OPLAS Perubah Nasib

Ahmad Barnash
Chapter #10

Fan Meeting

Ada batas seberapa lama seseorang bisa berpura-pura menjadi orang lain.

Dan bagi Jupri...

Batas itu ternyata berada di sebuah mal.

Di atas panggung.

Di depan ratusan orang.


Fanmeeting pertama Jefry dijadwalkan pada hari Sabtu.

Lokasinya di atrium sebuah mal besar di Jakarta Selatan.

Sejak pagi area itu sudah dipenuhi pengunjung.

Banner raksasa tergantung di lantai tiga.

Foto wajah Jefry terpampang di mana-mana.

Senyumnya.

Rahangnya.

Matanya.

Versi sempurna dirinya.

Versi yang bahkan mulai tidak dikenali oleh Jupri sendiri.


"Kita target seribu pengunjung."

kata manager dengan penuh semangat.

"Penuh, Bang."

jawab salah satu staf.

"Bagus."

"Meriah banget."

"Bagus."

"Ada media juga."

"Bagus."

Jupri duduk di ruang tunggu.

Tidak ikut bicara.

Hanya memandangi photocard yang sedang dibagikan panitia.

Di photocard itu ada wajahnya.

Tetapi nama yang tertulis bukan Jupri.

Jefry.


"Jef."

Manager menepuk bahunya.

"Nanti senyum terus ya."

"Oh."

"Kalau ditanya soal transformasi jawab sesuai briefing."

"Oh."

"Jangan improvisasi."

"Oh."

"Jangan ngomong logat terlalu kental."

"Oh."

Manager mengangguk puas.

"Good."

Jupri tersenyum tipis.

Dalam hati ia mulai menghitung.

Sudah berapa kali hari ini dirinya mengatakan "oh".


Di luar.

Fan mulai berdatangan.

Ada yang membawa lightstick.

Ada yang membawa poster.

Ada yang membawa bunga.

Ada yang menangis hanya karena melihat foto besar dirinya.

Jupri mengintip dari balik tirai.

Dan jujur saja.

Pemandangan itu membuatnya takut.

Karena ia tidak mengerti.

Apa yang sebenarnya mereka sukai.

Dirinya?

Atau wajahnya?


Tepat pukul dua siang.

Acara dimulai.

Lampu menyala.

Musik diputar.

MC muncul.

Kerumunan berteriak.

"JEFRYYYYYYY!"

Suara itu menggema memenuhi atrium.

Jupri menarik napas panjang.

Lalu berjalan naik ke atas panggung.


Jeritan semakin keras.

Puluhan ponsel langsung terangkat.

Ratusan kamera merekam.

Beberapa penggemar bahkan menangis.

Sungguh menangis.

Jupri tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Jadi ia hanya melambaikan tangan.

Dan tersenyum.

Seperti yang diajarkan.


Acara berlangsung lancar.

Awalnya.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul.

Semua sudah dipersiapkan.

Semua aman.

"Bagaimana rasanya menjadi inspirasi banyak orang?"

"Luar biasa."

"Tetap rendah hati ya kak."

"Iya."

"Pesan untuk para fans?"

"Terima kasih."

Tepuk tangan.

Sorakan.

Semuanya berjalan sesuai rencana.


Sampai sebuah poster menarik perhatiannya.

Di barisan depan.

Seorang penggemar membawa kolase besar.

Foto Jupri sebelum operasi.

Dan sesudah operasi.

Di bawahnya tertulis:

FROM UGLY TO PERFECT

Dari jelek menjadi sempurna.


Jupri membeku.

Lihat selengkapnya