OPLAS Perubah Nasib

Ahmad Barnash
Chapter #8

Harta Karun

Ada dua jenis teman lama.

Yang pertama adalah teman yang menyimpan kenangan.

Yang kedua adalah teman yang menyimpan bahan konten.

Dan Jupri baru saja menemukan bahwa jumlah teman jenis kedua ternyata jauh lebih banyak dari yang ia kira.

Masalah dimulai pada hari Selasa pagi.

Saat itu Jupri sedang duduk di kelas sambil mengantuk.

Semalam ia pulang hampir jam sepuluh karena pemotretan.

Pagi-pagi sudah harus masuk sekolah lagi.

Hidup sebagai Jefry ternyata tidak memberi bonus waktu tidur.

"Jef."

Aldi menyenggol bahunya.

"Hm?"

"Lo udah liat belum?"

"Liat apaan?"

Aldi langsung menyodorkan ponselnya.

Sebuah video TikTok sedang diputar.

Awalnya Jupri tidak mengerti.

Lalu ia melihat wajah dalam video itu.

Dan hampir tersedak.

"Itu gue!"

"Yoi."

Video tersebut menampilkan Jupri kelas sepuluh.

Masih tonggos.

Masih bertompel.

Masih dengan rambut yang bentuknya seperti habis kalah perang melawan sisir.

Dalam video itu ia sedang makan bakso.

Lalu terlalu semangat meniup kuah panas.

Baksonya mental.

Kuahnya muncrat.

Dan satu kelas tertawa.

Termasuk Jupri versi masa lalu.

Di atas video tertulis:

"POV: Temen lu dulu dibully, sekarang jadi seleb sekolah."

Jumlah views:

1,8 juta.

Jupri berkedip.

Dua kali.

Tiga kali.

"Lah?"

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Saat istirahat pertama.

Video kedua muncul.

Lalu video ketiga.

Lalu foto.

Lalu foto lain.

Lalu video lain lagi.

Semuanya tentang Jupri.

Atau lebih tepatnya...

Tentang Jupri sebelum operasi.

Ada video saat ia jatuh ke selokan karena berusaha meniru gaya Dony.

Ada foto saat rambutnya dicukur gagal oleh pamannya.

Ada rekaman ketika ia menyanyi dangdut saat acara tujuhbelasan lalu lupa lirik dan mengarang sendiri.

Ada foto ketika ia ketiduran di kelas dengan mulut terbuka.

Ada video ketika ia dihukum guru olahraga karena salah memakai celana.

Semua muncul.

Satu per satu.

Seolah seluruh internet sedang menggali fosil kehidupannya.

Siang harinya.

Nama Jefry kembali trending.

Namun kali ini bukan karena wajahnya.

Melainkan karena masa lalunya.

Komentar-komentar berdatangan.

"Glow up tersukses."

"Ini orang beneran?"

"Dokternya siapa?"

"Operasi plastik emang ajaib."

"Kasian dulu jelek banget."

"Untung sekarang ganteng."

Kasian dulu jelek banget.

Kalimat itu terus berputar di kepala Jupri.

Kasian dulu.

Kasian dulu.

Kasian dulu.

Padahal dulu...

Dia masih orang yang sama.

Saat pulang sekolah.

Jupri membuka akun media sosialnya.

Notifikasi menumpuk.

Ribuan.

Puluhan ribu.

Bahkan beberapa akun besar mulai membuat kompilasi transformasinya.

Foto lama.

Foto baru.

Foto lama.

Foto baru.

Foto lama.

Foto baru.

Seperti permainan sebelum dan sesudah.

Seperti wajah lamanya adalah penyakit yang berhasil disembuhkan.

Jupri menatap layar cukup lama.

Lalu mematikannya.

Entah kenapa.

Dadanya terasa sesak.

Malamnya.

Agensi menghubunginya.

"Ini bagus."

"Bagus?"

"Bagus sekali."

Manager terdengar bersemangat.

"Narasi transformasi selalu laku."

Lihat selengkapnya