OPLAS Perubah Nasib

ahmadbarnash
Chapter #3

TRAGEDI AIR JAHAT

Ada banyak hal yang tidak dimengerti Jupri.

Rumus Kimia.

Pajak.

Kenapa harga kopi bisa lebih mahal daripada makan siang.

Dan satu hal lagi.

Kenapa orang mau capek-capek berantem cuma karena rebutan pacar.

Menurut Jupri, dunia sudah cukup rumit tanpa harus ditambah masalah begituan.

Sayangnya, Jenny dan Siska tidak sependapat.


Minggu itu seluruh sekolah sedang membicarakan satu hal.

Dony Firmansyah.

Lagi.

Tapi kali ini bukan karena dia ketua OSIS.

Bukan juga karena nilai akademiknya.

Melainkan karena sebuah foto.

Foto sederhana.

Dony dan Jenny sedang duduk berdampingan di sebuah kafe.

Hanya itu.

Tidak bergandengan tangan.

Tidak berpelukan.

Tidak melakukan apa pun yang istimewa.

Tapi internet tidak pernah membutuhkan alasan yang kuat.

Story Instagram Jenny langsung dibanjiri komentar.

Akun gosip sekolah mengunggah ulang.

Grup WhatsApp kelas heboh.

Bahkan guru-guru mulai membicarakannya diam-diam.

Bagi Jupri, foto itu biasa saja.

Tapi bagi Siska...

Itu perang.


Jam istirahat kedua.

Jupri sedang menikmati semangkuk bakso kantin ketika seseorang berdiri di depannya.

Siska.

Sendirian.

Itu sudah cukup aneh.

Biasanya Siska selalu dikelilingi teman-temannya.

"Jupri."

Mulut Jupri masih penuh bakso.

"Hm?"

"Bisa ikut gue bentar?"

"Ke mane?"

"Penting."

Jupri menelan baksonya.

Lalu melihat Rena yang duduk di sampingnya.

Rena langsung menggeleng.

Jelas-jelas menggeleng.

Jelas sekali.

Namun Jupri tetap berdiri.

"Ntar balik lagi."

"Gue tunggu ambulansnya aja sekalian?" sahut Rena datar.

"Aman."

"Justru itu yang bikin gue takut."


Belakang gedung laboratorium IPA selalu sepi.

Jarang ada siswa datang ke sana.

Tempat yang cocok untuk bicara rahasia.

Atau merencanakan sesuatu yang tidak baik.

Siska berdiri menyandar ke tembok.

Untuk pertama kalinya Jupri melihat wajahnya tanpa senyum kamera.

Tanpa filter.

Tanpa pencahayaan bagus.

Dan entah kenapa, itu terlihat lebih menyeramkan.

"Lo tau Jenny sama Dony jalan bareng?"

"Iye."

"Gimana menurut lo?"

Jupri berpikir.

"Mungkin mereka lagi laper."

Siska memejamkan mata.

Seperti sedang menahan emosi.

"Jupri."

"Iye?"

"Gue serius."

"Gue juga serius."

Siska menarik napas panjang.

Lalu tersenyum.

Senyum yang membuat Jupri tiba-tiba merasa tidak nyaman.


Selama beberapa menit berikutnya, Siska bercerita.

Tentang Jenny.

Tentang persaingan mereka.

Tentang bagaimana semua orang selalu membandingkan mereka.

Tentang bagaimana Jenny selalu berhasil mencuri perhatian.

Dan semakin lama Jupri mendengarkan...

Semakin jelas bahwa ini bukan lagi soal Dony.

Ini soal harga diri.

Soal ego.

Soal kalah dan menang.

Hal-hal yang tidak pernah dipikirkan Jupri.

Karena bagi Jupri, hidup sudah cukup berat tanpa harus menghitung siapa yang lebih populer.

Lalu Siska mengeluarkan sebuah botol kecil dari tasnya.

Botol plastik bening.

Tidak ada label.

Tidak ada tulisan.

Hanya cairan transparan di dalamnya.

Dan tiba-tiba...

Perut Jupri terasa tidak enak.

"Ape tuh?"

Siska memutar botol itu di tangannya.

"Cuma cairan."

"Cairan ape?"

Siska tersenyum lagi.

Kali ini lebih tipis.

Lebih dingin.

"Kalau wajah Jenny rusak..."

Suara Siska terdengar sangat tenang.

"Tidak akan ada yang membandingkan gue sama dia lagi."

Dunia seolah berhenti beberapa detik.

Jupri menatap botol itu.

Lalu menatap Siska.

Lalu kembali menatap botol itu.

Dia menunggu punchline.

Menunggu bagian lucunya.

Menunggu Siska tertawa dan bilang bahwa ini hanya bercanda.

Tapi itu tidak terjadi.

Siska serius.

Benar-benar serius.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...

Jupri merasa takut.

"Bantu gue."

Kalimat itu terdengar pelan.

Tapi cukup membuat bulu kuduk Jupri berdiri.

"Ape?"

"Bantu gue nyiram."

Lihat selengkapnya