Jika ada satu hal yang dipelajari Jupri selama tiga bulan terakhir, itu adalah kenyataan bahwa hidup bisa berubah sangat cepat.
Terlalu cepat.
Dulu ia harus berteriak tiga kali supaya penjaga kantin sadar dirinya sedang antre.
Sekarang?
Kasir minimarket tersenyum duluan.
Dulu tidak ada yang peduli saat ia lewat koridor.
Sekarang?
Banyak yang pura-pura tidak melihat sambil diam-diam melihat.
Dan jujur saja...
Aye kagak siap buat beginian.
Dua minggu setelah kembali ke sekolah, Jupri dipanggil ke kantor perusahaan kosmetik yang membiayai operasinya.
Gedungnya tinggi.
Dingin.
Banyak kaca.
Dan semua orang terlihat mahal.
Jupri merasa seperti kerak telor yang nyasar ke restoran bintang lima.
Di ruang rapat, sudah ada Kak Dira dan beberapa orang dari tim pemasaran.
Salah satu pria berjas membuka presentasi.
"Jupri, kami ingin menjadikanmu brand ambassador."
Jupri berkedip.
"Ape?"
"Brand ambassador."
"Ape tuh?"
Semua orang saling berpandangan.
Kak Dira akhirnya menjelaskan.
"Itu kayak wajah promosi perusahaan."
"Oh."
Jupri mengangguk.
Dua detik kemudian bertanya lagi.
"Kenape aye?"
Karena menurutnya itu pertanyaan paling masuk akal.
Pria berjas tersenyum.
"Karena cerita transformasimu sangat kuat."
"Kamu inspiratif."
"Kamu menarik."
"Kamu punya image yang bagus."
Jupri menoleh ke Kak Dira.
"Dia lagi ngomongin aye?"
Kak Dira tertawa.
"Iya."
"Aneh amat."
Seminggu kemudian hidup Jupri berubah lagi.
Kali ini lebih parah.
Jadwalnya mendadak penuh.
Sekolah.
Pemotretan.
Wawancara.
Latihan berjalan.
Media training.
Konten media sosial.
Dan berbagai hal yang bahkan belum pernah ia dengar sebelumnya.
Yang paling menyiksa adalah pemotretan.
Karena fotografer selalu meminta hal yang sama.
"Cool sedikit."
Jupri mencoba.
"Gitu?"
"Kurang."
Jupri mencoba lagi.
"Gini?"
"Masih kurang."
Jupri mencoba lagi.
Kali ini lebih serius.
Fotografer menghela napas.
"Kamu lagi sembelit?"
"Ape?"
Seluruh studio tertawa.
Masalah berikutnya adalah pakaian.
Selama hidupnya, Jupri tidak pernah terlalu memikirkan merek.
Baginya kaos adalah kaos.
Celana adalah celana.
Selesai.
Namun dunia baru ini berbeda.
Suatu hari stylist memberinya jaket.