OPLAS Perubah Nasib

ahmadbarnash
Chapter #4

Rumah Sakit

Hal pertama yang Jupri rasakan adalah bau.

Bukan bau kerak telor.

Bukan bau nasi uduk.

Bukan bau gorengan depan sekolah.

Melainkan bau antiseptik.

Bau yang bersih.

Terlalu bersih.

Bau rumah sakit.

Lalu rasa sakit datang.

Tidak sebesar sebelumnya.

Tapi masih cukup membuat seluruh tubuhnya terasa berat.

Sangat berat.

Jupri mencoba membuka mata.

Gelap.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali.

Tetap gelap.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

"Aye..."

Suara seraknya hampir tidak terdengar.

Panik mulai merayap naik.

Sampai terdengar suara seseorang di dekatnya.

"Jup?"

Rena.

Jupri langsung mengenali suara itu.

"Ren?"

"Iya."

"Kenape gelap?"

Hening sesaat.

Lalu suara Rena terdengar lebih pelan.

"Mata lo ketutup perban."

Jupri terdiam.

Baru saat itu ia sadar.

Seluruh bagian wajahnya terasa dibalut sesuatu.

Tebal.

Berlapis-lapis.

Seperti kepalanya sedang dibungkus.

"Oh."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Oh.

Karena otaknya belum sanggup memproses lebih jauh.


Beberapa menit kemudian dokter datang.

Jupri tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi suaranya terdengar tenang.

"Bagaimana rasanya?"

"Sakit, Dok."

"Itu normal."

"Nah syukur."

Dokter terdiam.

Rena memukul lengan Jupri.

"Apaan?"

"Dokternya lagi serius."

"Aye juga serius."

Dokter berdeham menahan senyum.

"Jupri, kamu mengalami luka bakar kimia yang cukup berat."

Ruangan langsung terasa lebih dingin.

"Kami sudah melakukan penanganan darurat."

"Kondisimu stabil."

"Tapi ada kerusakan pada sebagian wajah dan leher."

Jupri menelan ludah.

Tenggorokannya mendadak kering.

"Parah, Dok?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Dan terkadang...

Diam lebih menakutkan daripada jawaban.

"Cukup parah."

Jantung Jupri seperti jatuh.

Namun dokter melanjutkan.

"Tapi kamu selamat."

Kalimat itu membuat Rena yang sejak tadi diam akhirnya mengembuskan napas panjang.

Seolah baru sekarang ia berani bernapas.


Setelah dokter pergi, ruangan kembali sunyi.

Hanya terdengar bunyi mesin monitor.

Bip.

Bip.

Bip.

Ritme yang anehnya menenangkan.

Jupri memiringkan kepala sedikit.

"Ren."

"Hm?"

"Lo masih di situ?"

"Iya."

"Ngapain?"

Rena langsung mendengus.

"Jagain kucing."

"Oh."

"Jupri."

"Iye?"

"Gue begadang dua malam."

Jupri terdiam.

"Lah."

"Gue kagak pulang kemarin."

"Lah."

"Mak gue nyuruh mandi di rumah dulu baru balik lagi."

"Lah."

"Lo cuma bisa bilang lah?"

"Aye kaget."

Untuk pertama kalinya sejak sadar, Jupri mendengar suara tawa kecil.

Tawa Rena.

Pendek.

Tapi ada.

Dan entah kenapa itu membuat ruangan terasa sedikit lebih hangat.


Lihat selengkapnya