OPLAS Perubah Nasib

ahmadbarnash
Chapter #5

Jefry

Tidak ada yang siap.

Termasuk Jupri sendiri.


Tiga bulan berlalu.

Tiga bulan operasi.

Tiga bulan terapi.

Tiga bulan pemulihan.

Tiga bulan belajar menerima wajah yang muncul di cermin setiap pagi.

Wajah yang terasa asing.

Wajah yang tidak pernah ia minta.

Namun kini menjadi miliknya.

Hari itu mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang SMA Harapan Bangsa.

Jupri menatap bangunan sekolah dari balik kaca mobil.

Masih sama.

Gerbang yang sama.

Lapangan yang sama.

Satpam yang sama.

Tapi dirinya sudah berbeda.

Sangat berbeda.

"Aman?" tanya Kak Dira dari kursi depan.

Kakak Rena yang selama beberapa bulan terakhir menjadi penghubung antara Jupri dan perusahaan kosmetik Korea.

Jupri mengangguk.

"Kagak."

Kak Dira tertawa.

"Jujur amat."

"Aye takut."

"Normal."

"Aye lebih takut masuk sekolah daripada masuk ruang operasi."

"Itu juga normal."

Jupri menghela napas panjang.

Lalu membuka pintu mobil.


Tiga detik kemudian...

Sekolah gempar.

Awalnya hanya beberapa siswi yang melihatnya.

Lalu mereka berbisik.

Lalu menunjuk.

Lalu memanggil teman-temannya.

Dan dalam waktu kurang dari satu menit...

Separuh koridor sekolah sudah menoleh ke arah Jupri.

Atau tepatnya...

Ke arah wajah baru Jupri.

Rahang tegas.

Kulit bersih.

Hidung proporsional.

Mata tajam.

Semua hasil operasi dan pemulihan berbulan-bulan.

Bahkan Jupri sendiri kadang masih kaget melihat pantulannya.

"Siapa tuh?"

"Anak baru?"

"Gila ganteng banget."

"Kelas berapa?"

"Model ya?"

Bisik-bisik bermunculan dari segala arah.

Jupri langsung salah tingkah.

"Buset dah."

Ia refleks menggaruk kepala.

Kesalahan besar.

Karena gerakan itu justru membuat beberapa siswi semakin heboh.

"Gemes banget!"

"Ya ampun!"

Jupri makin bingung.

"Aye ngapain?"


Saat memasuki kelas XI IPS 2...

Situasinya jauh lebih buruk.

Atau lebih tepatnya...

Lebih kacau.

Ruangan mendadak hening.

Semua orang menoleh.

Termasuk Pak Hendra yang sedang menulis di papan tulis.

Hening berlangsung hampir lima detik.

Lalu Pak Hendra berdeham.

"Kamu siapa?"

Pertanyaan wajar.

Sangat wajar.

Karena tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang mengenali Jupri.

Bahkan Rena yang duduk di bangku belakang sempat terpaku beberapa detik.

Meski sebenarnya dia sudah melihat hasil operasi melalui video call.

Tetap saja.

Melihat langsung berbeda.

Jupri menelan ludah.

Lalu mengangkat tangan.

"Aye Jupri, Pak."

Lihat selengkapnya