny menerimanya dengan senang.

"Makasih ya."

"Sama-sama."

"Nanti aku transfer."

"Kagak usah."

"Serius?"

"Iye."

Jenny tersenyum lagi sebelum pergi.

Jupri berdiri beberapa detik memperhatikan punggungnya.

Rena melipat tangan.

"Lo tau gak barusan apa yang terjadi?"

"Ape?"

"Lo jadi GoFood."

"Itu namanye perhatian."

"Itu namanya jasa antar."


Ternyata itu baru permulaan.

Hari berikutnya, Jenny meminta bantuan lagi.

Lalu lagi.

Dan lagi.

Kadang kopi.

Kadang minuman.

Kadang pegang tas.

Kadang mengambil paket.

Kadang membantu memindahkan properti untuk foto konten.

Jupri selalu mengiyakan.

Sementara itu, Siska juga mulai melakukan hal yang sama.

"Jupri, bisa fotoin gue?"

"Bisa."

Hasilnya?

Dua ratus foto.

Seratus sembilan puluh lima dihapus.

Lima sisanya masih dianggap kurang bagus.

Jupri tetap melayani tanpa protes.

Ketika selesai, Siska hanya berkata,

"Makasih."

Lalu pergi.

Selesai.

Rena yang melihat semuanya dari kejauhan hanya menggeleng.

"Parah."

"Apanye?"

"Lo dipake."

"Dih."

"Serius."

"Namanye perjuangan."

"Namanya dimanfaatin."

"Lo negatif amat dah."

Lihat selengkapnya