OPLAS Perubah Nasib

Ahmad Barnash
Chapter #7

Semua Mau

Ada satu hal yang tidak pernah dipikirkan Jupri sebelumnya.

Ternyata menjadi ganteng itu capek.

Bukan capek karena harus olahraga.

Bukan capek karena harus pakai skincare yang jumlah langkahnya lebih banyak daripada prosedur peluncuran roket.

Tapi capek karena tiba-tiba semua orang memperhatikan.

Dan lebih capek lagi karena Jupri mulai menyukai perhatian itu.


Pagi itu, begitu Jupri memasuki gerbang sekolah, beberapa siswi langsung berbisik-bisik.

Ada yang pura-pura melihat ponsel.

Ada yang diam-diam mengambil foto.

Ada yang terang-terangan melambaikan tangan.

"Morning, Jefry!"

Jupri refleks menoleh.

Butuh beberapa detik sebelum dia sadar bahwa yang dipanggil adalah dirinya.

"Oh... iya. Pagi."

Siswi itu tersenyum lebar.

Teman-temannya ikut cekikikan.

Jupri melanjutkan langkah sambil berusaha terlihat santai.

Padahal di dalam hati, ada sesuatu yang terasa aneh.

Menyenangkan.

Sekaligus menakutkan.

Dulu tidak ada yang menyapa.

Sekarang terlalu banyak yang menyapa.

Dulu dia seperti hantu.

Sekarang dia seperti lampu diskon yang dipajang di depan toko.

Semua orang melihat.


Di kelas, keadaan bahkan lebih parah.

Saat Jupri duduk, seorang siswi dari kelas sebelah muncul di pintu.

"Permisi..."

Pak Hendra yang sedang mengajar menoleh.

"Iya?"

"Saya mau kasih ini."

Dia berjalan masuk.

Lalu meletakkan sekotak cokelat kecil di meja Jupri.

Satu kelas langsung ribut.

"WOOOOOO!"

"AZEK!"

"JEFRY NIH BOS!"

Jupri hampir tersedak udara.

"Cuma... cuma cokelat..."

Siswi itu buru-buru kabur.

Pak Hendra menghela napas panjang.

"Saya tidak tahu sejak kapan kelas Ekonomi berubah jadi acara pencarian jodoh."

Satu kelas tertawa.

Sementara Jupri menatap kotak cokelat itu seperti sedang melihat artefak alien.

Dulu...

Tidak ada yang memberinya cokelat.

Jangankan cokelat.

Pinjam pulpen saja orang mikir dua kali.


Saat istirahat, Jenny langsung muncul.

"Jefry."

Jupri menoleh.

Jenny tersenyum.

Senyum yang dulu selalu membuatnya gugup.

Anehnya, sekarang tidak terlalu.

Mungkin karena sekarang Jenny yang lebih sering mendekat.

"Mau makan bareng?"

Jupri belum sempat menjawab.

Siska muncul dari belakang.

"Maaf ya, Jen. Aku udah ngajak duluan."

Jenny tersenyum.

Siska juga tersenyum.

Keduanya terlihat ramah.

Tapi suasana di sekitar mereka terasa seperti medan perang.

Jupri melihat ke kanan.

Lalu ke kiri.

Lalu ke kanan lagi.

"Aduh..."

"Apa?" tanya Jenny.

"Apa?" tanya Siska.

Jupri menggaruk kepala.

"Gue cuma mau makan bakso."

Hening.

Beberapa detik kemudian Jenny tertawa.

Siska ikut tertawa.

Padahal Jupri benar-benar cuma mau makan bakso.


Beberapa hari berikutnya berjalan seperti mimpi.

Atau lebih tepatnya...

Seperti sinetron.

Ada yang mengirim pesan selamat pagi.

Ada yang mengirim foto makanan.

Ada yang mengirim selfie tanpa diminta.

Bahkan ada yang menulis:

Lihat selengkapnya